Aku tak ingat dengan jelas sejak kapan mulai membenci Bapak. Sepertinya kebencian itu membuncah sejak ia menua dan kerap memusingkan kepalaku dengan segala macam kelakuannya yang seperti anak kecil.
Apa memang semua orangtua akan demikian? Kembali menjadi bocah dan meluapkan amarah setiap kali melakukan kesalahan?
Aku memang tak pernah terang-terangan menunjukkan kekesalanku. Aku lebih sering menggerutu di belakang.
"Baru sehari teras itu bersih dari segala macam barang bekas, sekarang sudah penuh dengan rongsokan baru! Lemari baju diisi buku-buku. Baju-baju malah dikeluarkan dari lemari, digantung di jemuran sampai bermalam-malam. Bikin nyamuk-nyamuk gentayangan saja!"
Aku sengaja mengeraskan suara agar Bapak mendengar ocehanku. Lelaki itu sedang duduk di kursi tua favoritnya sambil mendengarkan berita di televisi.
Di lain hari, aku akan melaporkan segala ulah Bapak kepada Ibu. Ibu yang sama tuanya dengan Bapak. Namun, entah karena perempuan atau memang sudah pembawaannya, beliau tampak lebih fokus pada banyak hal. Maksudku, tidak bertingkah seperti bocah. Beliau tak pernah duduk diam, selalu mengerjakan macam-macam: memasak, membereskan rumah, berbelanja, mengasuh cucu, dan segala hal lainnya.
Mungkin itu yang membuat pikiran Ibu tetap sehat. Tidak seperti Bapak. Ia semacam pengacau di rumah, membuatku frustrasi setiap kali merusak apa saja yang sudah kubereskan.
"Tanaman di pot pojok entah sudah berapa kali dikencingi Bapak. Kenapa kalau mau buang air malah lari ke halaman yang jaraknya lebih jauh dari kamar mandi? Kasihan tanamanku sampai mati. Kepanasan kena air kencing!
"Bapak juga, kan, yang membuang semua cangkang telur yang kukumpulkan? Juga sampah dapur yang kuminta dari Ibu, padahal semua itu mau kujadikan kompos. Apa Bapak tak ada kegiatan lain selain merusuhi seisi rumah, Bu?"
"Kamu lupa, bapakmu pensiunan? Memang hanya itulah yang bisa dikerjakannya. Kalau diam saja, bapakmu akan mengeluh bosan."
Usai menjawab, Ibu melintasiku sambil menyandang tas kain berukuran sedang. Baju rumahnya sudah berganti dengan gamis hitam berbordir penuh di bagian ujung lengan. Hari ini Rabu, jadwal pengajian di surau. Senin kemarin beliau mengikuti tahsin di rumah guru ngajinya. Malam Jumat nanti jadwal yasinan dari rumah ke rumah, bergantian setiap minggu.
Sudah kubilang, ibuku seorang yang aktif. Dan semua kegiatannya bermanfaat. Tidak seperti suami beliau.
Ah, ya, di mana Bapak sekarang? Aku tak melihatnya sejak kutemukan ia mengencingi tanamanku tadi pagi.
Aku melangkah ke ruang tengah. Televisi masih menyala, menampilkan berita siang yang membosankan dengan volume agak keras. Kursi tua favorit Bapak kosong. Kamarnya pun lengang, dengan pintu lemari terbuka setengah.
"Pak? Bapak?" panggilku sambil melangkah ke halaman belakang.
Nihil.
Kekesalanku yang tadi menggunung mendadak berganti menjadi secuil rasa asing yang menggelitik dada: cemas.
Bapak tidak pernah pergi jauh sendirian karena fisiknya sudah lemah. Aku berjalan ke depan rumah, berniat menanyakannya kepada tetangga. Namun, saat melewati teras, mataku tertuju pada tumpukan rongsokan baru yang tadi sempat membuatku mengamuk.
Di atas meja kayu yang lapuk, ada sebuah kardus mi instan terbuka. Di dalamnya, buku-buku tua yang tadi pagi dipindahkan Bapak dari lemari baju tergeletak rapi. Di samping kardus itu, ada selembar kertas robek dengan tulisan tangan gemetar menggunakan pulpen tinta hitam.
Aku mendekat dan mengambil kertas itu. Tulisannya cakar ayam, khas tulisan tangan Bapak yang kini sering gemetar.
Baju di lemari harus dikeluarkan semua. Takut basah kena banjir tahun sembilan enam. Buku-buku penting ini harus diselamatkan di lemari baju biar tidak hanyut. Banjirnya sudah dekat.
Duniaku mendadak seperti berhenti berputar. Dadaku dihantam rasa sesak yang begitu hebat.
Banjir tahun 1996.
Itu tahun ketika rumah kami tenggelam hingga ke atap. Seluruh dokumen penting, buku-buku kuliahku yang baru kubeli, serta foto-foto masa kecilku hanyut tak bersisa. Waktu itu, Bapak menangis berhari-hari karena merasa gagal menjaga harta benda keluarga.
Sekarang, tiga puluh tahun kemudian, ingatan Bapak ternyata terjebak di sana. Di kepala tuanya yang mulai rusak, ia tidak sedang merusak rumah. Ia sedang mencoba menyelamatkanku dari banjir masa lalu.
"Mbak! Mbak Dian!"
Suara teriakan dari arah pagar membuyarkan lamunanku. Pak RT datang sambil memegangi lengan Bapak yang berjalan dengan pandangan kosong. Celana panjang Bapak basah di bagian bawah dan sebelah sandalnya hilang.
"Tadi bapakmu jalan sampai dekat sungai di ujung gang, Mbak. Ditanya mau ke mana, katanya mau nyari tukang sampah yang bawa cangkang telur. Katanya cangkang telurnya mau dipakai anaknya buat bikin pupuk tanaman," ujar Pak RT dengan napas terengah-engah.
Aku mematung. Pandanganku beralih pada wajah Bapak yang legam ditelan usia. Lelaki yang kubenci karena bertingkah seperti bocah itu kini menatapku dengan mata keruh, lalu tersenyum polos tanpa beban.
"Bapak nggak ketemu cangkang telurnya, Nduk. Maaf, ya. Nanti Bapak cari lagi kalau banjirnya sudah surut," bisik Bapak lirih. Suaranya parau.
Pertahananku runtuh seketika. Air mata yang jarang sekali keluar kini menetes tanpa bisa kutahan. Segala gerutu, makian, dan kebencian yang kupelihara berbulan-bulan menguap, digantikan rasa bersalah yang teramat sangat.
Di balik segala kekacauan yang dibuatnya, ingatan Bapak yang tersisa hanyalah tentang bagaimana cara membantuku.
Aku melangkah maju, meraih tubuh ringkih itu, lalu memeluknya erat—sesuatu yang sudah puluhan tahun tak pernah kulakukan lagi kepada Bapak.
"Nggak apa-apa, Pak. Nggak apa-apa. Banjirnya sudah surut. Ayo, kita masuk," bisikku di telinganya.
Dalam hati, aku berjanji, besok aku tidak akan menggerutu lagi saat teras rumah kembali berantakan.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Tayang 18 November, Drama Sound:Track Hadirkan 8 Cerita dari Lagu Berbeda
-
Dari Masjid Ke Masjid, Menyusuri Jejak Sejarah di Sudut Jakarta
-
Jadwal MotoGP Qatar 2026: Balapan di Tengah Isu Perang, Tim Yamaha Mundur
-
Daftar Diskusi Pra-Nikah: Obrolan Bare Minimum Sebelum Kamu Bilang 'I Do'
-
Tayang Besok, Sinopsis Sunshine Through the Rain: Dracin Romansa Remaja