Bicara soal menjadi tua sering kali identik dengan tubuh yang mulai melemah dan berbagai hal yang tidak lagi bisa dilakukan seperti saat muda. Namun, buku How to Grow Old justru mengajak kita melihat masa tua dari sisi yang berbeda. Buku ini membahas bagaimana seseorang tetap bisa menikmati hidup, berpikir jernih, dan menjalani usia lanjut dengan tenang.
Buku ini diangkat dari esai klasik De Senectute karya Marcus Tullius Cicero. Isinya ditulis dalam bentuk dialog antara Cato si Penatua dengan dua pemuda berusia tiga puluhan. Lewat percakapan mereka, Cicero membahas empat hal yang sering membuat orang takut menjadi tua, yaitu kehilangan kemampuan untuk bekerja, tubuh yang semakin lemah, berkurangnya kenikmatan hidup, dan kematian yang semakin dekat.
Menurut Cicero, menjadi tua bukan berarti seseorang sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Setiap usia punya kelebihan masing-masing. Masa muda memang lebih kuat secara fisik, tetapi usia tua punya pengalaman, kebijaksanaan, dan kemampuan berpikir yang lebih matang. Karena itu, orang yang sudah tua tetap bisa memberikan pengaruh besar lewat pemikiran dan keputusan yang mereka buat.
Cicero juga mengingatkan bahwa pikiran perlu terus dilatih meskipun tubuh mulai melemah. Ia mencontohkan orang-orang yang tetap membaca dan belajar hingga usia lanjut. Selain itu, ia menyarankan kegiatan seperti berkebun. Melihat tanaman tumbuh dari benih hingga menghasilkan buah bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus mengingatkan bahwa manusia juga tetap bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat meski sudah tua.
Hal lain yang dibahas adalah berkurangnya nafsu dan keinginan duniawi. Bagi Cicero, perubahan ini tidak selalu menjadi sesuatu yang harus disesali. Justru ketika dorongan untuk mengejar kesenangan dan ambisi mulai berkurang, seseorang bisa memiliki lebih banyak ruang untuk menikmati hal-hal yang sederhana. Waktu bersama keluarga, berbicara dengan sahabat, membaca, atau melakukan kegiatan yang disukai bisa terasa lebih berarti.
Lewat percakapan Cato dengan dua pemuda tersebut, How to Grow Old mengajak pembaca melihat masa tua dari sudut pandang yang berbeda. Menjadi tua bukan hanya tentang tubuh yang berubah atau berkurangnya kemampuan fisik, tetapi juga tentang kesempatan untuk menggunakan pengalaman dan kebijaksanaan yang sudah dikumpulkan selama hidup.
Di bagian akhir esainya, Cicero membahas hal yang sering membuat manusia takut, yaitu kematian. Namun, ia tidak melihat kematian sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Ia menggambarkan hidup seperti perjalanan kapal di lautan yang panjang. Ketika seseorang sudah tua, kapal itu ibarat mulai mendekati pantai dan bersiap berhenti di pelabuhan.
Menurut Cicero, menua adalah bagian alami dari kehidupan. Jika seseorang sudah menjalani hidup dengan baik, kematian tidak perlu dianggap sebagai akhir yang menyedihkan. Ia menggambarkannya seperti buah yang jatuh dari pohon ketika sudah matang. Begitu juga dengan manusia, jiwa dapat meninggalkan tubuh dengan tenang ketika waktunya tiba.
Jujur, pas pertama kali dengar judul buku ini, aku langsung mikir kalau isinya bakal bikin makin parno sama yang namanya hari tua. Sekarang ini banyak orang sibuk mencari cara supaya tetap kelihatan muda. Mulai dari pakai krim antipenuaan sampai coba berbagai macam diet. Nah, buku karya Cicero ini justru ngajak kita buat nggak terlalu takut sama proses menjadi tua. Rambut putih dan perubahan pada tubuh nggak harus dianggap sebagai sesuatu yang buruk, karena itu juga bagian dari perjalanan hidup.
Gaya penyampaian di buku ini juga asyik. Salah satu kutipan yang paling ngena adalah saat Cicero bilang kalau kualitas masa tua kita itu sebenarnya adalah cerminan dari bagaimana cara kita menghabiskan masa muda. Jadi kalau dari muda kita sudah malas mengasah otak dan memelihara karakter yang baik, ya jangan heran kalau pas tua nanti kita cuma jadi lansia yang penuh penyesalan.
Menurutku, buku terbitan KPG ini wajib banget masuk ke daftar bacaan kamu, nggak peduli apakah sekarang masih berumur dua puluhan atau sudah masuk kepala empat. Buku ini sukses mengubah perspektif seram tentang penuaan menjadi sesuatu yang anggun, puitis, dan penuh kedamaian batin.
Tag
Baca Juga
-
Sinopsis Dead-End Job: Lee Jae-wook Terjebak Pekerjaan Mengerikan
-
Prediksi Timnas Indonesia vs Singapura: Misi Balas Dendam di SUGBK
-
Review Ketok Mejik, Warisan Bengkel dan Palu Sakti
-
Sinopsis Take Charge of My Heart: Romansa Fantasi, Tayang 9 Oktober
-
Tangis Ed Sheeran Pecah di Philadelphia Usai Badai Drama Loop Tour
Artikel Terkait
Ulasan
-
Drama Reborn Rich, Balas Dendam dan Intrik Rahasia Cucu Konglomerat Korea
-
Ulasan Novel Akan Kulintasi Dunia Untukmu: Surat yang Menjembatani Dua Masa
-
Review Film Avengers: Endgame Encore, Sajian Spesial Penyambung Babak Baru
-
Review Lagu 'Patient Zero' Taylor Swift: Pesan Menohok Buat Kamu yang Terjebak Hubungan Manipulatif
-
Salma Rilis Lagu 'maha benar', Sindiran Keras Buat Netizen Julid dan Si Paling Paham Hidup Orang!
Terkini
-
Anime Hell Mode Resmi Berlanjut ke Season 3, Angkat Arc S-Rank Dungeon
-
Rp11 Triliun untuk Rekening Massal: Kebijakan Publik Kehilangan Prioritas?
-
Dua Anime Asal Jepang Masuk Nominasi International Emmy Awards 2026
-
Ilusi Mampu Mencicil: Saat Kemudahan Paylater Menguji Kontrol Diri
-
Akhiri Penantian 28 Tahun: Momen Epic Comeback Timnas Bulu Tangkis Hancurkan China 3-2