Budi Pekerti merupakan film drama Indonesia yang hadir pada 2023 dengan Wregas Bhanuteja sebagai sosok di balik penulisan sekaligus penyutradaraannya. Ceritanya diperkuat oleh penampilan Sha Ine Febriyanti, Dwi Sasono, Angga Yunanda, dan Prilly Latuconsina. Film ini menghadirkan persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat masa kini, yaitu bagaimana sebuah potongan video di media sosial dapat mengubah pandangan publik terhadap seseorang dalam waktu singkat. Film ini juga dapat disaksikan melalui Netflix.
Ketika Perselisihan Kecil Menjadi Masalah Besar
Cerita berpusat pada Prani Siswoyo (Sha Ine Febriyanti), seorang guru Bimbingan Konseling di Yogyakarta. Kehidupannya yang semula berjalan normal mendadak berubah setelah sebuah insiden di pasar selama masa pandemi COVID-19 tersebar luas di internet.
Prani terlibat cekcok dengan seorang pengunjung pasar akibat persoalan antrean. Ia sebenarnya berusaha menegur orang tersebut karena dianggap mengambil posisi yang bukan haknya. Namun, kejadian itu direkam oleh seseorang tanpa sepengetahuannya. Rekaman tersebut kemudian dipotong sehingga konteks peristiwa menjadi hilang. Hasil akhirnya membuat Prani terlihat seperti orang yang sedang meledak-ledak dan bersikap kasar.
Potongan video itu kemudian menyebar dengan cepat. Warganet yang hanya mengetahui sebagian kecil kejadian langsung memberikan penilaian terhadap Prani. Statusnya sebagai seorang guru justru membuat persoalan semakin rumit karena publik menganggap perilakunya tidak pantas ditunjukkan oleh seorang pendidik.
Masalah Prani tidak berhenti pada komentar negatif di media sosial. Suami dan kedua anaknya turut merasakan tekanan akibat kontroversi tersebut. Didit Wibowo (Dwi Sasono), Tita Sulastri (Prilly Latuconsina), dan Muklas “Animalia” Waseso (Angga Yunanda) harus menghadapi konsekuensi dari popularitas buruk yang muncul secara tiba-tiba.
Situasi semakin pelik karena Prani sedang memiliki peluang untuk menjadi wakil kepala sekolah. Pihak sekolah dan yayasan mulai mempertanyakan kelayakannya akibat kontroversi yang dianggap dapat memengaruhi citra institusi. Sementara itu, usaha keluarga untuk memberikan klarifikasi justru tidak selalu menghasilkan keadaan yang lebih baik. Setiap langkah yang mereka lakukan berpotensi kembali disalahartikan oleh pengguna internet.
Film juga menampilkan sejumlah karakter lain seperti Anggoro Sambudi Putra atau Gora (Omara Esteghlal) dan Tunas Anuraga (Ari Lesmana), yang turut memperkaya dinamika cerita.
Pelajaran tentang Etika di Ruang Digital
Selama menyaksikan Budi Pekerti, saya cukup sering merasa frustrasi melihat apa yang dialami para tokohnya, terutama Prani. Ada perasaan tidak berdaya ketika melihat seseorang mendapatkan hukuman sosial atas kejadian yang sebenarnya tidak diketahui publik secara lengkap.
Salah satu aspek yang paling saya sukai adalah akting para pemainnya. Ekspresi wajah mereka terasa kuat dalam menyampaikan emosi, bahkan ketika dialog tidak terlalu banyak. Kecemasan, kemarahan, kebingungan, rasa malu, hingga kelelahan yang dialami keluarga Prani dapat terasa melalui gestur dan raut wajah para pemeran.
Menurut saya, kekuatan utama film ini terletak pada kritiknya terhadap cancel culture dan cyberbullying. Budi Pekerti menunjukkan betapa mudahnya seseorang dijadikan sasaran kemarahan publik hanya berdasarkan informasi yang belum tentu lengkap.
Film ini mengingatkan kita untuk tidak langsung bereaksi ketika menemukan sesuatu yang sedang viral. Sebelum membagikan atau memberikan komentar, penting untuk mencari konteks dan mempertimbangkan sudut pandang lain. Hujatan di internet bukan sekadar kata-kata karena dampaknya dapat memengaruhi kehidupan pribadi, pekerjaan, dan kondisi psikologis seseorang.
Pada akhirnya, budi pekerti tidak hanya dibutuhkan ketika berhadapan langsung dengan orang lain. Sikap tersebut juga harus diterapkan ketika berada di ruang digital. Kesadaran diri, empati, dan kemampuan menahan diri menjadi hal penting agar kita tidak ikut memperbesar perundungan terhadap seseorang.
Budi Pekerti berhasil menghadirkan cerita yang relevan dengan kebiasaan masyarakat di era media sosial. Film ini bukan hanya tentang seorang guru yang terseret kontroversi, tetapi juga tentang konsekuensi ketika manusia terbiasa mengambil kesimpulan sebelum memahami keseluruhan persoalan.
Dengan akting yang kuat, emosi yang terasa dekat, dan isu sosial yang relevan, film ini memberikan pengalaman menonton yang cukup mengusik pikiran. Bagi saya, Budi Pekerti layak mendapatkan 7,5/10 karena mampu mengajak penonton lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah menghakimi orang lain hanya dari sebuah potongan informasi.
Baca Juga
-
Karhutla Jadi Sorotan Dunia, Mengapa Respons Pemerintah Masih Santai?
-
Kontradiksi Gaya Komunikasi Prabowo: Singa Domestik, Kucing Imut di Panggung Internasional?
-
Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!
-
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film: Ketika Cinta Nyata Tak Selalu Seindah Skenario
-
Ulasan Novel Sang Pemanah: Menemukan Makna Hidup dari Sebuah Anak Panah
Artikel Terkait
Ulasan
-
Pelajaran Memaafkan di Buku Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan
-
Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'
-
Drama A Bona Fide Killer: Pembunuh Legendaris yang Hidup Normal sebagai Ibu
-
Suicide Awareness Month: 5 Novel yang Mengajarkan Pentingnya Support System
-
Memaknai Cinta Bagi Orang Dewasa di Novel Hingga Ujung Cakrawala
Terkini
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Sinopsis Mame to Mugi, Drama Jepang Dibintangi Saito Asuka dan Tomita Miu
-
Hempas Kusam dan Noda Gelap! Ini 4 Sabun Muka Korea Kandungan Brightening
-
Jalan Teknokratis Suahasil Nazara Menuju Kursi Menteri Keuangan
-
Manga Gachiakuta Kembali Hiatus Tanpa Jadwal Kembali, Fans Harus Menunggu