Wildspeak karya Sangma Francis adalah buku bergambar yang mengajak anak melihat alam dengan cara yang lebih dekat, teliti, dan imajinatif.
Di dalamnya, perjalanan menjelajah alam berubah menjadi permainan menemukan kata. Buku ini mempertemukan kosakata alam yang nyata dengan kata-kata baru yang lahir dari imajinasi anak.
Kisahnya membawa pembaca menyusuri berbagai lanskap, mulai dari aliran sungai, padang rumput, pantai, pegunungan, hingga hutan.
Setiap tempat menghadirkan sesuatu untuk diamati, mulai dari lalat capung, siput laut, burung jalak, sampai semak berduri. Dari pengamatan sederhana itulah muncul kegembiraan untuk memberi nama pada keindahan yang sulit dijelaskan dengan kata biasa.
Salah satu daya tarik Wildspeak adalah konsep wildspeak itu sendiri. Sangma Francis memperkenalkan kata-kata ciptaan seperti SUNGLITTER untuk menggambarkan aliran sungai yang berkelok dan berkilauan.
Ada pula CLOUDBLOOM yang menggambarkan momen ketika warna matahari terbenam seolah menyentuh langit.
Permainan bahasa tersebut membuat pengalaman membaca terasa berbeda. Anak tidak hanya diajak mengetahui nama sesuatu di alam, tetapi juga diberi kebebasan untuk membayangkan bagaimana sesuatu terasa, bergerak, bercahaya, atau berubah.
Dengan begitu, bahasa menjadi jembatan antara pengetahuan dan kreativitas.
Yang menarik, buku ini tidak menganggap ilmu pengetahuan dan imajinasi sebagai dua hal yang berlawanan. Istilah alam yang nyata hadir berdampingan dengan kata-kata ciptaan yang playful.
Perpaduan tersebut dapat membuat anak memahami bahwa mengamati alam dengan teliti justru bisa menjadi awal dari permainan kreatif.
Ilustrasi Lexi Vangsnes menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. Halaman-halamannya memadukan cat air, tekstur, kolase, dan detail yang membuat lanskap terasa hidup.
Perubahan sudut pandang juga membantu pembaca melihat alam dari jarak yang berbeda, terkadang luas dan terkadang sangat dekat.
Warna dan tekstur ilustrasi membuat setiap halaman terasa seperti ruang untuk menjelajah. Padang rumput tampak penuh gerakan, permukaan air terasa berkilau, sementara hutan menyimpan banyak detail kecil untuk diperhatikan.
Bahkan bentuk dan posisi kata di halaman ikut mendukung kesan bahwa bahasa sedang bergerak mengikuti alam.
Wildspeak juga menarik karena mendorong pembaca untuk melanjutkan petualangan setelah buku selesai dibaca. Anak dapat diajak berjalan-jalan di luar rumah sambil mengamati daun, batu, awan, serangga, atau suara di sekitar.
Setelah itu, mereka bisa menciptakan istilah sendiri untuk sesuatu yang belum memiliki nama yang terasa tepat.
Bagi orang tua dan pendidik, buku ini bisa menjadi teman yang menyenangkan untuk mengenalkan alam sekaligus memperkaya kosakata. Pembaca usia anak dapat belajar bahwa mengamati sesuatu dengan saksama adalah kegiatan yang menyenangkan.
Buku ini juga membuka kesempatan untuk mengajak anak berdiskusi tentang arti kata, bentuk alam, dan cara mereka menggambarkan dunia.
Keunikan lainnya terletak pada cara buku ini mengubah kegiatan melihat menjadi kegiatan berbahasa. Sesuatu yang biasanya hanya dilewati begitu saja dapat terasa istimewa ketika anak berhenti dan memperhatikannya.
Dari sana, mereka belajar bahwa kata-kata juga dapat menjadi alat untuk menyimpan rasa kagum.
Buku ini juga memiliki potensi sebagai bacaan bersama keluarga. Orang tua dapat membaca halaman demi halaman sambil mengajak anak mencari benda atau fenomena alam yang serupa di lingkungan sekitar.
Aktivitas sederhana tersebut membuat isi buku terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Untuk pembaca kecil yang menyukai buku penuh gambar, Wildspeak menawarkan pengalaman yang kaya. Informasi alam hadir secara alami melalui perjalanan dan pengamatan para tokohnya.
Sementara itu, kata-kata baru memberi ruang bagi anak untuk bermain dengan bahasa sesuai imajinasinya.
Pada akhirnya, Wildspeak bukan sekadar buku tentang alam, melainkan undangan untuk memperhatikan dunia dengan rasa ingin tahu.
Sangma Francis menunjukkan bahwa satu pemandangan sederhana dapat melahirkan pengetahuan, cerita, dan kata baru.
Dipadukan dengan ilustrasi Lexi Vangsnes yang kaya tekstur, buku ini menjadi bacaan visual yang hangat, kreatif, dan penuh kemungkinan
Baca Juga
-
Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik
-
I Built a Rocket Ship: Merangkai Kenangan untuk Seseorang yang Telah Pergi
-
Wanderers: Perjalanan Panjang Manusia Menaklukkan Jarak dan Waktu
-
Waiting for Iced Tea: Kisah Hangat tentang Kesabaran dan Keluarga
-
All Brains Welcome: Mengenal Autisme dan Disleksia dengan Cara Menyenangkan
Artikel Terkait
Ulasan
-
The Old Money Rules: Pelajaran Finansial dari Para Konglomerat
-
Review SCTV: The Greatest Show You've Never Heard Of, Jejak Tawa Legendaris
-
Mendidik Anak dengan Kasih Sayang ala Nabi dalam Happy Islamic Parenting
-
MobLand Season 2: Menguak Sisi Gelap Dinasti Kriminal Keluarga Harrigan!
-
Sentilan Isu Sosial dan Arti Ketulusan Keluarga di Novel Kado Terbaik
Terkini
-
Bye Kusam dan PIH! 4 Moisturizer Alpha Arbutin Cuma di Bawah Rp50 Ribuan
-
Ramai Isu Book Shaming: Saatnya Pembaca Bedakan Kritik Karya dengan Hinaan
-
Jika Presiden Saja Bisa Disadap, Seberapa Aman Privasi Digital Kita?
-
Dari Tagar ke Aksi Nyata: Bukti Gen Z Vocal Awasi Isu Negara, Bukan FOMO!
-
Belajar dari KHW 400: Ini 5 Insight Storytelling Nadia Omara Bagi Kreator