Lintang Siltya Utami | Agustian Pamungkas
Djamin Setia Selamanya. (YouTube Cinema 21)
Agustian Pamungkas

Djamin Setia Selamanya adalah film biopik sejarah Indonesia yang dikemas dengan cita rasa modern dan penuh emosi. Disutradarai oleh Rako Prijanto, film garapan Erjege Pictures ini resmi menyapa penonton di seluruh jaringan bioskop tanah air sejak 1 Oktober 2026. Ceritanya ditulis oleh duet Titien Wattimena dan Lynda Ulviana yang fokus mengangkat perjalanan hidup sang Pahlawan Nasional asal Tanah Karo, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Djamin Ginting.

Rako Prijanto berhasil memadukan adegan pertempuran gerilya yang seru dengan konflik drama keluarga, percintaan, hingga bumbu humor segar yang membuat dinamika ceritanya terasa hidup sepanjang 103 menit durasi penayangan.

Perjuangan Gerilya: Siasat Out of The Box di Medan Tempur

Jalan cerita dimulai dengan memperkenalkan sosok Djamin Ginting, seorang anak muda asal Tanah Karo yang yang diperankan oleh Rafi Sudirman. Lahir di desa pada tahun 1921, Djamin sempat mengenyam pendidikan bentukan Belanda di Handelsschool sebelum akhirnya bergabung dengan Gyugun karena percaya janji kemerdekaan dari Jepang. Namun, realita pahit kolonialisme menyadarkannya bahwa kedaulatan bangsa Indonesia harus direbut dengan keringat dan tangan sendiri.

Konflik memuncak saat latar waktu bergulir ke masa Agresi Militer antara tahun 1945 hingga 1948. Djamin dipercaya memimpin pasukan gerilya pemuda di wilayah Sumatra Utara untuk menahan gempuran musuh. Di sinilah pemikiran uniknya diuji, salah satunya ketika dia nekat menyerang markas musuh hanya demi menyelamatkan stasiun radio agar informasi perjuangan tidak terputus.

Selama masa gerilya yang berat, Djamin tidak berjuang sendirian. Perjalanannya diwarnai ikatan persahabatan kokoh dengan Kadir Saragih (Chicco Kurniawan) dan Selamat Ginting (Jourdy Pranata). Di sisi lain, ia juga harus bergulat batin membagi fokus antara keselamatan istrinya yang visioner, Likas Tarigan (Claresta Taufan), dengan besarnya tanggung jawab mengabdi pada ibu pertiwi.

Cerita berakhir dengan keberhasilan Djamin memimpin pasukannya melewati masa-masa kritis perang gerilya Sumatra Utara hingga bergerak ke Pulau Jawa. Meski harus melewati banyak kehilangan kawan seperjuangan dan pengorbanan waktu bersama keluarga, tekad kokohnya terbayar lunas. Akhir ceritanya menutup lembaran sejarah ini dengan penuh rasa bangga, memperlihatkan bagaimana dedikasi seorang anak desa bisa memberikan dampak besar bagi kemerdekaan Indonesia.

Ulasan Film Djamin Setia Selamanya

Sebagai orang yang jarang menonton film biopik sejarah lokal, aku dibuat kagum karena eksekusi film ini terasa cukup rapi. Sutradara berhasil membungkus karakter Pak Jamin bukan sebagai pahlawan super yang kaku, melainkan manusia biasa yang punya mimpi, bisa jatuh cinta, dan pernah merasa bimbang. Sudut pandang revolusi dari kacamata daerah Tanah Karo ini justru membuat ceritanya lebih fresh karena jarang sekali dibahas di buku pelajaran sejarah.

Pengembangan karakter yang dimainkan oleh Rafi Sudirman di film ini juga menurutku patut diakui kehebatannya. Transisi aktingnya dari pemuda desa yang lugu menjadi perwira TNI yang tegas dan berwibawa terasa sangat halus dan alami. Ditambah lagi, chemistry persahabatannya dengan Chicco Kurniawan dan Jourdy Pranata berhasil mencuri perhatian lewat celetukan-celetukan humoris di sela-sela ketegangan perang gerilya.

Tampilan visual dan detail latar tahun 40-an di film ini juga disajikan dengan sangat baik, mulai dari urusan seragam tentara kuno hingga replika senjata yang dipakai. Musik latarnya yang megah juga membangun ketegangan di setiap adegan baku tembak di dalam hutan Sumatra. Kekurangan kecil mungkin hanya ada di beberapa transisi alur yang terasa melompat cepat di paruh awal, tetapi hal itu tidak sampai merusak keseluruhan cerita.

Bagi aku pribadi, film ini memberikan tamparan moral yang kuat. Pesannya tersampaikan dengan jelas bahwa perjuangan hidup itu tidak melulu soal ego diri sendiri, melainkan tentang bagaimana kita bisa memberikan manfaat untuk orang banyak. Film ini juga membuktikan bahwa cerita sejarah lokal bisa dikemas dengan seru dan menghibur, tanpa kehilangan sisi emosionalnya.

Rating Pribadi: 8/10