Ada fase dalam hidup ketika seseorang tidak benar-benar ingin melupakan. Ia justru ingin mengingat semuanya: percakapan yang pernah terjadi, janji yang pernah diucapkan, perhatian yang dulu begitu berarti, sampai alasan mengapa sebuah hubungan akhirnya berakhir. Pada fase seperti inilah buku Patah karya Yudi Avendra terasa menemukan pembacanya.
Terbit pada Juni 2019 oleh TransMedia Pustaka, buku setebal 212 halaman ini merupakan karya fiksi romantis yang banyak bermain dengan perasaan kehilangan, penyesalan, kerinduan, dan cinta yang tidak menemukan tempat untuk menetap. Namun, Patah bukanlah kisah romantis dengan perjalanan cinta yang penuh kejutan. Buku ini lebih menyerupai kumpulan suara hati seseorang yang sedang berusaha memahami mengapa cinta yang dipertahankan sedemikian kuat tetap bisa berakhir.
Isi Buku
Salah satu gagasan yang terus muncul adalah perasaan menjadi seseorang yang hanya dijadikan tempat singgah. Ada cinta yang datang dengan perhatian, memberikan rasa nyaman, bahkan membuat seseorang percaya bahwa dirinya telah menemukan rumah. Tetapi pada akhirnya, orang yang dicintai memilih pergi.
Di titik itu, luka bukan hanya berasal dari perpisahan. Luka muncul karena seseorang harus menerima kenyataan bahwa dirinya ternyata tidak pernah menjadi tujuan akhir.
Kalimat-kalimat dalam buku ini banyak bergerak di sekitar tema tersebut. Tokohnya berkali-kali berhadapan dengan pertanyaan: mengapa dulu begitu percaya? Mengapa hati pernah begitu yakin bahwa seseorang adalah sumber kebahagiaan, sementara pada akhirnya justru menjadi sumber kesedihan? Menariknya, penyesalan dalam Patah tidak hanya diarahkan kepada orang yang meninggalkan. Ada kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri. Tokoh dalam buku ini sadar bahwa dirinya masih berharap, masih merindu, dan masih terbiasa mencari sosok yang sebenarnya sudah tidak membutuhkannya.
Perasaan semacam itu sangat dekat dengan pengalaman banyak orang setelah putus cinta. Secara logika, seseorang mungkin sudah memahami bahwa hubungan tersebut selesai. Namun hati tidak selalu bergerak secepat pikiran. Kebiasaan yang terbentuk selama hubungan masih tertinggal: menunggu kabar, mengingat perhatian, merindukan kehadiran, bahkan berharap orang yang pergi suatu hari kembali. Karena itu, Patah terasa seperti buku yang sengaja tinggal cukup lama di dalam fase tersebut.
Kelebihan dan Kekurangan
Buku ini sangat dominan dengan nuansa patah hati, penyesalan, dan kenangan. Bagi pembaca yang sedang berada dalam kondisi emosional yang sama, barangkali pengulangan perasaan tersebut terasa relatable, bahkan seperti menemukan seseorang yang mampu menerjemahkan isi kepala. Namun, bagi pembaca yang sedang baik-baik saja atau mengharapkan perkembangan cerita yang lebih variatif, buku ini berpotensi terasa monoton. Terlalu lama berkutat pada rasa kehilangan dapat membuat pengalaman membaca terasa berat dan membosankan.
Meski demikian, ada satu hal yang menarik dari sudut pandang emosional: mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya. Dalam beberapa bagian, rasa cinta justru berubah menjadi doa agar orang yang pernah dicintai bisa menemukan kebahagiaannya, meskipun kebahagiaan itu tidak lagi melibatkan kita.
Di sana, patah hati perlahan bergeser dari keinginan untuk memiliki menjadi usaha untuk menerima. Bukan berarti luka langsung hilang, tetapi ada kesadaran bahwa tidak semua hubungan ditakdirkan untuk bertahan.
Patah pada akhirnya cocok dibaca oleh mereka yang sedang ingin menyelami kembali kenangan, merasakan kesedihan yang pernah disimpan, atau sekadar membutuhkan teman untuk menemani fase kehilangan. Buku ini bukan bacaan yang menawarkan banyak kejutan, melainkan bacaan yang mengajak pembacanya duduk bersama perasaan.
Sebab terkadang, sebelum benar-benar mampu melepaskan seseorang, kita memang perlu mengakui terlebih dahulu bahwa kita pernah begitu mencintainya. Dan bahwa patah hati, seberapa menyakitkan pun, tetap merupakan bagian dari perjalanan untuk belajar mencintai diri sendiri.
Identitas Buku
- Judul: Patah
- Penulis: Yudi Avendra
- Penerbit: TransMedia Pustaka
- Tanggal terbit: Juni 2019
- Tebal: xii + 212 halaman
- ISBN: 978-623-7100-11-9
- Genre: Fiksi romantis
Baca Juga
-
Jangan Harap Punya Pemimpin Berkualitas Jika Warganya Buta Politik
-
Paradoks Sampah: Sibuk Daur Ulang, Sementara Plastik Terus Diproduksi?
-
Pembusukan Demokrasi: Atas Nama Rakyat, Kekuasaan Justru Menjadi Ancaman
-
TDA Entrepreneur Story: 88 Pengusaha, 88 Perjalanan, dan Kekuatan Komunitas
-
Sampah Produk Tak Hanya Urusan Pemerintah, Produsen Harus Bertanggung Jawab
Artikel Terkait
-
Rayakan Hari Literasi Sedunia dengan Mengenal 5 Buku yang Pernah Dilarang
-
Ning Jazil Istri Gus Kautsar Bongkar Modus Penulis Buku Islam ala Prabowo, Geram Nama Suami Dicatut
-
Daftar Lengkap Tokoh dalam Buku Islam ala Prabowo yang Memicu Polemik
-
The Humble Pie: Benarkah Terlalu Rendah Hati Bisa Jadi Masalah?
-
Siapa Sebenarnya Penulis Buku 'Islam Ala Prabowo' yang Sedang Viral?
Ulasan
-
My Unfamiliar Family: Keluarga yang Hidup Bersama Tanpa Saling Memahami
-
Review Serial Silo Season 3: Penutup Masif Trilogi Fiksi yang Terbaik!
-
Ketika Agen FBI Bekerja Sama dengan Mafia dalam Film By Any Means
-
Rayakan Hari Literasi Sedunia dengan Mengenal 5 Buku yang Pernah Dilarang
-
Ulasan Munafik: Melawan Iblis, Iman Diuji oleh Kehilangan dan Kegelapan
Terkini
-
Jangan Harap Punya Pemimpin Berkualitas Jika Warganya Buta Politik
-
Mulai dari Rp1 Jutaan! 5 HP Murah yang Cocok Dipakai Jangka Panjang
-
Catat Tanggalnya! Sung Han Bin ZEROBASEONE Umumkan Rencana Debut Solo
-
Demokrasi Indonesia Diuji Benturan Sosial dan Adanya Kepentingan Politik
-
Anime Inherit the Winds Umumkan Screening Bioskop Sebelum Tayang 2027