Saya tertarik membaca Homo Homini Humor bukan hanya karena ditulis oleh Fariz Alniezar, tetapi juga karena kata pengantarnya ditulis oleh Prie GS. Kolumnis favorit saya. Dalam pengantar tersebut, Prie GS mengingatkan bahwa humor bukan sekadar dagelan atau perkara membuat orang tertawa. Humor, menurutnya, merupakan gambaran spiritualitas manusia. Semakin tinggi spiritualitas seseorang, semakin tinggi pula kualitas humornya. Lucu yang dimaksud bukan lucu yang merendahkan orang lain, melainkan lucu yang mampu melunakkan manusia.
Kesan itulah yang saya temukan sepanjang membaca buku ini.
Homo Homini Humor berisi 35 kolom yang membahas berbagai hal, mulai dari agama, bahasa, media sosial, politik, hingga kebiasaan-kebiasaan kecil manusia yang sering luput diperhatikan. Berbeda dengan banyak kolom masa kini yang berlomba-lomba membuat judul sensasional demi menarik klik, tulisan-tulisan Fariz justru terasa sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, ada kegelisahan, kritik, dan refleksi yang disampaikan melalui humor yang halus.
Sebagai penggemar tulisan kolom, saya menikmati cara buku ini disusun. Setiap tulisan dapat dibaca secara terpisah tanpa kehilangan maknanya sehingga saya tidak harus membacanya berurutan dari awal hingga akhir. Beberapa kali saya justru berhenti cukup lama pada satu kolom tertentu karena ingin memikirkan kembali gagasan yang disampaikan Fariz sebelum melanjutkan ke kolom berikutnya. Tidak semua kolom meninggalkan kesan yang sama, tetapi ada beberapa yang membuat saya ingin kembali membuka halaman sebelumnya dan membacanya sekali lagi.
Ada pula kolom yang menyoroti fenomena keberagamaan yang justru kehilangan sisi kemanusiaannya. Fariz menunjukkan bagaimana agama terkadang berubah menjadi alat untuk menghakimi orang lain. Kitab suci diperlakukan sebagai alat koreksi terhadap sesama, sementara kasih sayang dan kebijaksanaan yang semestinya menyertai agama perlahan menghilang. Di tangan orang yang sempit cara berpikirnya, agama bisa berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Kritik semacam ini disampaikan tanpa amarah, tetapi justru terasa lebih mengena karena dibalut humor yang tenang.
Salah satu kolom yang paling membekas bagi saya, bahkan saya salin kembali ke buku harian, adalah "Pribadi Slilit dan Mental Benalu." Mungkin karena kolom ini terasa terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Fariz menggambarkan orang-orang seperti slilit: pekerjaannya mengeluh, membutuhkan penderitaan orang lain dan kesalahan orang lain sebagai bahan bakar utama kebahagiaannya. Ada orang yang baru merasa hidup ketika menemukan sesuatu untuk dikomentari. Sedikit-sedikit mengkritik, gemar mengomentari banyak hal, merasa paling tahu, dan memperoleh kepuasan dari pendapat yang dilontarkannya.
Di era media sosial, karakter semacam ini justru memperoleh ruang yang sangat luas untuk tumbuh. Cukup memiliki akun dan koneksi internet, seseorang bisa menjadi komentator untuk hampir semua persoalan. Membaca bagian ini saya beberapa kali tertawa, tetapi juga merasa tidak nyaman.
Jangan-jangan saya juga pernah seperti itu.
Barangkali memang di situlah kekuatan humor dalam buku ini. Ia tidak hanya menunjuk orang lain, tetapi juga mengajak pembacanya bercermin.
Kolom lain yang saya sukai adalah "Dari Oplos Sampai Jarang Goyang." Fariz menyoroti bahasa Indonesia yang perlahan kehilangan kepercayaan dirinya sendiri. Banyak orang merasa lebih keren ketika percakapannya dipenuhi istilah bahasa Inggris. Sebaliknya, ketika ada musisi yang menggunakan bahasa daerah, misalnya bahasa Jawa, kita justru menyambutnya sebagai sesuatu yang segar dan membanggakan.
Humornya sederhana, tetapi kritiknya terasa. Bahasa Indonesia tentu tidak akan mati hanya karena masyarakat belajar bahasa asing. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika bahasa sendiri mulai dianggap kurang bergengsi untuk digunakan.
Fariz juga membawa humornya ke ranah politik melalui kolom "Demokrasi, Monarki atau Demomonarkisasi." Kita sering mengatakan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi karena presiden dipilih langsung oleh rakyat. Namun, siapa yang menentukan nama-nama yang akhirnya muncul di surat suara? Bukankah semuanya tetap melewati proses dan mekanisme partai politik?
Pertanyaan itu disampaikan tanpa nada menggurui. Fariz hanya menggeser sudut pandang pembaca sedikit saja, lalu menunjukkan bahwa ada banyak hal yang selama ini dianggap biasa ternyata menyimpan ironi yang cukup lucu.
Kolom "Tutorial Memilih Ustaz" juga terasa relevan dengan kehidupan hari ini. Di era digital, banyak orang mencari jawaban atas berbagai persoalan hidup melalui ustaz di media sosial. Jamaah bertanya, ustaz menjawab, lengkap dengan dalil dan potongan video yang mudah dibagikan kembali.
Padahal, sebagaimana diingatkan Fariz, sejak dahulu hampir mustahil menemukan satu manusia dengan pengetahuan yang benar-benar ensiklopedis. Karena itu, jawaban yang ditawarkannya justru sederhana: datangilah guru yang nyata di sekitar kita. Guru pesantren, kiai, ustaz, atau orang-orang yang benar-benar kita kenal proses keilmuannya.
Kolom lain yang menarik adalah "Saat Pendoa Tak Lagi Yakin dengan Doanya dan Pendosa Yakin dengan Terkabulnya Doa." Melalui kisah yang jenaka, Fariz menceritakan sekelompok jamaah yang berharap sesuatu yang buruk menimpa sebuah tempat hiburan malam di dekat lingkungan mereka. Mereka berdoa dengan sungguh-sungguh, tetapi diam-diam tidak sepenuhnya yakin apakah doa itu akan terkabul. Sebaliknya, pihak yang menjadi sasaran doa justru tampak lebih yakin bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
Humor dalam kolom ini terasa menggelitik karena mengangkat pertanyaan yang sederhana sekaligus dalam: seberapa besar sebenarnya keyakinan manusia terhadap doa yang dipanjatkannya sendiri? Fariz tidak membahas persoalan ini dengan bahasa yang berat. Ia hanya memperlihatkan sisi lucu dari manusia yang kadang berdoa dengan penuh harap, tetapi masih menyisakan keraguan dalam hatinya.
Yang menarik, buku ini tidak berhenti pada kritik sosial. Di beberapa bagian, Fariz juga mengajak pembaca melihat keberagamaan dari hal-hal yang sangat sederhana. Misalnya ketika kita berada di persimpangan jalan saat lampu merah menyala. Jalanan sepi, tidak ada polisi, tidak ada orang yang mengenal kita, dan tidak ada yang tampaknya akan peduli jika kita menerobos.
Pertanyaannya sederhana: apakah kita berhenti karena memang sadar harus berhenti, atau karena ada yang melihat?
Pertanyaan semacam ini membuat saya memahami kembali maksud Prie GS dalam kata pengantarnya. Humor dalam buku ini bukan humor yang lahir dari ejekan terhadap tubuh perempuan, stereotip, atau bahan dagelan murahan. Humor Fariz mengambil bahan bakarnya dari kehidupan sehari-hari. Dari kebiasaan manusia, dari cara kita berpikir, berbicara, beragama, dan memandang orang lain.
Karena itulah setelah selesai membaca Homo Homini Humor, saya merasa buku ini bukan sekadar kumpulan kolom yang menghibur. Ia mengajak pembacanya tertawa, lalu diam sejenak, sebelum akhirnya menyadari bahwa orang yang sedang ditertawakan itu bisa jadi adalah diri kita sendiri.
Baca Juga
-
Review Lima Sekawan: Melacak Jejak Rahasia, Novel Misteri Klasik yang Pas Banget Buat Anak SD!
-
Belajar Menghargai Perempuan Lewat Sosok Borno di 'Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah'
-
Barangkali yang Kita Butuhkan Hanya Jeda, Bukan Jawaban Baru
-
Lika-Liku Kejar Mimpi di Usia Kepala Empat, 'Timun Jelita' Hadirkan Konflik Sahabat dan Ambisi
-
Lima Sekawan Terjebak di Mercusuar Tua, Ada Apa dengan Karang Setan?
Artikel Terkait
-
Relevansi 'Lembaga Budi' Buya Hamka: Saat Kesopanan dan Etika Mulai Luntur di Media Sosial
-
Melawan Lupa, Menepis Stigma: Membaca Luka yang Tertinggal di Prahara 1965
-
Buku Bisnis hingga Harry Potter, Intip 5 Bacaan Indra Priawan
-
Mengintip Kunci The 5 AM Club pada Buku The Miracle Morning for Muslims
-
Ulasan Minggat: Lima Sekawan Hadapi Penyeludup Misterius di Pulau Kirrin!
Ulasan
-
Tazza: The Song of Beelzebub, Balas Dendam Mantan Raja Kasino di Meja Poker
-
Relevansi 'Lembaga Budi' Buya Hamka: Saat Kesopanan dan Etika Mulai Luntur di Media Sosial
-
Review Lima Sekawan: Melacak Jejak Rahasia, Novel Misteri Klasik yang Pas Banget Buat Anak SD!
-
Mengintip Kunci The 5 AM Club pada Buku The Miracle Morning for Muslims
-
Review Hanuman Ansh: Mukjizat Lebih Mudah Dipercaya Ketimbang Manusianya
Terkini
-
Jeritan Ekonomi Akar Rumput: Pertumbuhan yang Gagal Menetes
-
5 Eye Serum untuk Atasi Mata Panda, Garis Halus dan Mata Lelah
-
Eksploitasi Terselubung: Bahaya Nyata Sharenting bagi Masa Depan Anak
-
About a Place in the Kinki Region Resmi Tayang di Indonesia, Seramnya Beda!
-
Praktis Lembapkan Kulit, Ini 5 Sunscreen Spray Ceramide untuk Skin Barrier