Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
The War That Saved My Life (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Perang biasanya identik dengan kehancuran, kehilangan, dan ketakutan. Namun, bagaimana jika sebuah perang justru menjadi jalan keluar bagi seorang anak dari kehidupan yang jauh lebih mengerikan? Pertanyaan itulah yang terasa kuat dalam novel The War That Saved My Life karya Kimberly Brubaker Bradley.

Novel yange memenangkan John Newbery Medal pada 2016 dan Golden Kite Award for Middle Grade Fiction pada 2018 ini menghadirkan kisah Ada Smith, anak perempuan berusia sepuluh tahun yang hidup dalam keterbatasan di London menjelang Perang Dunia II. Edisi terjemahan Indonesia diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada 29 Juni 2022.

Sinopsis Buku

Ada bukan hanya hidup dalam kemiskinan. Ia juga menjadi korban kekejaman ibunya sendiri. Sejak lahir, Ada memiliki kaki pekuk atau clubfoot. Kondisi tersebut membuat ibunya merasa malu dan menganggap Ada sebagai aib keluarga. Karena itu, Ada hampir tidak pernah diperbolehkan keluar rumah. Dunia yang dikenalnya hanya ruangan sempit dan lembap tempat ia tinggal. Lebih menyedihkan lagi, ketika melakukan kesalahan, Ada bisa dihukum dengan dikurung di dalam lemari. Ia tidak memperoleh pendidikan, tidak mengenal dunia luar, bahkan tidak memahami berbagai hal sederhana yang bagi anak-anak seusianya merupakan sesuatu yang biasa.

Namun, keadaan berubah pada 1939 ketika Perang Dunia II mulai mengancam London. Pemerintah Inggris melakukan evakuasi anak-anak dari kota menuju wilayah pedesaan untuk menghindari serangan bom Jerman. Bagi anak-anak lain, evakuasi mungkin terasa seperti perpisahan yang menakutkan. Bagi Ada, kesempatan tersebut justru menjadi jalan menuju kebebasan.

Masalahnya, Ada belum bisa berjalan. Selama bertahun-tahun ia tidak memiliki kesempatan untuk menggunakan kakinya secara normal. Namun, keinginannya untuk menyelamatkan diri dan tetap bersama adiknya, Jamie, membuat Ada belajar berjalan dengan susah payah. Langkah demi langkah menjadi simbol perjuangannya keluar dari kehidupan yang selama ini membelenggunya.

Setelah berhasil melarikan diri dari London, Ada dan Jamie ditempatkan di rumah Susan Smith di Kent. Susan awalnya mengaku bukan orang yang baik. Namun, justru melalui perempuan inilah Ada perlahan mengenal kehidupan yang selama ini tidak pernah ia miliki: makanan yang cukup, pakaian yang layak, pendidikan, kasih sayang, serta kesempatan untuk mengenal dunia.

Ada juga menemukan Butter, seekor kuda poni yang kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Keinginannya untuk menunggangi Butter menjadi salah satu simbol keberanian. Ia yang sebelumnya bahkan kesulitan berjalan mulai memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang lebih besar. Namun, perubahan dalam diri Ada tidak terjadi secara instan. Inilah salah satu kekuatan novel Bradley. Ada tidak tiba-tiba melupakan semua pengalaman buruknya hanya karena mendapatkan rumah baru. Ia masih membawa trauma, ketakutan, kemarahan, dan kesulitan mempercayai orang lain.

Bahkan, kebaikan Susan pada awalnya justru membuat Ada bingung. Ia tidak terbiasa diperlakukan dengan lembut. Ketika seseorang memberinya makanan atau pakaian, Ada tidak langsung percaya bahwa semua itu diberikan tanpa syarat. Pengalaman masa lalunya membuat kebaikan terasa asing.

Kelebihan dan Kekurangan

Kalimat sederhana Ada setelah merayakan ulang tahun pertamanya menggambarkan pergulatan tersebut. Ia memiliki begitu banyak hal, tetapi justru merasa sedih. Kebahagiaan baru membuatnya menyadari betapa banyak hal yang selama ini tidak pernah ia miliki.

Latar Perang Dunia II juga membuat cerita semakin kuat. Ancaman bom, evakuasi, kekurangan, dan ketidakpastian terus membayangi kehidupan Ada dan Jamie. Namun, perang bukan satu-satunya ancaman. Masa lalu Ada, luka akibat perlakuan ibunya, dan ketakutannya terhadap kehilangan kembali menjadi persoalan besar.

Novel ini pada akhirnya bukan hanya cerita perang. Ini adalah cerita tentang seorang anak yang berusaha merebut kembali hidupnya. Ada adalah korban perang sekaligus korban kekerasan dalam keluarga. Namun, ia tidak selamanya menjadi korban.

Menurut saya, The War That Saved My Life menarik karena menunjukkan bahwa proses penyembuhan membutuhkan waktu. Kasih sayang tidak serta-merta menghapus trauma. Kebebasan tidak otomatis membuat seseorang merasa aman. Ada harus belajar sedikit demi sedikit bahwa dirinya berharga dan pantas dicintai.

Ironisnya, perang yang seharusnya menghancurkan kehidupan justru membuka pintu bagi Ada untuk mengenal kehidupan yang sebenarnya. Dari sebuah kamar sempit di London menuju pedesaan Kent, perjalanan Ada menjadi perjalanan dari ketakutan menuju keberanian.

Perang tetap membawa kehancuran. Namun, bagi Ada, situasi tersebut secara tidak terduga memberinya kesempatan untuk keluar dari belenggu yang selama ini mengurungnya. Kisah Ada mengingatkan bahwa rumah bukan sekadar tempat seseorang tinggal. Rumah adalah tempat seseorang merasa aman, diterima, dan dicintai. Dan terkadang, untuk menemukan rumah yang sesungguhnya, seseorang harus terlebih dahulu berani meninggalkan tempat yang selama ini disebut rumah.

Identitas Buku

  • Judul: The War That Saved My Life
  • Penulis: Kimberly Brubaker Bradley
  • Penerjemah: Maicel Andrea
  • Penerbit: Elex Media Komputindo
  • Tanggal Terbit: 29 Juni 2022
  • Tebal: 252 halaman
  • ISBN: 9786230033414
  • Kategori: Drama dan Sastra Anak