Hayuning Ratri Hapsari | Ken Hitana
Ilustrasi rak buku (unsplash/Gabriela)
Ken Hitana

Dalam rangka memperingati Hari Literasi Sedunia, kita diajak untuk melihat kembali pentingnya kebebasan membaca, berpikir, dan mengenal berbagai gagasan melalui buku. Ironisnya, beberapa karya justru dianggap sebagai ancaman karena kontroversial, berbahaya, atau bertentangan dengan nilai yang berlaku di suatu tempat sehingga keberadaannya dicekal.

Menariknya, larangan tersebut tidak selalu membuat buku-buku itu dilupakan. Beberapa justru semakin dikenal dan banyak dicari karena kisah maupun gagasan yang ditawarkannya. Penasaran apa saja? Berikut 5 buku yang pernah dilarang yang kini malah banyak dicari orang.

1. Tetralogi Buru - Pramoedya Ananta Toer

Cover Buku Bumi Manusia (Goodreads)

Rangkaian 4 buku dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang saat ini banyak dikoleksi oleh pencinta buku, ternyata pernah dilarang beredar pada era Orde Baru. Seri buku ini terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Karya Pram ini dianggap mengajarkan konsep marxisme dan komunisme yang pembahasannya sangat sensitif pada zaman itu. Menariknya, buku ini ditulis saat Pram menjadi tahanan politik di Pulau Buru. Begitu karya ini diterbitkan, keempatnya langsung dilarang oleh pemerintah.

Namun, pelarangan tersebut tidak membuat karya Pramoedya hilang dari dunia literasi Indonesia. Setelah Orde Baru berakhir, Tetralogi Buru kembali diterbitkan dan dibaca secara luas. Hingga kini, rangkaian novel tersebut justru dikenal sebagai salah satu karya penting dalam sastra Indonesia.

2. Dari Penjara ke Penjara - Tan Malaka

Cover Buku Dari Penjara ke Penjara (Goodreads)

Masih di era yang sama seperti sebelumnya, Dari Penjara ke Penjara karya Tan Malaka juga pernah dilarang beredar di Indonesia. Buku ini dianggap mengganggu kestabilan politik dengan pokok pembahasan paham kiri. Karena itu, Presiden Soeharto pada waktu itu banyak mencekal buku-buku semacam ini.

Seperti judulnya, buku ini mengisahkan perjalanan Tan Malaka saat keluar-masuk penjara pada masa kolonial. Selain itu, buku ini dipenuhi dengan perjuangan keras hingga pemikirannya yang kritis dalam menghadapi rezim kolonial.

Untungnya, setelah masa Orde Baru usai, buku ini sudah secara bebas untuk dibaca dan diperjualbelkan kepada umum. Buku ini juga menjadi autobiografi paling berpengaruh dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. 

3. Madilog - Tan Malaka

Cover Buku Madilog (Goodreads)

Buku karya Tan Malaka yang katanya 'sulit dibaca' ini dulunya pernah terkena pembatasan oleh pemerintah Orde Baru. Madilog yang merupakan singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika, berisi tentang bagaimana pemikiran manusia dalam menghadapi persoalan.

Namun, karena rekam jejaknya di dunia politik, karya ini ikut disangkutpautkan dengan paham kiri yang dianut sang penulis. Padahal, buku ini mengajak pembaca untuk selalu kritis dan mengedepankan logika dalam hal apapun.

Sama seperti karya terlarang lainnya, Madilog kembali diterbitkan dan dibaca sebagai salah satu karya penting dalam sejarah pemikiran Indonesia setelah Reformasi.

4. 1984 - George Orwell

Cover Buku 1984 (Gramedia Pustaka Utama)

Novel distopia karya George Orwell yang mengangkat tema politik totalitarianisme dan propaganda, 1984, pernah mengalami pembatasan dan pesensoran di beberapa negara. Karya ini memberikan kritik tajam terhadap pemerintahan otoriter Stalin yang menyindir politik negara, seperti Amerika Serikat, Uni Soviet, dan negara blok Soviet lainnya. 

Buku ini bercerita tentang Winston Smith, bekerja di sebuah lembaga pemerintah yang bertugas mengubah catatan sejarah agar selalu sesuai dengan kepentingan partai. Tidak berhenti sampai di sana, pemerintah juga mengontrol berbagai aspek kehidupan masyarakat.

5. Mein Kampf - Adolf Hitler

Ilustrasi Buku Mein Kampf (unsplash/Gabriela)

Buku karya Adolf Hitler ini menjadi salah satu judul yang memiliki sejarah cukup kontroversial. Buku ini ditulis Hitler pada 1920-an ketika ia berada di penjara dan berisi perpaduan antara kisah hidup, pandangan politik, serta gagasan ideologis yang kemudian menjadi bagian dari pemikiran Nazi.

Mein Kampf tidak hanya dikenal sebagai tulisan politik, tetapi juga sebagai salah satu dokumen yang membantu melihat bagaimana gagasan propaganda Nazi dibentuk dan disebarkan. 

Setelah Nazi kalah dalam Perang Dunia II, peredaran dan penerbitan ulang Mein Kampf di Jerman dihentikan. Hak cipta buku tersebut kemudian berada di tangan pemerintah Jerman yang mencegah penerbitan ulang buku tersebut. Pembatasan ini berlangsung selama puluhan tahun hingga hak cipta berakhir pada 2015.

Setelah itu, Mein Kampf kembali dicetak dengan dilengkapi catatan dari ahli politik untuk memberikan konteks sejarah untuk membantu pembaca memahami isi buku.

5 buku yang pernah dilarang di atas menunjukkan kalau sebuah karya bisa sangat berpengaruh. Ada yang dianggap berbahaya hingga takut menjadi ancaman politik suatu negara. Bukannya dilupakan, karya-karya tadi justru tetap hidup karena masyarakat yang sadar literasi. Selamat Hari Literasi! Jangan lupa baca buku, ya!