Sekar Anindyah Lamase | Chairun Nisa
Lima Sekawan Karang Setan (Dok. Pribadi/Purworejo)
Chairun Nisa

Lima Sekawan: Karang Setan merupakan buku ke-19 dalam seri Lima Sekawan. Bagi yang ingin mengikuti petualangan mereka dari satu buku ke buku lain, seri ini tersedia lengkap di Perpustakaan Daerah Kabupaten Purworejo. Dulu, waktu kecil, saya belum punya kesempatan membaca buku-buku Lima Sekawan. Sekarang, melihat puluhan judulnya tersusun dan bisa dibaca di perpustakaan, rasanya seperti menemukan bacaan masa kecil yang terlambat saya temui.

Ditulis oleh Enid Blyton, Karang Setan kembali mempertemukan lima tokoh utama yang sudah dikenal dalam seri ini, yaitu Julian, Dick, Anne, George, dan Timmy, anjing milik mereka. Kali ini mereka memilih sebuah mercusuar tua di Karang Setan sebagai tempat berlibur. Mercusuar tersebut merupakan milik Si Utik, anak Profesor Hayling, dan sudah tidak digunakan sejak mercusuar baru dibangun.

Kepergian mereka bermula dari keadaan yang cukup sederhana. Paman Kirrin dan Profesor Hayling sedang sibuk mengerjakan penelitian sehingga membutuhkan suasana tenang. Kedatangan Profesor Hayling bersama Si Utik dan monyet peliharaannya membuat rumah semakin ramai. Lima Sekawan kemudian memutuskan mencari tempat lain untuk menghabiskan waktu. Setelah mendapat izin, mereka memilih tinggal di mercusuar tua di Karang Setan.

Tempat terpencil itu ternyata menyimpan cerita lama. Dari seorang lelaki tua bernama Jeremiah Boogle, mereka mengetahui kisah tentang One-Ear Bill, pencoleng yang dahulu memanfaatkan Karang Setan dalam aksi perampokan. Ada kapal-kapal yang celaka setelah mendekati karang, sementara harta yang dibawanya menghilang. Setelah One-Ear Bill meninggal, keberadaan harta tersebut tidak pernah diketahui dengan jelas. Keturunannya, Ebenezer dan Jacob, juga masih penasaran mencarinya.

Cerita kemudian mulai bergerak ketika kunci mercusuar hilang dan beberapa barang ikut dicuri. Lima Sekawan pun mulai curiga ada orang lain yang berkepentingan dengan tempat tersebut. Mereka mencari petunjuk sampai menemukan hubungan antara mercusuar, gua pencoleng, dan legenda harta yang telah lama hilang.

Salah satu bagian yang membuat latarnya menarik adalah kondisi mercusuar itu sendiri. Bangunan tua tersebut berada di kawasan yang tidak mudah dijangkau, terutama ketika air laut pasang. Ada gua, karang, lonceng tua, dan lampu suar yang sudah puluhan tahun tidak digunakan. Semua unsur itu membuat Karang Setan terasa seperti tempat yang memang menyimpan sesuatu.

Petualangan semakin rumit ketika badai datang dan mereka terjebak di mercusuar dengan persediaan makanan yang semakin menipis. Mereka harus mencari cara untuk memberi tahu orang-orang di luar bahwa mereka membutuhkan pertolongan. Lonceng yang sudah empat puluh tahun tidak berbunyi akhirnya kembali terdengar, disusul lampu mercusuar yang kembali menyala.

Dari alurnya, Karang Setan memperlihatkan pola petualangan klasik Enid Blyton: sekelompok anak, tempat terpencil, legenda masa lalu, harta yang hilang, dan misteri yang perlahan terbuka. Namun, kekuatan ceritanya tidak hanya berada pada pencarian harta karun. Mercusuar tua dan lingkungan di sekitarnya menjadi bagian penting yang membuat petualangan Lima Sekawan terasa berbeda dari perjalanan mereka di tempat lain.

Buku ini juga memperlihatkan bagaimana Julian, Dick, Anne, George, dan Timmy menghadapi persoalan bersama. Mereka harus mengandalkan keberanian, kecermatan, dan kerja sama ketika situasi yang semula hanya dimaksudkan sebagai liburan berubah menjadi petualangan yang tidak mereka duga.

Bagi saya, Karang Setan menjadi salah satu judul yang menarik untuk dibaca jika ingin mengenal petualangan klasik Lima Sekawan. Apalagi puluhan seri lainnya masih tersedia untuk ditelusuri di perpustakaan. Jadi, tidak harus berhenti di Karang Setan. Masih ada banyak petualangan Julian, Dick, Anne, George, dan Timmy yang menunggu dibuka.

Identitas Buku

Judul: Lima Sekawan: Karang Setan
Judul asli: Five Go to Demon's Rocks
Pengarang: Enid Blyton
Penerjemah: Agus Setiadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Ke-16, September 2012
ISBN: 978-979-22-7791-3