Lintang Siltya Utami | Tarassa Q.
Malam Terakhir (Gramedia)
Tarassa Q.

Malam Terakhir merupakan kumpulan cerita pendek karya Leila S. Chudori yang pertama kali diterbitkan pada 1989. Buku ini memuat sembilan cerpen dengan tema yang beragam, mulai dari cinta, kehilangan, pencarian jati diri, hubungan keluarga, hingga persoalan kebebasan dan ketidakadilan. Meski setiap cerita memiliki konflik yang berbeda, keseluruhannya memperlihatkan perhatian Leila terhadap persoalan manusia, pilihan hidup, serta nilai-nilai moral yang sering kali dipertentangkan dengan keadaan sosial.

Sembilan cerita di dalam buku ini adalah “Paris”, “Adila”, “Air Suci Sita”, “Sehelai Pakaian Hitam”, “Untuk Bapak”, “Keats”, “Ilona”, “Sepasang Mata Menatap Rain”, dan “Malam Terakhir”. “Paris” menghadirkan kisah penantian di sebuah pintu kayu di tengah suasana kota Paris yang panas. Sementara itu, “Adila” berfokus pada pergulatan seseorang dalam memahami dirinya sendiri. “Air Suci Sita” menawarkan pembacaan modern terhadap kisah Ramayana dengan mempertanyakan gagasan tentang kesucian dan kesetiaan perempuan.

Cerita “Sehelai Pakaian Hitam” membawa pembaca pada suasana kehilangan melalui kenangan keluarga. Kemudian, “Untuk Bapak” menggambarkan kedekatan seorang anak dengan ayahnya yang tidak sederhana karena dipenuhi rasa hormat sekaligus pergulatan emosional. “Keats” mempertemukan keindahan sastra dan romantisme dengan kenyataan kehidupan. “Ilona” mengangkat hubungan personal yang menyisakan ruang kosong sekaligus kenangan, sedangkan “Sepasang Mata Menatap Rain” menyuguhkan cara pandang yang berbeda terhadap pengamatan dan hubungan antarmanusia.

Cerpen terakhir, “Malam Terakhir”, menjadi bagian yang paling kuat dalam mengangkat persoalan politik dan kekuasaan. Cerita ini berpusat pada tiga aktivis yang hanya dikenal melalui julukan Si Gemuk, Si Kurus, dan Si Kacamata. Mereka dianggap sebagai ancaman karena keberanian menentang penguasa dan akhirnya harus menghadapi hukuman gantung. Ironisnya, eksekusi tersebut berlangsung di tengah masyarakat yang justru menganggapnya seperti hiburan. Situasi itu membuat kekerasan terhadap manusia terasa mengerikan sekaligus menunjukkan bagaimana penindasan dapat dinormalisasi.

Saya sendiri baru mengetahui keberadaan buku ini setelah sebelumnya lebih mengenal Leila S. Chudori melalui novel Laut Bercerita dan Pulang. Membaca Malam Terakhir terasa seperti menemukan sisi lain dari karya Leila yang tetap memiliki ciri khasnya, tetapi disampaikan dalam bentuk yang lebih ringkas. Walaupun cerpen “Malam Terakhir” kembali menghadirkan aktivisme dan perlawanan terhadap penguasa, tema yang memang sering muncul dalam karya Leila, keseluruhan buku tetap memberikan pengalaman membaca yang terasa berbeda dan menyegarkan.

Dengan ketebalan sekitar 119 halaman, buku ini juga relatif mudah diselesaikan. Gaya penulisannya terasa lancar sehingga pembaca dapat mengikuti setiap cerita tanpa merasa terbebani. Namun, kesederhanaan bentuknya tidak berarti gagasan yang ditawarkan dangkal. Justru melalui cerita-cerita singkat tersebut, Leila mengajak pembaca memikirkan persoalan yang cukup serius.

Salah satu hal yang paling saya rasakan adalah keberanian buku ini dalam mempertanyakan standar moral yang diterima begitu saja oleh masyarakat. “Air Suci Sita”, misalnya, dapat mendorong pembaca melihat kembali standar kesucian dan kesetiaan yang sering dibebankan secara tidak seimbang kepada perempuan. Buku ini juga menekankan pentingnya kejujuran dan integritas ketika kehidupan sosial dipenuhi kepura-puraan.

Selain itu, Malam Terakhir memperlihatkan bahwa kebebasan memiliki harga yang tidak selalu murah. Kisah para aktivis menjadi pengingat mengenai bahaya kekuasaan yang tidak terkendali dan dampaknya terhadap kebebasan berekspresi. Di sisi lain, cerita mengenai hubungan personal dan keluarga mengingatkan bahwa cinta, komitmen, serta pernikahan membutuhkan ketulusan, kerja sama, dan keyakinan yang terus dirawat.

Pada akhirnya, Malam Terakhir bukan sekadar kumpulan cerpen lama, melainkan bacaan yang masih relevan untuk mengajak pembaca mempertanyakan norma, menjaga prinsip, dan melihat persoalan keadilan secara lebih kritis.

Identitas Buku:

Judul: Malam Terakhir
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786024248239