Film Resident Evil (2026) merupakan reboot kedua sekaligus entri kedelapan dalam serial film adaptasi waralaba video game Capcom yang legendaris. Disutradarai dan ditulis bersama oleh Zach Cregger (dikenal melalui Barbarian dan Weapons), bersama Shay Hatten, film ini menghadirkan pendekatan yang segar, ketat, dan terfokus pada pengalaman survival horror yang intens.
Berbeda dari serial sebelumnya yang berpusat pada Alice (Milla Jovovich) atau upaya adaptasi yang lebih dekat dengan karakter game seperti Leon S. Kennedy, film ini memilih sudut pandang orang biasa yang terjebak dalam malam penuh teror.
Kebangkitan Teror Zombie yang Mencekam
Cerita mengikuti Bryan (Austin Abrams), seorang kurir medis yang di penghujung shiftnya menerima tawaran pengantaran paket medis mendesak ke rumah sakit di Raccoon City dengan imbalan dua kali lipat. Malam itu bersalju dan gelap, sementara di sisi pribadi Bryan sedang diguncang berita kehamilan pacarnya.
Apa yang seharusnya menjadi perjalanan rutin segera berubah menjadi mimpi buruk ketika ia menabrak seorang wanita di jalan sepi. Dari situ, wabah virus yang menyebabkan mutasi mengerikan menyebar dengan cepat, memaksa Bryan bertahan hidup sambil tetap berusaha menyelesaikan tugasnya.
Film berdurasi sekitar 90 menit ini berjalan dengan tempo cepat dan struktur episodikal yang mengingatkan pada level-level dalam game. Bryan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain—jalan bersalju, rumah pertanian, trailer, selokan, hingga rumah sakit—menghadapi ancaman yang semakin gila.
Monster-monster yang ditampilkan bukan sekadar zombie klasik, melainkan makhluk bermutasi dengan tentakel, rahang menganga, dan formasi tubuh yang menggabungkan elemen body horror ala The Thing karya John Carpenter serta efek-efek menjijikkan yang lain. Efek visual dan makeup praktis sangat menonjol, menciptakan momen-momen yang nauseating sekaligus menakjubkan.
Review Film Resident Evil
Austin Abrams memberikan penampilan yang sangat meyakinkan sebagai anti-hero yang canggung, panik, namun tetap berusaha bertahan. Ia bukan pahlawan super; ia adalah orang biasa yang bereaksi dengan teriakan, kebingungan, dan humor gelap yang spontan. Supporting cast seperti Paul Walter Hauser (sebagai ilmuwan Umbrella yang overwrought), Kali Reis, dan Zach Cherry menambah warna serta informasi latar belakang yang diperlukan tanpa memperlambat alur. Cinematografi Dariusz Wolski yang dinamis dan editing yang ketat memperkuat rasa terjebak dan terburu-buru, sementara skor musik mendukung ketegangan tanpa berlebihan.
Intinya, film ini sebagai salah satu adaptasi Resident Evil terbaik—bahkan aku sendiri menyebutnya yang terbaik sejauh ini, sih. Rating di Rotten Tomatoes dan Metacritic menunjukkan penerimaan positif yang tinggi, dengan pujian pada kemampuan Cregger menyeimbangkan horor, humor gelap, dan adrenalin.
Film ini tidak terlalu bergantung pada lore game yang rumit, melainkan menangkap esensi survival: rasa takut, kehabisan amunisi, dan keputusan cepat di bawah tekanan. sedikit catatanku tentang humor yang kadang sedikit mengurangi ketegangan murni, akan tetapi justru membuat film terasa segar dan menghibur.
Film Resident Evil (2026) resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 16 September 2026. Klasifikasi dari Lembaga Sensor Film (LSF) adalah D17 (Dewasa 17 Tahun ke atas). Penayangan di Amerika Serikat menyusul pada 18 September 2026. Film ini sudah tersedia di berbagai jaringan bioskop seperti Cinema 21, XXI, CGV, dan lainnya.
Salah satu adegan paling menegangkan terjadi di rumah pertanian terpencil. Setelah kecelakaan dan kehilangan mobil, Bryan mencari perlindungan. Ia menghadapi anjing penjaga yang agresif, yang kemudian mengalami mutasi mengerikan—wajahnya terbelah seperti bunga dengan tentakel yang menjulur keluar.
Suasana gelap, suara gonggongan yang tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang unnatural, serta ruang sempit menciptakan ketegangan yang hampir tak tertahankan. Adegan ini menggabungkan jump scare yang efektif dengan body horror yang memuakkan, memaksaku dan penonton yang lain menahan napas.
Adegan yang paling melekat di benakku adalah klimaks di laboratorium rumah sakit. Bryan berhasil mengantarkan paket (yang ternyata mengandung bahan untuk antidot) namun sudah terinfeksi. Proses mutasinya berlangsung di depan mata para ilmuwan: tubuhnya berubah secara gradual, sementara bagian kesadarannya yang tersisa masih berusaha meminta serum.
Adegan ini memadukan ketegangan emosional, gore yang ekstrem, dan ironi tragis. Akhir yang suram namun konsisten dengan tone film membuatnya sulit dilupakan—sebuah penutup yang tidak memberikan kemenangan mudah buatku, melainkan meninggalkan rasa hampa dan horor yang bertahan lama.
Resident Evil (2026) berhasil merevitalisasi franchise yang sempat stagnan dengan pendekatan yang lean, mean, dan penuh kejutan. Bagi penggemar game maupun penikmat horor modern, film ini menawarkan pengalaman yang menegangkan, menjijikkan, dan menghibur dalam satu paket padat.
Dengan durasi yang efisien dan fokus yang tajam, Zach Cregger membuktikan bahwa IP lama pun dapat dihidupkan kembali dengan visi yang kuat. Sangat, sangat aku ekomendasikan untuk ditonton di bioskop demi merasakan dampak penuh dari efek visual dan atmosfernya! Tunggu apa lagi, pesan tiketnya dan biarkan ketegangan menyelimutimu dari awal tinggal akhir film. Selamat menonton! Rating pribadi: 8.9/10.
Baca Juga
-
Review Fall 2: Deadpoint, Perjuangan Bertahan Hidup yang Memicu Adrenalin!
-
Ulasan Film Khadam: Sajian Horor Lintas Negara dengan Sensasi Atmosferik!
-
Review Film It's My Time: Seni Menghargai Masa Tua dengan Cara yang Indah
-
Review Serial The Gentlemen Season 2: Pengkhianatan Berdarah Keluarga Glass
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
Artikel Terkait
Ulasan
-
Menembus Kesunyian dan Ketidakadilan dalam The Silence of Bones
-
Perjalanan ke Pantai Sidomuncul 2: Menikmati Laut, Menguatkan Kebersamaan
-
Belajar Menerima Cinta Lewat Lagu Ketika Cinta Bertasbih Melly Goeslaw
-
Review Novel Rengat: Romansa Kaum Elite yang Penuh Rumor dan Intrik
-
Review Film Once We Were Us: Ternyata Cinta Saja Tak Selalu Cukup
Terkini
-
BPS vs Bank Dunia: Mengapa Angka Kemiskinan Indonesia Bisa Berbeda Jauh?
-
5 Eye Cream Kemasan Jar untuk Bikin Area Mata Tampak Cerah dan Awet Muda
-
Interview Online vs Offline, Mana yang Lebih Masuk Akal?
-
Menko IPK Minta Kota Bersiap, tapi Mengapa Birokrasi Daerah Lambat?
-
Subsidi Besar, Biaya Hidup Naik, Daya Beli Tergerus: Apa yang Keliru?