I Hate Everything! karya Sophy Henn adalah buku bergambar yang mengangkat perasaan marah dengan cara sederhana dan menghibur.
Ceritanya mengikuti seekor hantu yang sedang mengalami hari buruk. Ia merasa seolah-olah membenci segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
Kalimat “Aku benci segalanya!” menjadi awal dari percakapan menarik antara dua hantu. Teman hantu tersebut tidak langsung membantah perasaannya. Ia justru mengajukan pertanyaan sederhana untuk mencari tahu apakah benar semua hal dibenci.
Apakah ia membenci temannya? Ternyata tidak. Apakah ia membenci permen, bunga, atau berdandan? Ternyata beberapa hal tersebut masih bisa membuatnya senang.
Perlahan, daftar pertanyaan itu membantu hantu yang sedang kesal menyadari bahwa perasaannya ternyata tidak sesederhana yang ia pikirkan.
Konsep ini terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari anak-anak. Ada kalanya rasa kecewa, lelah, atau frustrasi terasa begitu besar. Dalam kondisi tersebut, seseorang bisa saja mengatakan bahwa dirinya membenci semuanya.
Sophy Henn kemudian memperlihatkan bahwa perasaan seperti itu boleh muncul. Yang penting adalah mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
Pendekatan tersebut membuat I Hate Everything! bukan sekadar buku lucu, tetapi juga cerita yang dapat membantu anak mengenali emosinya.
Dua karakter hantu menjadi pusat kekuatan cerita. Satu hantu sedang kesal dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang negatif.
Sementara itu, temannya hadir dengan kesabaran untuk mendengarkan dan mengajaknya melihat perasaan tersebut dari sisi berbeda.
Menariknya, sang teman tidak memberikan nasihat panjang. Ia menggunakan pertanyaan sederhana untuk membantu temannya berpikir. Cara ini membuat percakapan terasa alami sekaligus memberikan ruang bagi pembaca untuk ikut menjawab pertanyaan tersebut.
Ilustrasi menjadi bagian penting dalam menyampaikan emosi kedua karakter. Ekspresi wajah hantu yang berubah mengikuti percakapan membuat suasana hati mereka mudah dipahami.
Kehadiran hantu-hantu yang berdandan dan kelinci juga memberikan sentuhan humor yang membuat cerita terasa semakin menyenangkan.
Gaya visualnya sederhana dengan penggunaan kata yang relatif sedikit. Beberapa percakapan hadir melalui gelembung kata dengan latar yang tidak terlalu ramai.
Kesederhanaan tersebut membuat perhatian pembaca tetap tertuju pada ekspresi karakter, percakapan, dan pesan emosional yang ingin disampaikan.
Buku ini juga menarik karena tidak menggambarkan kemarahan sebagai sesuatu yang harus langsung dihilangkan.
Sebaliknya, pembaca diajak memahami bahwa seseorang bisa merasa marah terlebih dahulu. Setelah emosi tersebut sedikit mereda, barulah seseorang dapat melihat situasinya dengan lebih jernih.
Pesan tersebut relevan untuk anak maupun orang dewasa. Anak dapat belajar bahwa merasa kesal bukan berarti dirinya menjadi buruk. Orang dewasa pun dapat menggunakannya sebagai pembuka percakapan tentang emosi bersama anak.
I Hate Everything! juga dapat menjadi bacaan yang cocok untuk membicarakan cara menghadapi hari yang buruk.
Ceritanya menunjukkan bahwa ketika emosi terasa sangat besar, mencari hal kecil yang masih disukai bisa menjadi langkah awal. Bahkan keberadaan seorang teman yang mau mendengarkan dapat membuat suasana terasa berbeda.
Hal menarik lainnya adalah bagaimana cerita mengajak pembaca mempertanyakan pernyataan yang terlalu mutlak. Ketika seseorang mengatakan “membenci segalanya”, mungkin sebenarnya ada banyak hal yang masih disukai.
Pertanyaan sederhana dapat membantu menemukan kembali hal-hal kecil tersebut.
Secara keseluruhan, I Hate Everything! adalah buku bergambar yang lucu, ringan, dan memiliki pesan sosial-emosional yang kuat. Sophy Henn menghadirkan cerita tentang kemarahan tanpa membuatnya terasa berat atau menggurui.
Dengan karakter hantu yang menggemaskan, dialog sederhana, dan humor yang menyenangkan, buku ini mengingatkan bahwa bahkan pada hari terburuk sekalipun, selalu ada sesuatu yang masih bisa dicintai.
Baca Juga
-
Jangan Takut Laba-Laba Sebelum Membaca "Weaver and the Web"
-
Little Bee and the Bloom: Petualangan Lebah Kecil Mengenal Keajaiban Alam
-
Grow Wild, My Child: Saat Alam Menjadi Ruang Kelas Terbaik Anak
-
Milk & Mocha: Ketika Momen Kecil Ternyata Tak Selalu Membekas
-
Review Buku This Book Is Seriously Silly!: Belajar Interaktif Lewat Ubur-Ubur Konyol
Artikel Terkait
Ulasan
-
Absolute Value of Romance: Tentang Seorang Remaja dan Halunya yang Kejauhan
-
Review 'Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?': Mengupas Pengorbanan Sunyi Seorang Ibu yang Bikin Dada Sesak
-
Buku Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia: Cinta, Kemiskinan, dan Kepedihan
-
Kupas Tuntas 'Palu Arit di Ladang Tebu', Bukti Nyata Tragedi 1965 Tak Sekadar Hitam Putih!
-
Visual Apik vs Plot Padat: Menimbang Film Thriller 'The Vvaan', Worth It Ditonton?
Terkini
-
Coba Tanya AI Sebelum ke Dokter: Solusi Praktis atau Bumerang Buat Keselamatan Pasien?
-
Siap Tahan Napas! Film Dont Breathe 3 Resmi dalam Pengerjaan
-
Fenomena Tiket Konser Selalu Ludes Saat Ekonomi Sulit: Hiburan atau Pelarian?
-
Kalau Tiap Tahun Harus Disuntik Anggaran, Apa yang Sebenarnya Dibangun?
-
Honor MagicOS 11 Meluncur: Desain Liquid Glass, AI YOYO, dan Hemat Penyimpanan hingga 60 GB