Ada sesuatu yang mengganggu ketika hal yang identik dengan masa kecil justru digunakan sebagai sumber kengerian. Itulah permainan utama yang ditawarkan Ice Cream Man, film horor terbaru garapan Eli Roth.
Alih-alih menghadirkan rumah tua, hutan terpencil, atau rumah sakit terbengkalai sebagai pusat teror, film ini memilih sesuatu yang jauh lebih akrab, mobil penjual es krim yang berkeliling di lingkungan kota kecil.
Namun, di tangan Eli Roth, nostalgia tersebut tidak bertahan lama. Es krim yang seharusnya menjadi hadiah menyenangkan bagi anak-anak justru menjadi awal dari kekacauan.
Film ini tayang di Amerika Utara pada 7 Agustus 2026 dan memiliki durasi sekitar 86 menit. Roth menyutradarai sekaligus ikut menulis skenario bersama Noah Belson.
Sinopsis Ice Cream Man
Ice Cream Man mengambil latar sebuah kota kecil yang pada awalnya terlihat tenang dan ideal. Kehidupan masyarakat berjalan seperti biasa sampai kehadiran seorang penjual es krim misterius mulai mengubah suasana.
Sosok tersebut diperankan Ari Millen, yang sebelumnya dikenal melalui Orphan Black.
Penjual es krim ini bukan sekadar karakter aneh yang lewat sesekali. Ia menjadi pintu masuk bagi teror yang kemudian menyebar ke seluruh kota. Es krim yang dibagikannya memiliki konsekuensi mengerikan dan membuat anak-anak berubah menjadi sosok yang jauh berbeda dari perilaku mereka sebelumnya.
Premis tersebut menjadi fondasi utama film tentang bagaimana sesuatu yang polos dan menyenangkan dapat berubah menjadi sumber kekacauan.
Roth memang tidak membangun cerita dengan struktur yang terlalu rumit. Fokusnya lebih diarahkan pada situasi absurd dan ekstrem yang terus meningkat.
Anak-anak yang seharusnya menjadi kelompok paling polos justru menjadi ancaman bagi orang-orang dewasa di sekitar mereka.
Konsep ini memberikan warna berbeda bagi subgenre horor tentang anak-anak berbahaya. Film tidak berusaha membuat mereka terlihat seperti monster klasik. Sebaliknya, mereka tetap memiliki energi dan keceriaan khas anak-anak, hanya saja perilaku tersebut ditempatkan dalam situasi yang sangat brutal.
Kontras antara dunia masa kanak-kanak dan kekerasan menjadi salah satu sumber keanehan film. Adegan bermain, lingkungan sekolah, serta aktivitas sehari-hari mendapatkan makna baru ketika karakter-karakter kecil tersebut mulai melakukan tindakan yang tidak terduga.
Horor Gore yang Mengandalkan Efek Praktis
Jika ada satu elemen yang paling mencolok dari Ice Cream Man, jawabannya adalah efek gore. Film ini jelas tidak dibuat untuk penonton yang mudah merasa ngilu melihat darah, luka, atau tubuh manusia dalam kondisi mengenaskan.
Alih-alih menyembunyikan kekerasan di luar layar, film justru menjadikannya bagian dari pertunjukan utama. Berbagai adegan ekstrem dirancang untuk menghasilkan reaksi spontan dari penonton. Karena itu, departemen tata rias dan prostetik memiliki peran yang sangat besar dalam menciptakan identitas visual film.
Pendekatan tersebut terasa semakin menarik karena horor modern semakin sering memanfaatkan efek digital. Ice Cream Man justru memberikan ruang besar kepada efek praktis untuk menghadirkan tubuh, luka, dan berbagai bentuk kehancuran fisik secara langsung di depan kamera.
Hasilnya adalah visual yang terasa kasar, berlebihan, dan sengaja dibuat menjijikkan. Film seolah tidak ingin penonton merasa nyaman. Bahkan beberapa adegannya memiliki sentuhan komedi gelap sehingga rasa jijik dan geli dapat muncul hampir bersamaan.
Gaya tersebut memang sangat identik dengan Eli Roth. Sebelumnya, ia dikenal lewat film seperti Cabin Fever, Hostel, dan Thanksgiving, yang juga mengeksplorasi kekerasan tubuh sebagai bagian penting dari pengalaman horor. Ice Cream Man kembali menunjukkan kecenderungan tersebut dengan konsep yang lebih liar.
Menariknya, film ini tidak hanya mengandalkan darah untuk mengejutkan penonton. Beberapa momen justru terasa seperti lelucon visual yang sengaja dibuat kelewat batas. Hasilnya adalah perpaduan antara splatter, black comedy, dan absurditas.
Eli Roth dan Horor yang Sengaja Melampaui Batas
Di balik kegilaannya, Ice Cream Man juga terasa seperti proyek yang sangat personal bagi Eli Roth. Film ini dikembangkan dari ide yang sudah lama ingin diwujudkannya, tetapi menurut materi promosi film, proyek tersebut sempat sulit mendapatkan pendanaan studio karena premisnya dianggap terlalu ekstrem. Roth kemudian memproduksinya melalui perusahaan miliknya, The Horror Section.
Pilihan tersebut terasa relevan dengan karakter filmnya. Ice Cream Man memang tidak tampak dibuat untuk memenuhi formula horor arus utama. Film ini justru mengambil kebebasan untuk menjadi seaneh dan sebrutal mungkin.
Ari Millen juga menjadi elemen penting. Sebagai sosok penjual es krim yang tenang dan misterius, ia tidak harus terus-menerus melakukan aksi besar untuk menciptakan ketidaknyamanan. Kehadirannya saja sudah memberikan kesan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di balik senyum dan mobil es krim tersebut.
Film ini juga tidak sepenuhnya bergantung pada karakter penjual es krim sebagai pembunuh utama. Anak-anak yang terpengaruh menjadi bagian penting dari sumber kekacauan. Konsep itu membuat ancaman terasa menyebar dan tidak mudah dikendalikan.
Pada akhirnya, Ice Cream Man paling cocok bagi penonton yang memang menikmati horor ekstrem, efek praktis, gore, dan komedi gelap. Film ini bukan tontonan yang mengutamakan kedalaman psikologis atau alur penuh teka-teki.
Daya tariknya justru berada pada keberanian mengeksplorasi premis yang absurd dan mendorongnya sejauh mungkin.
Dengan durasi 86 menit, Ice Cream Man bergerak sebagai sajian horor yang padat, brutal, dan tidak terlalu banyak basa-basi. Jika Anda menyukai horor yang sengaja dibuat berlebihan dan tidak takut bermain dengan rasa jijik sekaligus humor, film ini menawarkan pengalaman yang sangat spesifik masa kecil, es krim, dan kekacauan berdarah dalam satu paket yang sama sekali tidak manis.
Baca Juga
-
Esensi The End of Oak Street: Teror Dinosaurus yang Memburu Satu Keluarga
-
Awas Tersesat! Film Horor 'Urang Bunian' Siap Bawa Penonton Masuk ke Dimensi Lain
-
Raphinha Mesin Gol Baru FC Barcelona: 12 Gol dan Jadi Top Scorer La Liga
-
Menang Beruntun! Barcelona Tundukkan Sevilla 3-1 dan Tuntaskan Tujuh Laga
-
Review Can This Love Be Translated?: Cinta Tak Semudah Menerjemahkan Kata
Artikel Terkait
-
Aming Ingin Warga Rusun 609 Jadi Hiburan di Tengah Situasi Sulit
-
Film Menang Untuk Kalah, Kisah Keluarga yang Terjebak Masalah Finansial Siap Tayang di Bioskop
-
Sinopsis Doubt: 15-nenme no Fukushuu, Drama Thriller Dibintangi Nimura Sawa
-
Awas Tersesat! Film Horor 'Urang Bunian' Siap Bawa Penonton Masuk ke Dimensi Lain
-
Ini Alasan Laura Moane Pilih The Doll Ghawiah Jadi Debut Horornya yang Penuh Darah
Ulasan
-
Mengajari Anak untuk Puasa dan Taqwa Lewat Buku Ramadan for Everyone
-
Review Furious: Obsesi Gelap dan Batas Moral Penegak Hukum yang Kabur!
-
Review Buku Nadira: Perjalanan Panjang Berdamai dengan Luka
-
Review Film Whoever Steals This Book: Keajaiban Fantasi Dunia Literatur
-
Rindu yang Menjelma Kabut Pagi: Rumah itu Berupa Luka dan Kenangan
Terkini
-
Reuni Usai 10 Tahun, Yoo Yeon Seok dan Seo Hyun Jin Tampil Tegang di The Perfect Lie
-
Solusi Cerdas Kelola Sampah Organik: Ubah Sisa Dapur Menjadi Pakan Ternak Berprotein
-
4 Moisturizer Korea Birch Sap Jaga Kelembapan Kulit untuk Skin Barrier Kuat
-
Jangan Keliru Lagi! Ini 5 Perbedaan Mencolok Sushi dan Kimbap yang Sering Bikin Tertukar
-
Sinopsis Doubt: 15-nenme no Fukushuu, Drama Thriller Dibintangi Nimura Sawa