Demokrasi selalu berbicara tentang rakyat. Namun, persoalannya bukan sekadar siapa yang paling sering mengucapkan kata “rakyat”, melainkan siapa yang benar-benar diberi ruang untuk menentukan arah kehidupan bersama. Ketika istilah rakyat digunakan untuk membenarkan segala keputusan politik, demokrasi justru dapat bergerak menuju arah yang berlawanan dengan nilai-nilai yang seharusnya dijaganya.
Persoalan inilah yang menjadi perhatian Pius Pandor, CP, dalam bukunya Pembusukan Demokrasi: Representasi Populis dan Implikasinya bagi Demokrasi dalam Filsafat Politik Nadia Urbinati. Terbit pada Oktober 2024 dengan ketebalan 374 halaman, buku ini membedah strategi politik populisme sekaligus mengkaji pemikiran filsuf politik Italia, Nadia Urbinati, mengenai batas-batas populisme dan bahayanya terhadap demokrasi.
Isi Buku
Salah satu gagasan penting buku ini adalah mengenai arti penting perwakilan politik. Dalam demokrasi perwakilan, rakyat memang menyerahkan sebagian kewenangan politik kepada wakil yang dipilih melalui mekanisme demokratis. Namun, perwakilan bukan sekadar pekerjaan menyampaikan keinginan rakyat. Ia juga memiliki fungsi kritis.
Tanpa mekanisme perwakilan dan dialog, kehendak rakyat berisiko direduksi menjadi luapan emosi, kepentingan sesaat, atau keinginan kelompok mayoritas. Para wakil seharusnya tidak sekadar menjadi pengeras suara rakyat, tetapi juga membantu mengolah berbagai kepentingan menjadi keputusan yang lebih rasional dan mempertimbangkan kepentingan bersama.
Persoalannya, perkembangan teknologi membuat partisipasi politik langsung semakin mudah. Media sosial memungkinkan jutaan orang menyampaikan pendapat dalam hitungan detik. Tetapi banyaknya suara tidak otomatis menghasilkan dialog politik yang berkualitas. Persoalan politik yang kompleks membutuhkan refleksi, pertukaran argumen, pengetahuan, dan kemampuan melihat kepentingan kelompok lain.
Di sinilah representasi populis menjadi problematis. Populisme cenderung membangun dikotomi sederhana: rakyat versus elite. Rakyat diposisikan sebagai kelompok yang murni dan benar, sementara elite digambarkan sebagai sumber korupsi dan berbagai persoalan. Politik akhirnya tidak lagi menjadi ruang untuk mempertemukan perbedaan, tetapi arena untuk menentukan siapa yang dianggap berada di pihak “rakyat” dan siapa yang dianggap sebagai musuh rakyat.
Menurut buku ini, kondisi tersebut dapat memperuncing perpecahan sosial. Institusi demokrasi, termasuk lembaga hukum, dapat mengalami tekanan ketika harus menghadapi kekuatan politik yang mengklaim memiliki legitimasi langsung dari rakyat.
Pandor menawarkan sejumlah argumen penting untuk merespons perkembangan populisme. Salah satunya adalah pentingnya pendidikan politik yang bermutu. Demokrasi tidak cukup hanya menyediakan pemilu dan kebebasan memilih. Rakyat juga perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, inklusif, dan plural. Pendidikan politik menentukan kualitas warga negara sekaligus kualitas orang-orang yang kelak menjadi wakil dan pemimpin politik.
Buku ini juga mengingatkan bahwa kedaulatan rakyat tidak berarti kekuasaan boleh dijalankan tanpa batas. Dalam demokrasi yang sehat, kekuasaan seharusnya berada dalam proses deliberatif yang terbuka, rasional, dan dapat dipertanggungjawabkan. Populisme justru dapat membalik logika tersebut: seorang pemimpin mengklaim dirinya sebagai “pengabdi rakyat”, lalu menggunakan klaim itu untuk memusatkan kekuasaan.
Bahaya lainnya adalah tirani mayoritas. Ketika “rakyat” disamakan dengan mayoritas, kelompok minoritas (baik berdasarkan etnis, agama, ras, maupun identitas sosial lainnya) berpotensi kehilangan perlindungan politik. Demokrasi akhirnya hanya menjadi pemerintahan berdasarkan jumlah, bukan sistem yang menjamin kebebasan dan kesetaraan setiap warga negara.
Kelebihan dan Kekurangan
Melalui perspektif Nadia Urbinati, Pandor menunjukkan bahwa populisme memang memiliki dilema. Ia dapat mengartikulasikan ketidakpuasan rakyat dan mendorong perubahan, tetapi pada saat yang sama dapat dimanfaatkan untuk melemahkan institusi demokrasi dan membuka jalan bagi kekuasaan yang semakin personal.
Karena itu, Pembusukan Demokrasi bukan sekadar buku filsafat politik. Ia merupakan ajakan untuk lebih kritis terhadap politik yang terlalu mudah menggunakan nama rakyat. Demokrasi membutuhkan kebebasan, pluralisme, kesamaan, sekaligus institusi yang mampu membatasi kekuasaan.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan lagi siapa yang paling mengaku mewakili rakyat, melainkan apakah kekuasaan yang mengatasnamakan rakyat masih dapat dikritik, diawasi, dan dipertanggungjawabkan? Sebab ketika kritik dianggap sebagai pengkhianatan dan perbedaan dianggap sebagai ancaman, demokrasi mungkin masih memiliki pemilu, tetapi perlahan kehilangan rohnya.
Identitas Buku
- Judul: Pembusukan Demokrasi: Representasi Populis dan Implikasinya bagi Demokrasi dalam Filsafat Politik Nadia Urbinati
- Penulis: Pius Pandor, CP
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tanggal Terbit: 30 Oktober 2024
- Tebal: 374 halaman
- ISBN: 978-602-06-7986-0
- Kategori: Filsafat / Politik
Baca Juga
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
-
Uang Jadi Tolak Ukur Memperlakukan Manusia di Buku Crazy Rich Asians
-
Meneladani Spirit Pemimpi di Negeri Orang dalam Buku Lost in the USA
-
Indonesia Tak Cukup Mencetak Insinyur, Kita Harus Membangun Industrinya
-
Ancaman Krisis Pangan 2027, tapi MBG Berisiko Membuang Jutaan Ton Makanan?
Artikel Terkait
-
Menguak Andil Manusia, Benarkah Kepunahan Keenam akan Segera Tiba?
-
Memahami Perbedaan Buku Nikah, Akta Nikah, dan Kartu Nikah
-
Laut Bercerita dan Ingatan yang Belum Selesai
-
Review Buku Hidden Figures: Saat Kecerdasan Tidak Mengenal Ras dan Gender
-
Refleksi Mariposa 2: Belajar Mengerti Komitmen & Kedewasaan dalam Asmara
Ulasan
-
Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik
-
Ulasan Let Me Be Your Knight: Mengurai Burnout dan Sisi Rapuh Idol K-Pop
-
Uang Jadi Tolak Ukur Memperlakukan Manusia di Buku Crazy Rich Asians
-
Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled
-
Malaikat Maut Juga Bisa Galau? Sisi Lain Kematian di Novel Setelah Melompat Aku Ingin Hidup
Terkini
-
Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?
-
5 Exfoliating Toner Lokal yang Affordable dan Ramah untuk Kulit Sensitif
-
Jangan Lewatkan! ENHYPEN Rilis Jadwal Teaser Single The Sin: Parallel World