Terkadang perasaan terlalu sulit dijelaskan secara langsung. Ada rindu yang terlalu panjang untuk diceritakan, kenangan yang terus muncul meski ingin dilupakan, serta pergulatan batin yang hanya bisa disampaikan melalui kata-kata. Bagi sebagian orang, menulis bukan sekadar aktivitas, melainkan cara untuk memahami perasaan sendiri. Semangat itulah yang terasa dalam Pecandu Aksara Jilid 2, sebuah antologi puisi yang menghimpun karya para penulis dalam Tim Nubar Puisi Kuy Nasional.
Buku ini diterbitkan oleh CV. ARRAS Media Group (ARS Publisher) dalam cetakan pertama pada September 2020. Memiliki ketebalan 146 halaman, sebagai kumpulan puisi, Pecandu Aksara Jilid 2 tidak menawarkan satu cerita utuh seperti novel. Buku ini justru menghadirkan banyak suara, sudut pandang, dan pengalaman emosional yang berbeda. Setiap puisi menjadi semacam ruang kecil tempat penulis menyimpan kegelisahan, cinta, kerinduan, kemarahan, harapan, dan percakapan dengan dirinya sendiri.
Isi Buku
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah “Berteman dengan Senja” karya Fitrotin Nurin Indah. Puisi ini menggambarkan seseorang yang sedang berhadapan dengan konflik antara kata hati dan ego. Tokohnya digambarkan sebagai pribadi yang dahulu penuh semangat dan keceriaan, tetapi kemudian berubah menjadi seseorang yang larut dalam amarah dan perenungan.
Pertentangan antara hati dan ego menjadi persoalan yang sangat manusiawi. Kita sering mengetahui apa yang sebenarnya ingin dilakukan, tetapi memilih mengabaikannya karena gengsi, ketakutan, atau keinginan untuk mempertahankan sesuatu. Dalam puisi tersebut, senja kemudian menjadi simbol yang menarik: sebuah ruang peralihan antara terang dan gelap, seolah menggambarkan kondisi batin seseorang yang sedang berada di antara keputusan dan keraguan.
Jika “Berteman dengan Senja” berbicara tentang pergulatan dengan diri sendiri, “Bayangan Mengganggu” bergerak lebih jauh pada persoalan kenangan. Bayangan seseorang terus muncul dalam pikiran meskipun sang aku lirik berusaha melupakannya. Ia seperti mengikuti setiap langkah, bahkan ketika sinar mentari seharusnya membuat bayangan itu menghilang.
Metafora bayangan menjadi kuat karena kenangan memang sering bekerja seperti itu. Semakin seseorang berusaha keras untuk melupakan, terkadang justru semakin jelas sesuatu yang ingin dihapus dari ingatan. Keinginan untuk membuang bayangan tersebut ke lautan senja memperlihatkan upaya untuk menghanyutkan perasaan tanpa perlu diketahui orang lain.
Menariknya, kedua puisi tersebut terasa memiliki hubungan emosional. “Berteman dengan Senja” berbicara tentang ego dan ketidakmampuan mendengarkan hati, sedangkan “Bayangan Mengganggu” menghadirkan konsekuensi emosional berupa perasaan yang masih tertinggal. Senja dan bayangan kemudian menjadi simbol perjalanan batin: dari pergulatan, keterikatan, hingga keinginan untuk melepaskan.
Kelebihan dan Kekurangan
Di sinilah antologi seperti Pecandu Aksara Jilid 2 memiliki daya tarik. Puisi tidak selalu harus memberikan jawaban. Kadang-kadang puisi hanya perlu menjadi tempat seseorang mengatakan sesuatu yang tidak mampu ia katakan kepada siapa pun. Pembaca pun memiliki kesempatan untuk menemukan dirinya sendiri di antara larik-larik yang ditulis para penyair. Seseorang mungkin menemukan puisinya sebagai gambaran tentang patah hati. Pembaca lain mungkin melihatnya sebagai cerita tentang persahabatan, kehilangan, atau perjuangan melawan ego.
Judul Pecandu Aksara sendiri terasa sesuai dengan semangat buku. Aksara menjadi medium untuk mengubah pengalaman menjadi sesuatu yang dapat dibaca dan dirasakan orang lain. Apa yang awalnya hanya menjadi pergulatan pribadi kemudian dapat menemukan pembaca yang ternyata mengalami hal serupa. Pecandu Aksara Jilid 2 bukan hanya tentang kumpulan kata-kata indah. Buku ini memperlihatkan bahwa perasaan manusia memiliki banyak lapisan dan tidak semuanya mudah diterjemahkan dalam percakapan sehari-hari.
Ada hati yang memilih diam, tetapi berbicara melalui puisi. Ada kenangan yang tidak kunjung hilang, lalu disimpan dalam aksara. Dan ada luka yang mungkin tidak langsung sembuh, tetapi setidaknya menjadi lebih mudah dipahami ketika berhasil dituliskan. Sebab, terkadang kita tidak membutuhkan seseorang untuk memberikan jawaban. Kita hanya membutuhkan ruang untuk menuliskan apa yang selama ini berisik di dalam kepala.
Identitas Buku
- Judul: Pecandu Aksara Jilid 2
- Penulis: Fitrotin Nurin Indah, dkk.
- Penyusun: Tim Nubar Puisi Kuy Nasional
- Penerbit: ARS Publisher
- Tahun Terbit: September 2020
- Tebal: x + 146 halaman
- ISBN: 978-623-94490-8-7
- Kategori: Antologi puisi
Baca Juga
-
Gambut Terbakar, Narasi Bermunculan: Di Mana Mitigasi Karhutla?
-
Bersih-Bersih Sungai Tak Cukup Jika Keran Plastik Terus Mengalir
-
Jawaban: Ketika Kehidupan Mengajarkan Kita untuk Melepaskan
-
Tanah Hilang, Tali Asih Datang: Begitukah Pembangunan Bekerja?
-
Jangan-Jangan Kita Hanya Anti-Oligarki saat Tidak Berkuasa
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Krakatau: Ketika Dunia Meledak, Kisah Letusan Dahsyat 1883
-
Jangan Diklik! Misteri Aplikasi Teror dan Kematian dalam Novel Rahasia Ayu
-
Review Pride and Prejudice: Fenomena Menilai Orang dari First Impression
-
Ulasan Malam Terakhir: Cerita tentang Kebebasan dan Perlawanan terhadap Kekuasaan
-
Ulasan Buku Peter Pan: Ketika Kita Terlalu Takut untuk Menjadi Dewasa
Ulasan
-
Ulasan Buku Krakatau: Ketika Dunia Meledak, Kisah Letusan Dahsyat 1883
-
Jangan Diklik! Misteri Aplikasi Teror dan Kematian dalam Novel Rahasia Ayu
-
Ulasan Novel Membunuh Alice: Ketika Mimpi Buruk Menjadi Kenyataan
-
Ulasan Malam Terakhir: Cerita tentang Kebebasan dan Perlawanan terhadap Kekuasaan
-
Wombat Waiting: Kisah Anjing yang Tak Pernah Berhenti Menunggu
Terkini
-
Gambut Terbakar, Narasi Bermunculan: Di Mana Mitigasi Karhutla?
-
Jadi Duta Kecelakaan di MotoGP, Kegagalan Joan Mir Disebabkan oleh Honda?
-
Bakar Semangat Juang, Plt Ketum PPAD Turun Langsung Kawal Atlet Golf di Surabaya
-
Tecno Pova 8 Pro 5G Resmi di Indonesia, Bawa Layar 144Hz dan Dual Chipset
-
Huawei FreeBuds 7 Resmi Meluncur, Bawa Fitur ANC AI Baterai Tahan 42 Jam