Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Sejarah dan Budaya Bondowoso (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Setiap daerah memiliki kisah masa lalu yang membentuk identitas dan perjalanan masyarakatnya. Di balik perkembangan sebuah kota, tersimpan jejak perjuangan, pergulatan kekuasaan, serta peran tokoh-tokoh yang meletakkan fondasi pemerintahan.

Bondowoso, salah satu wilayah di Jawa Timur, memiliki perjalanan sejarah panjang yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan kawasan Besuki dan Panarukan hingga pengaruh kolonial Belanda. Untuk menelusuri jejak tersebut, buku Sejarah dan Budaya Bondowoso karya Dr. H. Mashoed, M.Si., hadir sebagai upaya merekam perjalanan sejarah sekaligus memperkenalkan akar kebudayaan yang membentuk wajah Bondowoso hingga kini.

Sejarah sebuah daerah bukan sekadar kumpulan tanggal, nama tokoh, dan peristiwa masa lalu. Di dalamnya terdapat jejak perjuangan, dinamika kekuasaan, perkembangan masyarakat, serta identitas budaya yang membentuk karakter suatu wilayah.

Memahami sejarah berarti menelusuri bagaimana sebuah daerah tumbuh, menghadapi perubahan, dan mewariskan nilai-nilai kepada generasi berikutnya. 

Isi Buku

Buku ini mengajak pembaca menyusuri perjalanan sejarah Bondowoso, mulai dari proses awal pembukaan wilayah hingga perkembangannya sebagai pusat pemerintahan.

Salah satu pembahasan pentingnya adalah sosok Raden Bagus Asra atau Mas Ngabehi Ki Ronggo Kertonegoro yang dipandang sebagai tokoh perintis atau founding father Bondowoso. Pengakuan terhadap tokoh tersebut menjadi bagian penting dalam penelusuran asal-usul kota dan pemerintahan Bondowoso.

Menulis sejarah daerah tentu bukan pekerjaan sederhana. Penulis perlu mengumpulkan berbagai sumber, membaca naskah kuno, menelusuri arsip pemerintahan, serta membandingkan catatan dari berbagai periode.

Tantangan semakin besar ketika sumber sejarah menggunakan bahasa yang berbeda, seperti bahasa Kawi, Sanskerta, bahasa daerah, dan bahasa asing, termasuk bahasa Belanda.

Setiap dokumen membutuhkan penafsiran yang cermat agar informasi yang diperoleh tidak sekadar menjadi cerita, tetapi memiliki dasar historis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Salah satu informasi menarik dalam buku ini adalah perjalanan Bondowoso sebagai wilayah pemerintahan. Secara administratif, keberadaan Bondowoso tercatat secara pasti pada 1850. Namun, upaya membuka dan mengembangkan wilayah tersebut telah berlangsung sejak pertengahan abad ke-17, seiring dengan perkembangan kawasan Besuki dan Panarukan.

Posisi geografis dan strategis Bondowoso turut menjadikannya wilayah penting dalam perkembangan kekuasaan VOC di Jawa Timur. Bondowoso menjadi salah satu pusat pemerintahan sekaligus penghubung berbagai kawasan di sekitarnya, seperti Besuki, Jember, Banyuwangi, dan Panarukan yang kini dikenal sebagai Situbondo.

Peran tersebut semakin terlihat ketika pemerintah kolonial Belanda mengembangkan perkebunan kopi, tembakau, dan tebu, serta mendirikan pabrik-pabrik gula di Jawa Timur.

Kelebihan dan Kekurangan

Dalam buku ini, penulis berupaya merangkai berbagai sumber sejarah, mulai dari babad, arsip pemerintahan kolonial Belanda, hingga catatan perjuangan kemerdekaan yang berasal dari pelaku sejarah dan institusi pemerintah, khususnya militer.

Meski demikian, penulis mengakui bahwa sumber-sumber yang tersedia belum sepenuhnya lengkap. Pengakuan tersebut memperlihatkan bahwa penulisan sejarah merupakan proses yang terus berkembang, terbuka terhadap temuan baru, serta membutuhkan penelitian lanjutan.

Buku ini juga memperlihatkan pentingnya peran individu dalam menjaga pengetahuan sejarah. Salah satu sosok yang mendapat penghargaan khusus adalah Haji Mochamad Yusuf Ms, seorang pejuang kemerdekaan, anggota TNI, guru, sekaligus ahli bahasa Kawi dan Belanda.

Pada usia 78 tahun, ia turut membantu menerjemahkan naskah kuno, mencocokkan data, dan menelusuri berbagai arsip yang sebelumnya tersebar. Kontribusinya menjadi gambaran bahwa pelestarian sejarah membutuhkan ketekunan, keahlian, dan kepedulian lintas generasi.

Sejarah dan Budaya Bondowoso bukan hanya menjadi dokumentasi masa lalu, melainkan juga pijakan bagi penelitian sejarah dan kebudayaan yang lebih luas.

Buku ini relevan bagi masyarakat Bondowoso, guru, mahasiswa, serta siapa pun yang ingin memahami akar perkembangan daerahnya. Melalui karya ini, sejarah lokal mendapatkan ruang untuk terus dikaji, diperdebatkan secara ilmiah, dan diwariskan sebagai bagian dari identitas kolektif masyarakat.

Identitas Buku

  • Judul: Sejarah dan Budaya Bondowoso
  • Penulis: Dr. H. Mashoed, M.Si.
  • Penyunting: Syaiful Irwan dan Hasan Bahanan
  • Penerbit: Papyrus
  • Tahun terbit: 2004
  • Tebal: 197 halaman
  • Kategori: Sejarah, Budaya, Non Fiksi