Selasa Bersama Morrie merupakan buku karya Mitch Albom yang pertama kali diterbitkan pada 1997 dengan judul asli Tuesdays with Morrie. Buku ini mengangkat kisah nyata tentang hubungan antara Mitch Albom dan Morrie Schwartz, mantan dosen sosiologi yang pernah memberikan banyak pelajaran kepadanya.
Buku ini terasa berbeda karena pembahasannya tidak hanya berpusat pada satu cerita, tetapi juga mengajak pembaca memikirkan kembali hal-hal sederhana dalam hidup. Melalui percakapan tentang keluarga, cinta, pekerjaan, rasa takut, hingga kematian, Selasa Bersama Morrie menghadirkan berbagai pelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Isi Buku Selasa Bersama Morrie
Cerita dimulai dari kehidupan Mitch Albom setelah lulus kuliah. Ia pernah berjanji kepada Morrie untuk tetap berhubungan, tetapi kesibukan membuat hubungan mereka perlahan terputus. Bertahun-tahun kemudian, Mitch mengetahui bahwa Morrie sedang sakit parah setelah melihatnya dalam sebuah acara televisi. Kabar tersebut membuat Mitch kembali mengingat sosok dosen yang dulu sangat dekat dengannya.
Mitch akhirnya menemui Morrie dan mendapati bahwa kondisi gurunya semakin melemah. Meski begitu, Morrie masih ingin berbicara dan berbagi pemikirannya. Mitch kemudian mulai datang setiap hari Selasa. Pertemuan mereka berlangsung sederhana di rumah Morrie, tetapi percakapan yang muncul justru membahas pertanyaan-pertanyaan besar yang sering dihindari orang dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu hal penting yang dibicarakan adalah cara memandang hidup dan kematian. Morrie tidak menganggap kematian sebagai sesuatu yang harus terus ditakuti. Ia justru mengajak Mitch menerima kenyataan bahwa hidup memiliki batas, sehingga waktu yang ada sebaiknya digunakan untuk hal-hal yang benar-benar berarti. Pembahasan tentang kematian ini juga membuat Mitch perlahan melihat kehidupannya sendiri dengan cara yang berbeda.
Mereka juga berbicara tentang keluarga, cinta, dan hubungan dengan orang lain. Morrie menilai kasih sayang dan perhatian jauh lebih penting daripada mengejar kesuksesan atau harta. Ia mengingatkan Mitch bahwa manusia membutuhkan orang lain dan tidak seharusnya menjalani hidup hanya untuk memenuhi tuntutan dunia. Keluarga dan hubungan yang tulus menjadi bagian yang terus ditekankan dalam percakapan mereka.
Pada pertemuan-pertemuan berikutnya, pembicaraan mereka semakin luas, mulai dari penyesalan, rasa takut, penuaan, uang, pernikahan, hingga memaafkan. Morrie juga membahas bagaimana seseorang bisa tetap memiliki kehidupan yang berarti meskipun tubuhnya semakin lemah. Sementara itu, Mitch mulai menyadari bahwa kesibukannya selama ini membuat dirinya terlalu jauh dari hal-hal yang sebenarnya penting.
Semakin sering bertemu, hubungan Mitch dan Morrie kembali terasa seperti hubungan guru dan murid, tetapi kali ini Mitch datang bukan untuk mengikuti pelajaran di ruang kelas. Ia datang untuk mendengarkan pengalaman Morrie dan belajar memahami kehidupan dari sudut pandang seseorang yang sedang menghadapi kematian. Pertemuan setiap Selasa itu kemudian menjadi kenangan terakhir mereka sekaligus pelajaran yang terus dibawa Mitch setelah kepergian Morrie.
Membaca buku ini rasanya kayak ikut duduk dan mendengarkan obrolan dari dekat. Lewat kisah nyata kunjungan rutin Mitch Albom ke rumah mantan dosennya, Morrie Schwartz, yang lagi sakit parah, kita diajak ikut masuk ke dalam percakapan mereka. Serunya, obrolan setiap hari Selasa sama sekali nggak terasa seperti ceramah, melainkan percakapan jujur yang mengalir apa adanya antara dua orang yang pernah dekat sebagai dosen dan murid.
Jujur, bagian yang paling bikin saya mikir keras adalah pas melihat cara Morrie menikmati sisa hidupnya. Di saat badannya pelan-pelan lumpuh, semangatnya malah jauh lebih hidup dibanding kita yang sehat-sehat saja. Membaca buku ini bikin saya langsung berkaca dan tersadar, kalau selama ini kita sering banget capek sendiri ngejar harta atau pembuktian diri, sampai lupa sama hal-hal simpel yang justru paling bikin bahagia.
Mitch Albom juga menulis buku ini dengan bahasa yang enteng, jujur, dan nggak bertele-tele. Semua emosinya kerasa real banget sampai ke hati, bahkan ada beberapa momen yang bikin saya harus berhenti baca sebentar cuma buat merenung karena saking tersentuhnya sama hubungan tulus mereka.
Buat saya pribadi, Selasa Bersama Morrie bukan cuma buku tentang perpisahan, tapi semacam pengingat buat kita untuk lebih menghargai hidup. Buku ini sukses mengubah cara pandang saya tentang apa yang sebenarnya penting dalam hidup ini. Pas banget dibaca buat siapa saja yang lagi merasa capek, jenuh, atau butuh suntikan semangat baru.
Baca Juga
-
Intip Isi Special Look Avengers: Doomsday, Ada Doom hingga X-Men
-
Harga Tiket Ed Sheeran Anjlok Setelah Macklemore Dikeluarkan dari Tur
-
Review Film Urang Bunian: Teror Makhluk Gaib di Hutan Sumatera
-
Ulasan Series Sugar Daddy: Cinta yang Tumbuh dari Hubungan Tak Biasa
-
Gandeng Apple, Video Musik 'New Trick' Ros Resmi Dirilis Sebelum Album Kedua
Artikel Terkait
Ulasan
-
Esensi Teror Berdarah di Balik Manisnya Es Krim dalam Film Ice Cream Man
-
Mengajari Anak untuk Puasa dan Taqwa Lewat Buku Ramadan for Everyone
-
Review Furious: Obsesi Gelap dan Batas Moral Penegak Hukum yang Kabur!
-
Review Buku Nadira: Perjalanan Panjang Berdamai dengan Luka
-
Review Film Whoever Steals This Book: Keajaiban Fantasi Dunia Literatur
Terkini
-
Fenomena 'No Viral, No Justice' dalam Kasus Rumah Ibadah: Alarm Bahaya bagi Demokrasi
-
Sustainable Lifestyle dan Budaya Konsumtif: Peduli atau Cuma Ikut-ikutan?
-
Reuni Usai 10 Tahun, Yoo Yeon Seok dan Seo Hyun Jin Tampil Tegang di The Perfect Lie
-
Solusi Cerdas Kelola Sampah Organik: Ubah Sisa Dapur Menjadi Pakan Ternak Berprotein
-
4 Moisturizer Korea Birch Sap Jaga Kelembapan Kulit untuk Skin Barrier Kuat