Practical Magic: The Book of Magic merupakan sekuel yang telah lama dinantikan dari film kultus tahun 1998 Practical Magic. Film ini diarahkan oleh Susanne Bier berdasarkan novel The Book of Magic karya Alice Hoffman, dengan skenario yang melibatkan Akiva Goldsman bersama Georgia Pritchett dan Kelly Marcel. Di Indonesia, film ini resmi tayang di bioskop mulai 9 September 2026 dengan rating 13+, sementara di Amerika Serikat dirilis pada 10 September 2026.
Petualangan Magis Dimulai: Awal dari Perjuangan Dua Saudara
Cerita berpusat pada keluarga Owens yang masih diliputi kutukan turun-temurun: setiap pria yang jatuh cinta kepada perempuan Owens akan menemui ajal. Setelah peristiwa di film pertama, Sally Owens (Sandra Bullock) kembali mengalami kehilangan. Dalam kesedihannya, ia memutuskan menjauhkan putri-putrinya, Kylie (Joey King) dan Antonia (Maisie Williams), dari warisan sihir keluarga serta menghapus ingatan mereka mengenai kemampuan magis tersebut.
Bibi Jet (Dianne Wiest) menyadari waktunya semakin terbatas setelah mendengar isyarat kematian, sementara Frances (Stockard Channing) tetap menjadi sosok yang kuat di sisi keluarga. Ketika kutukan kembali menimpa generasi baru—khususnya melalui hubungan Kylie dengan Gideon (Xolo Maridueña)—Sally, Gillian (Nicole Kidman), dan generasi muda terpaksa menghadapi kebenaran serta mencari cara memutus rantai kutukan tersebut.
Perjalanan mereka membawa keluarga ini ke Inggris, tempat asal leluhur, dengan bantuan sejarawan sihir Ian Wright (Lee Pace) dan penemuan Book of the Raven yang memuat petunjuk kunci.
Review Film Practical Magic: The Book Of Magic
Kinerja para pemain menjadi salah satu kekuatan utama. Chemistry antara Sandra Bullock dan Nicole Kidman tetap solid dan memberikan nuansa kehangatan serta humor yang familiar dari film pertama, meskipun dinamika mereka kini lebih matang dan terkadang saling menyela. Joey King memberikan penampilan yang meyakinkan sebagai Kylie yang berani dan penuh tekad, sementara Dianne Wiest dan Stockard Channing menghadirkan kedalaman emosional yang signifikan. Lee Pace tampil karismatik sebagai Ian, meski beberapa dialog romantisnya terasa kurang natural menurut sejumlah ulasan. Sutradara Susanne Bier mencoba menyatukan elemen fantasi, drama keluarga, dan ketegangan okultisme.
Film ini kupuji karena menampilkan momen-momen menyentuh tentang penerimaan warisan keluarga dan kekuatan perempuan, sementara itu ada pergeseran nada yang lebih serius dan kurangnya kejenakaan khas film original, serta alur yang terasa bertele-tele di bagian tengah.
Setelah menonton, adegan aksi yang paling menegangkan terjadi saat konfrontasi klimaks di Inggris. Sally, Gillian, dan Kylie membentuk lingkaran magis dengan ikatan darah untuk menghadapi ancaman yang mengincar kekuatan keluarga. Suasana menjadi intens dengan elemen sihir yang lebih gelap—termasuk api, ritual, dan bentrokan kekuatan—yang jauh berbeda dari nuansa yang lebih ringan di film pertama.
Ketegangan meningkat ketika kebenaran tentang motif antagonis terungkap, memaksa para perempuan Owens mengerahkan seluruh kemampuan mereka dalam pertarungan yang memadukan keputusasaan dan solidaritas. Adegan ini berhasil membangun rasa bahaya yang nyata terhadap kelangsungan generasi keluarga.
Adegan paling dramatis hadir melalui pengorbanan Frances. Setelah keluarga memahami bahwa kutukan hanya dapat dipatahkan melalui pengorbanan sukarela seorang penyihir, Frances memilih melangkah maju demi membebaskan generasi selanjutnya dari penderitaan yang sama. Momen ini diliputi keheningan emosional yang kuat, diiringi kehadiran spirit Jet, dan menjadi puncak emosional film.
Adegan tersebut tidak hanya menutup arc karakter yang telah lama dilindungi, tetapi juga menegaskan tema cinta, pengorbanan, dan pembebasan dari trauma turun-temurun. Rekonsiliasi antara Sally dan Kylie di sekitar momen tersebut menambah bobot emosional yang terasa tulus.
Secara keseluruhan, Practical Magic: The Book of Magic menawarkan penutupan yang lebih definitif bagi kisah keluarga Owens dibandingkan film pertama. Visual Inggris yang atmosfirik, soundtrack yang mendukung, serta fokus pada ikatan antargenerasi memberikan daya tarik tersendiri.
Meski tidak sepenuhnya mereplikasi keunikan tonal film original dan mendapat respons kritis yang beragam (sekitar 35 persen di Rotten Tomatoes berdasarkan sejumlah tinjauan awal), film ini tetap layak ditonton bagi penggemar yang menginginkan kelanjutan cerita serta tema pemberdayaan perempuan melalui penerimaan diri dan solidaritas keluarga.
Dengan durasi sekitar dua jam sepuluh menit, film ini berhasil menghadirkan kombinasi drama, fantasi, dan momen-momen yang mengharukan, meskipun beberapa bagian alurnya terasa kurang padat. Bagi penonton yang menyukai kisah sihir keluarga dengan sentuhan romansa dan pengorbanan, tayangan di bioskop Indonesia sejak 9 September 2026 menjadi kesempatan yang tepat untuk menyaksikannya di layar lebar. Rating pribadi: 7.5/10.
Baca Juga
-
Bukan Sekadar Film Anak, Iyus Jenius Hadirkan Kembali Lagu Legendaris Papa T.Bob yang Dirindukan
-
Jangan Lupa Bahagia: Tamparan Realita Hidup Generasi Sandwich
-
Detective Conan The Movie: Petaka Maut di Jalur Cepat Menuju Kota Kanagawa!
-
Review Film Hope: Teror Misterius Makhluk Asing di Wilayah Perbatasan Korea
-
Suanggi: Ilmu Kutukan, Suguhkan Perpaduan Drama Keluarga dan Mitos Mistik!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film Budi Pekerti: Ketika Satu Video Mengubah Segalanya
-
Pelajaran Memaafkan di Buku Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan
-
Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'
-
Drama A Bona Fide Killer: Pembunuh Legendaris yang Hidup Normal sebagai Ibu
-
Suicide Awareness Month: 5 Novel yang Mengajarkan Pentingnya Support System
Terkini
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Sinopsis Mame to Mugi, Drama Jepang Dibintangi Saito Asuka dan Tomita Miu
-
Hempas Kusam dan Noda Gelap! Ini 4 Sabun Muka Korea Kandungan Brightening
-
Jalan Teknokratis Suahasil Nazara Menuju Kursi Menteri Keuangan
-
Manga Gachiakuta Kembali Hiatus Tanpa Jadwal Kembali, Fans Harus Menunggu