Film biopik Djamin Setia Selamanya yang disutradarai Rako Prijanto dan diproduksi Erjege Pictures tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Karya ini mengangkat perjalanan Letjen TNI (Purn.) Djamin Ginting, pahlawan nasional asal Tanah Karo, Sumatera Utara, dengan fokus pada periode perjuangan 1945–1948. Skrip ditulis oleh Titien Wattimena dan Lynda Ulviana, sementara Rafi Sudirman memerankan tokoh utama. Film ini melengkapi 3 Nafas Likas (2014) yang sebelumnya menyoroti perspektif istri Djamin, Likas Tarigan.
Menjemput Kemerdekaan: Dari Latihan Militer hingga Medan Gerilya
Sinopsis film mengikuti kehidupan Djamin sejak masa muda. Lahir pada 12 Januari 1921 di Desa Suka, ia menempuh pendidikan di Handelsschool pada era kolonial Belanda. Kesadaran akan ketidakadilan kolonialisme mendorongnya bergabung dengan Gyugun di masa pendudukan Jepang. Setelah Proklamasi 1945, Djamin aktif membangun Badan Keamanan Rakyat di Kabanjahe dan memimpin perlawanan gerilya di berbagai front Sumatera Utara, termasuk Medan Area, Tanah Karo, Langkat, hingga Aceh.
Di tengah Agresi Militer Belanda, ia menghadapi dilema antara loyalitas terhadap keluarga dan pengabdian kepada bangsa. Hubungan dengan Likas Tarigan (Claresta Taufan) serta persahabatan dengan Kadir Saragih (Chicco Kurniawan), Selamat Ginting (Jourdy Pranata), dan Jacob Waas (Marcell Darwin) menjadi elemen penting yang memperkuat narasi.
Sebagai film sejarah, Djamin Setia Selamanya berhasil menampilkan sisi humanis sang pahlawan. Rako Prijanto, yang sebelumnya menggarap 3 Nafas Likas, kembali menghadirkan pendekatan yang seimbang antara aksi perang dan drama personal. Penggunaan efek praktis dalam adegan pertempuran memberikan kesan realistis, khususnya dalam set medan perang yang menegangkan. Durasi sekitar 103 menit memungkinkan fokus pada momen-momen krusial tanpa terasa bertele-tele. Pemeran pendukung lintas generasi, termasuk Teddy Syach, Unique Priscilla, dan Arla Ailani, memperkuat suasana periode tersebut.
Ulasan Film Djamin Setia Selamanya
Rafi Sudirman memberikan performa yang matang. Transformasi dari musisi menjadi pejuang menuntut penguasaan dialek Karo dan bahasa Belanda, serta latihan fisik yang intens. Ia mampu menyampaikan pergulatan batin Djamin dengan nuansa yang terkendali. Claresta Taufan sebagai Likas menghadirkan karakter perempuan tangguh yang menjadi sandaran emosional sekaligus mitra perjuangan. Chemistry antara keduanya terasa alami, mencerminkan hubungan suami-istri yang saling memperkuat di tengah krisis.
Adegan paling emosional muncul dalam momen-momen perpisahan dan pengorbanan. Salah satu yang menonjol adalah ketika Djamin harus meninggalkan keluarga demi memimpin pasukan gerilya. Ketegangan antara kewajiban nasional dan kasih sayang terhadap Likas digambarkan melalui dialog singkat namun padat makna, disertai ekspresi wajah yang menahan kesedihan.
Soundtrack Selamanya Ku Janji yang diciptakan Rafi Sudirman sendiri menutup film dengan sentuhan emosional yang mendalam, menggambarkan janji setia Djamin kepada istri dan tanah air. Adegan ini berhasil menyentuh aku dan penonton yang lain tanpa berlebihan, menekankan bahwa perjuangan kemerdekaan juga melibatkan pengorbanan pribadi yang diam-diam.
Adegan paling berkesan setelah menonton film ini adalah saat rangkaian perang gerilya di wilayah Sumatera Utara. Taktik brilian Djamin dalam menghadapi pasukan Belanda, disertai kebersamaan dengan sahabat-sahabat seperjuangan, memberikan kesan kuat tentang semangat kolektif.
Penggunaan efek praktis, seperti adegan di set yang terbakar, menciptakan ketegangan yang nyata. Momen ketika pasukan harus bertahan di medan yang sulit, sambil tetap menjaga solidaritas, meninggalkan kesan mendalam tentang keberanian pemuda biasa yang mampu mengubah sejarah. Adegan ini tidak hanya menghibur secara visual, tetapi juga menginspirasi reflektif tentang nilai kepemimpinan visioner dan kesetiaan.
Secara keseluruhan, Djamin Setia Selamanya merupakan film biopik yang relevan bagi generasi masa kini. Pesannya tentang keberanian keluar dari zona nyaman, pengambilan risiko, dan cinta tanah air disampaikan tanpa pretensi berlebihan. Film ini tidak sekadar merekam sejarah, melainkan mengajakku merenungkan bagaimana semangat yang sama dapat diterapkan dalam konteks kekinian. Meskipun terbatas pada periode 1945–1948, karya ini berhasil menghidupkan sosok Djamin Ginting sebagai pahlawan yang manusiawi.
Buat kamu yang menghargai film sejarah Indonesia, Djamin Setia Selamanya layak disaksikan di bioskop. Tayang mulai 1 Oktober 2026, film ini menawarkan perpaduan drama, aksi, dan nilai-nilai kebangsaan yang patut diapresiasi. Rating pribadi: 8.1/10.
Baca Juga
-
Bukan Film Horor Biasa! Conjurig Tawarkan Sisi Lain Cosplayer Jalanan yang Penuh Air Mata
-
Review Serial Ted Lasso Season 2: Kehangatan Komedi yang Menyentuh Jiwa
-
Review Venom: The Last Dance, Penutup Trilogi Antihero yang Sangat Kocak!
-
Ulasan Film Lobang Buaya: Babak Baru Sinema Horor Sejarah Garapan Hanung
-
Hati-Hati Kena Mental, Review Film 'Verity' Hadirkan Ketegangan Erotis dan Plot Twist Berlapis
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bukan Film Horor Biasa! Conjurig Tawarkan Sisi Lain Cosplayer Jalanan yang Penuh Air Mata
-
Juhoon Stoic Bukan Cerita Rakyat, Kini Rekomendasikan Buku Karya Seneca
-
Nugas Nyaman Tanpa Bikin Kantong Jebol di Tjap Nyonya 2, Ada Dimsum Murah & Teh Refill!
-
Menelusuri Jejak Sejarah dan Kebudayaan Bondowoso dalam Sebuah Buku
-
Review 'dejavu' Olivia Rodrigo: Sindiran Telak Buat Mantan yang Minim Ide
Terkini
-
Mengintip Redmi Note 17 Pro Max 5G: Bawa Baterai Jumbo, 100W HyperCharge, dan Bodi Tangguh
-
Proposal Cinta di Bawah Proyek Mangkrak dan Halusinasi Negara
-
HONOR X9e Pro Resmi Rilis, Baterai 11.000 mAh Bikin HP Ini Serasa Membawa Powerbank
-
Di Balik Hiatus One Piece: Menyelamatkan Animator dari Sindrom Kejar Tayang
-
MBG dan Hak Publik untuk Mengawasi Setiap Rupiah Uang Negara