Salah satu film Korea lama yang membuat saya agak menyesal karena tidak menontonnya dari dulu, Brave Citizen, ternyata meninggalkan kesan yang memuaskan.
Brave Citizen merupakan film Korea yang dirilis pada tahun 2023, dibintangi Shin Hye-sun sebagai So Si-min dan Lee Jun-young sebagai Han Su-gang. Disutradarai Park Jin-pyo, film berdurasi 112 menit ini mengangkat persoalan perundungan di lingkungan sekolah melalui perpaduan aksi, drama, dan komedi.
So Si-min sebenarnya bukan orang yang lemah.
Di masa mudanya, ia merupakan seorang petinju berbakat. Namun kehidupan membuatnya memilih jalan yang lebih aman. Setelah berbagai pengalaman, Si-min bekerja sebagai guru kontrak dan memiliki satu tujuan sederhana, mendapatkan status sebagai guru tetap.
Karena itulah ia belajar untuk tidak banyak ikut campur.
Melihat ketidakadilan? Diam.
Melihat masalah? Pura-pura tidak tahu.
Ada murid yang melakukan sesuatu? Lebih baik jangan mencari masalah.
Apalagi ketika yang dihadapi adalah Han Su-gang, siswa yang memiliki pengaruh dan koneksi kuat sehingga orang-orang di sekitarnya memilih untuk berhati-hati. Masalahnya, diam ternyata tidak membuat masalah menghilang. Justru sebaliknya.
Su-gang semakin berani melakukan perundungan. Ia tidak hanya menyakiti murid lain, tetapi juga memanfaatkan posisi dan ketakutan orang-orang di sekitarnya untuk terus melakukan apa yang ia inginkan. Di sinilah Brave Citizen mulai terasa relevan dengan kehidupan nyata.
Kita sering berpikir bahwa selama kita tidak terlibat, maka masalah tersebut bukan urusan kita. Tidak semua orang memiliki keberanian untuk berhadapan langsung dengan sesuatu yang salah. Terlebih ketika ada ketimpangan kekuasaan yang membuat seseorang merasa tidak memiliki posisi untuk melawan.
Si-min pun awalnya seperti itu. Ia bukan tidak tahu bahwa ada sesuatu yang salah. Ia hanya memilih untuk tidak melihatnya. Sampai akhirnya ada titik ketika diam terasa jauh lebih sulit daripada bertindak. Dan dari sinilah sosok "Citizen" dalam dirinya muncul.
Yang menarik, film ini tidak menggambarkan keberanian sebagai sesuatu yang selalu dimiliki seseorang sejak awal. Si-min justru harus berhadapan dengan ketakutannya sendiri sebelum akhirnya mengambil tindakan. Ia bahkan menyembunyikan identitasnya dengan menggunakan topeng.
Mungkin karena menjadi berani bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Berani justru berarti tetap melakukan sesuatu meskipun kita takut terhadap konsekuensinya.
Tentu saja, tindakan Si-min sebagai vigilante bukan sesuatu yang harus diterapkan begitu saja dalam kehidupan nyata. Film ini menggunakan aksi dan pertarungan sebagai bagian dari hiburan sekaligus cara dramatik untuk menghadapi persoalan bullying.
Namun, pesan yang berada di baliknya terasa jauh lebih penting daripada adegan pukul-pukulannya. Jangan membiarkan ketidakadilan menjadi sesuatu yang dianggap normal hanya karena semua orang memilih diam.
Di titik ini, keberanian tidak selalu harus berarti maju dan melawan secara langsung. Kadang keberanian bisa sesederhana mengatakan bahwa sesuatu itu salah. Melaporkan kejadian kepada pihak yang tepat. Mendampingi korban. Tidak ikut menertawakan seseorang yang sedang dirundung.
Atau sekadar bertanya, “Kamu baik-baik saja?”
Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat sepele. Namun bagi seseorang yang sedang merasa sendirian, keberadaan satu orang yang berpihak kepadanya bisa memiliki arti yang besar. Dan menurut saya, di situlah Brave Citizen menjadi lebih dari sekadar film aksi.
Film ini juga berbicara tentang tanggung jawab sosial. Tentang bagaimana lingkungan dapat ikut menentukan apakah seseorang yang melakukan kesalahan akan terus merasa aman atau akhirnya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Tak Akan Ada yang Berubah Jika Kita Berdiam Diri
Karena terkadang, ketidakadilan bertahan bukan hanya karena ada orang yang melakukan kesalahan, tetapi juga karena terlalu banyak orang yang memilih diam. Dan mungkin itulah alasan mengapa kutipan “Tak akan ada yang berubah jika kita berdiam diri” terasa begitu kuat.
Kalimat itu bukan berarti kita harus selalu melawan dengan cara yang keras. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa perubahan membutuhkan tindakan, sekecil apa pun bentuknya.
Pada akhirnya, Brave Citizen memang menghadirkan aksi yang menghibur dan karakter utama yang menyenangkan untuk diikuti. Namun setelah adegan pertarungannya selesai, ada pertanyaan yang justru tertinggal,
"Kalau suatu hari kita melihat seseorang diperlakukan tidak adil, apakah kita akan memilih untuk berpura-pura tidak melihat?"
Mungkin kita tidak harus menjadi seperti So Si-min. Kita tidak perlu memakai topeng. Tidak perlu berkelahi. Tidak perlu menjadi pahlawan. Tetapi kita bisa mulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana, yaitu tidak diam ketika suara kita masih bisa digunakan untuk membantu seseorang.
Sebab pada akhirnya, keberanian bukan selalu tentang siapa yang paling kuat melawan. Kadang, keberanian hanya tentang memutuskan untuk tidak lagi berpura-pura bahwa kita tidak melihat. Sudahkah kamu menonton film aksi yang satu ini?
Baca Juga
-
Mark Siap Comeback Kedua Usai Tinggalkan NCT, Single Baru Rilis November!
-
Maudy Ayunda Minta Maaf, Bukti Nasihat Kesehatan Mental Tak Selalu Bisa Dipukul Rata
-
Review Film Soulmate: Pahami Bahwa Belahan Jiwa Tak Selalu Kekasih Romantis
-
Ulasan Your Lie in April: Tentang Belajar Hidup sebelum Semuanya Terlambat
-
Nonton Ulang Your Name: Saat Gen Z Terhubung dengan Banyak Orang, tapi Merasa Kesepian
Artikel Terkait
-
Review The Great Flood: Saat Film Bencana Berubah Jadi Misteri Sci-Fi yang Bikin Pikiran Meledak!
-
Review Film Once We Were Us: Ternyata Cinta Saja Tak Selalu Cukup
-
Sukses Besar! Sutradara Mengaku Sudah Siapkan Naskah Sekuel Film Hope
-
20th Century Girl: Cinta Pertama yang Tidak Selalui Berakhir Bahagia
-
5 Mix and Match Outfit Kasual ala Lee Jun Young, Bikin Gaya Makin Stylish
Ulasan
-
Ulasan Lie After Lie: Saat Kebohongan Menjadi Satu-satunya Jalan Keluar
-
Soto Mbak Mar Andalan Warga Nganjuk, Pencinta Kuliner Jawa Timur Merapat!
-
Belajar Berdamai dengan Kehilangan Melalui Lagu Untuk yang Bersama Nya
-
Review The Stunt Driver: Kisah Nyata Luar Biasa, tapi Filmnya Biasa Saja
-
Ulasan Film Akal Imitasi: Saat Teknologi Canggih Mulai Menggantikan Guru
Terkini
-
Sinopsis Doctor X: Dokter Jenius Melawan Mafia Rumah Sakit, Rilis 9 Oktober
-
Di Bawah Rp29 Ribu! 4 Sheet Mask Niacinamide Murah yang Ampuh Bikin Glowing
-
Stoikisme: Tetap Peduli Sesama tanpa Terjebak dalam Kecemasan, Apakah Bisa?
-
Fenomena Hujatan Massal di Medsos: Kenapa Orang Lebih Berani Jahat di Kolom Komentar?
-
Sinopsis 3mm Love, Film Korea-Jepang Dibintangi Kim Ji An dan Kurokawa Soya