Saya yakin saya bukanlah satu-satunya orang yang suka menonton ulang film-film bagus yang meninggalkan kesan unik yang membekas. Salah satu film lama yang membuat saya rewatch kali ini adalah film animasi Jepang Your Name atau Kimi no Nawa.
Ada satu hal yang selalu membuat Your Name atau Kimi no Na wa terasa berbeda setiap kali ditonton ulang, film ini sebenarnya bukan hanya tentang dua orang yang bertukar tubuh dan akhirnya jatuh cinta.
Lebih dari itu, film karya Makoto Shinkai ini seperti mengajak kita bertanya tentang sesuatu yang mungkin pernah dirasakan banyak orang, terutama ketika memasuki usia dewasa, “Sebenarnya aku sedang mencari apa?”
Dirilis pada 2016, Your Name menceritakan kisah Taki dan Mitsuha, dua remaja yang hidup di tempat berbeda. Taki tinggal di Tokyo, sementara Mitsuha tinggal di sebuah kota kecil. Suatu pagi, mereka mendapati bahwa tubuh mereka tiba-tiba tertukar.
Mereka bahkan tidak saling mengenal, tetapi perlahan mulai meninggalkan pesan dan aturan untuk menjalani kehidupan satu sama lain. Premisnya terdengar seperti cerita romance fantasi biasa. Tapi semakin dewasa kita menontonnya, semakin banyak hal lain yang terasa relevan.
Terutama untuk generasi yang hidup di zaman ketika kita bisa terhubung dengan siapa saja hanya dalam hitungan detik, tetapi justru semakin sering merasa tidak benar-benar terhubung dengan siapa pun. Kita Terhubung dengan Banyak Orang, tapi Benarkah Kita Saling Mengenal?
Coba lihat kehidupan Gen Z hari ini. Kita punya Instagram, TikTok, WhatsApp, X, Discord, dan berbagai platform lainnya. Kita bisa tahu seseorang sedang makan apa, pergi ke mana, sedang mendengarkan lagu apa, bahkan mengetahui suasana hatinya hanya dari unggahan singkat.
Tetapi apakah itu berarti kita benar-benar mengenal mereka?
Your Name menarik karena hubungan Taki dan Mitsuha justru dimulai tanpa mereka bisa bertemu secara langsung. Mereka mengenal satu sama lain melalui pengalaman yang aneh, yaitu bertukar tubuh.
Awalnya tentu saja kacau. Mereka meninggalkan catatan, membuat aturan, bahkan saling mengingatkan agar tidak mempermalukan satu sama lain. Namun dari situ muncul sesuatu yang mungkin justru semakin langka sekarang, rasa ingin memahami kehidupan orang lain.
Di tengah kebiasaan kita menilai seseorang hanya dari satu unggahan, satu komentar, atau satu potongan video, Your Name mengingatkan bahwa kehidupan seseorang selalu jauh lebih kompleks daripada apa yang terlihat dari luar.
Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang diperjuangkan seseorang.
Mitsuha adalah gadis yang hidup di kota kecil dan merasa bosan dengan kehidupannya. Ia bahkan pernah berharap bisa terlahir sebagai seorang anak laki-laki yang tinggal di Tokyo pada kehidupan berikutnya. Kalimat itu terasa sederhana, tetapi sebenarnya dekat sekali dengan kehidupan anak muda sekarang.
Berapa banyak dari kita yang pernah berpikir ingin tinggal di kota lain? Ingin punya pekerjaan berbeda? Ingin kuliah di tempat lain? Ingin memulai hidup dari nol? Atau sekadar merasa, “Kayaknya hidup orang lain lebih menarik daripada hidupku."
Yang membuat Your Name begitu abadi mungkin bukan hanya visualnya yang indah, musik RADWIMPS yang ikonik, atau kisah romantis Taki dan Mitsuha. Film ini berhasil membuat hubungan mereka terasa seperti sesuatu yang melampaui jarak, waktu, bahkan ingatan.
Tetapi setelah menontonnya sebagai orang yang sudah lebih dewasa, rasanya film ini berbicara tentang sesuatu yang lebih luas.
Tentang manusia yang sedang mencari tempat untuk merasa berarti. Tentang anak muda yang belum tahu harus ke mana. Tentang keinginan untuk melarikan diri dari kehidupan yang terasa membosankan. Tentang koneksi yang terkadang datang dari arah yang sama sekali tidak kita duga.
Dan mungkin, tentang keberanian untuk terus mencari meskipun kita sendiri tidak tahu apa yang sedang kita cari.
Karena mungkin hidup memang tidak selalu memberikan kita petunjuk yang jelas. Kadang kita hanya mendapatkan perasaan bahwa ada sesuatu yang kurang. Lalu kita berjalan. Mencoba. Gagal. Bertemu orang baru. Kehilangan seseorang. Memulai lagi.
Sampai suatu hari kita sadar bahwa perjalanan panjang itu ternyata membawa kita semakin dekat dengan diri sendiri. Saya tidak pernah menyesal menonton Your Name berulang-ulang.
Baca Juga
-
April, Come She Will: Cinta Tidak Hilang, Kita Hanya Berhenti Merasakannya
-
Ulasan Exhuma: Tentang Dosa Masa Lalu yang Tak Bisa Dikubur Sedalam Apa Pun
-
After The Storm: Bahagia Tak Harus Menunggu Semua Impian Menjadi Kenyataan
-
Review Shoplifters: Bahwa Keluarga Tak Selalu Dibentuk oleh Hubungan Darah
-
Review Unlocked: Satu Ponsel Hilang, Seluruh Kehidupan Berubah Jadi Teror
Artikel Terkait
-
Generasi Muda Makin Lirik Mobil Listrik, Delapan Merek Ini Jadi Pilihan Utama Milenial dan Gen Z
-
Otaku Vampire's Love Bite Karya Kreator Kamisama Kiss Dapat Adaptasi Anime
-
Mi Goreng dan Makanan Pedas Jadi Favorit Gen Z, Ini Tren Kuliner yang Menarik Dicoba
-
Tren Budaya Lokal di Tangan Gen Z: Benar Merawat Tradisi atau Cuma Konten?
-
BYD Kalahkan Dominasi Merek Jepang di Kalangan Gen Z
Ulasan
-
Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau: Tentang Rasa Sakit yang Tak Pernah Benar-benar Pergi
-
Tragedi Cinta di Tengah Revolusi Prancis dalam Novel Kisah Dua Kota
-
Ulasan Novel Para Priyayi, Menjadi Terhormat Bukan Sekadar soal Jabatan
-
Research Design dan Pentingnya Pemahaman Metodologi bagi Mahasiswa
-
Review The Intern: Sindiran Budaya Kerja Korea yang Dikemas Komedi
Terkini
-
Mengurai Benang Kusut Komersialisasi Paten: Kenapa Inovasi Kampus Gagal Jadi Cuan?
-
Shin Min Ah, Lee Jin Wook, Yoo Teo Bintangi Drama Romantis Wed Thurs Fri
-
ZeroBaseOne EMP Hadapi Tantangan Lintas Generasi di Lagu Run x Dynamic Duo
-
Banjirnya Sudah Surut
-
Tayang 18 November, Drama Sound:Track Hadirkan 8 Cerita dari Lagu Berbeda