Tidak semua rasa sakit dapat lenyap begitu saja meskipun waktu terus berjalan. Ada pengalaman buruk yang mungkin sudah berhasil diterima, tetapi ingatannya tetap tersimpan dan meninggalkan bekas dalam kehidupan seseorang. Melalui buku Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau, M. Aan Mansyur mengajak pembaca menyelami berbagai bentuk penderitaan manusia, mulai dari persoalan pribadi, hubungan keluarga, hingga luka kolektif yang muncul akibat keadaan sosial dan sejarah.
Buku ini merupakan kumpulan puisi yang dibagi menjadi lima bagian dengan tema berbeda. Bagian pembuka membawa pembaca berkenalan dengan dunia bahasa dan segala kemungkinan yang dapat diciptakan melalui kata-kata. Di dalamnya terdapat perenungan mengenai proses menulis, kehidupan sehari-hari, pertanyaan yang belum menemukan jawaban, kesedihan, serta keberanian mengungkapkan sesuatu yang selama ini tersimpan dalam pikiran.
Pembahasan kemudian bergerak menuju kehidupan keluarga. Melalui puisi-puisi yang lebih intim, Aan menghadirkan kenangan tentang rumah masa kecil, sosok ibu, anak-anak, serta hubungan antara anggota keluarga.
Ada percakapan dan perasaan yang menggambarkan kedekatan sekaligus kerumitan hubungan antarmanusia. Bagian ini terasa menarik karena memperlihatkan bahwa keluarga bukan hanya tempat seseorang menemukan kasih sayang, melainkan juga ruang tempat berbagai kerentanan dan ketidaksempurnaan hadir.
Pada bagian berikutnya, Aan memberikan perhatian khusus kepada Makassar. Kota tersebut tidak sekadar menjadi latar, tetapi hadir sebagai ruang yang menyimpan berbagai cerita dan dinamika kehidupan. Salah satu puisi terpanjang dalam buku ini ditempatkan pada bagian tersebut.
Setelahnya, pembaca diajak melihat persoalan yang lebih luas melalui puisi-puisi bertema negara, kehidupan sosial-politik, reformasi, pergantian tahun, dan kehilangan. Sebagai penutup, terdapat satu puisi pendek berjudul "dan" yang menghadirkan kesan tentang sesuatu yang tidak lagi utuh.
Sejujurnya, saya bukan pembaca yang terbiasa menikmati kumpulan puisi. Namun, karena nama M. Aan Mansyur sudah cukup dikenal, saya merasa penasaran untuk membaca salah satu karyanya. Dengan ketebalan sekitar 100 halaman, buku ini ternyata cukup menyenangkan untuk diikuti.
Beberapa puisinya memang membutuhkan perhatian lebih agar maknanya dapat dipahami, tetapi justru di situlah letak pengalaman menariknya. Saya bisa membaca ulang satu puisi dan menemukan pemaknaan yang berbeda setelah merenungkannya.
Hal yang paling membekas bagi saya adalah gagasan bahwa kesembuhan tidak selalu berarti hilangnya seluruh jejak penderitaan. Seseorang mungkin sudah mampu menerima perpisahan, kehilangan, atau perlakuan buruk yang pernah dialaminya. Akan tetapi, ingatan mengenai peristiwa tersebut tidak otomatis terhapus. Bekasnya mungkin tidak lagi terasa menyakitkan setiap hari, tetapi tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup. Menurut saya, pemikiran inilah yang membuat judul buku tersebut terasa begitu kuat.
Saya juga tertarik dengan cara Aan memperlihatkan dirinya sebagai manusia biasa melalui berbagai peran, baik sebagai seorang anak, suami, maupun ayah. Ia tidak menggambarkan orang tua sebagai sosok tanpa cela. Sebaliknya, ada pengakuan mengenai keterbatasan dan kerapuhan dalam menjalani kehidupan keluarga. Hal ini mengingatkan saya bahwa seseorang tetap bisa mencintai keluarganya meskipun tidak selalu mampu memenuhi setiap harapan.
Selain itu, buku ini mengingatkan pembaca untuk mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri. Setiap orang memiliki hak atas tubuh, perasaan, dan keraguan yang dialaminya. Tidak semua hal harus mendapatkan pembenaran dari orang lain agar dapat diterima sebagai bagian dari diri sendiri.
Di sisi lain, puisi-puisi mengenai Makassar dan persoalan kenegaraan memperlihatkan bahwa penderitaan tidak selalu bersifat individual. Ketidakadilan, peristiwa reformasi, dan kehilangan juga meninggalkan luka bagi masyarakat. Dibandingkan karya Aan yang lebih personal, buku ini terasa lebih berat karena menyentuh persoalan kolektif dan ketertindasan. Nuansa tersebut juga berkaitan dengan masa pandemi ketika karya ini ditulis dan diterbitkan.
Secara keseluruhan, Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau merupakan bacaan reflektif yang mengajak pembaca memahami manusia melalui luka, cinta, keluarga, dan realitas sosial. Buku ini mengingatkan bahwa menerima masa lalu bukan berarti harus melupakan segalanya, sebab beberapa pengalaman memang akan selalu menjadi bagian dari diri kita.
Identitas Buku
Judul: Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau
Penulis: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786020644813
Baca Juga
-
Anomali: Memoar Seorang Bipolar, Kisah Perjuangan Mengenali Diri di Tengah Gejolak Mental
-
Keberuntungan Sedang Menghampirimu: Ketika Kepedulian Menjadi Jalan Menuju Harapan
-
Tak Apa-Apa Tak Sempurna: Belajar Menerima Diri dan Menjalani Hidup dengan Lebih Bahagia
-
Hargai Diri Sendiri dan Berhentilah Tersakiti: Menempatkan Kebahagiaan di Atas Ekspektasi Orang Lain
-
You Do You: Belajar Mengenali Diri dan Menentukan Arah Hidup
Artikel Terkait
Ulasan
-
Tragedi Cinta di Tengah Revolusi Prancis dalam Novel Kisah Dua Kota
-
Ulasan Novel Para Priyayi, Menjadi Terhormat Bukan Sekadar soal Jabatan
-
Research Design dan Pentingnya Pemahaman Metodologi bagi Mahasiswa
-
Review The Intern: Sindiran Budaya Kerja Korea yang Dikemas Komedi
-
Anomali: Memoar Seorang Bipolar, Kisah Perjuangan Mengenali Diri di Tengah Gejolak Mental
Terkini
-
ZeroBaseOne EMP Hadapi Tantangan Lintas Generasi di Lagu Run x Dynamic Duo
-
Banjirnya Sudah Surut
-
Tayang 18 November, Drama Sound:Track Hadirkan 8 Cerita dari Lagu Berbeda
-
Dari Masjid Ke Masjid, Menyusuri Jejak Sejarah di Sudut Jakarta
-
Jadwal MotoGP Qatar 2026: Balapan di Tengah Isu Perang, Tim Yamaha Mundur