Lintang Siltya Utami | Tarassa Q.
Sampai Agustus (Gramedia)
Tarassa Q.

Until August karya Gabriel Garcia Marquez merupakan novel yang baru hadir kepada pembaca setelah sang penulis meninggal dunia pada 2014. Buku ini diterbitkan pada 2024 dan menjadi karya yang ditemukan kembali dari tulisan Garcia Marquez yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Sebagai salah satu nama besar sastra Kolombia dan peraih Nobel Sastra 1982, Garcia Marquez kembali menghadirkan kisah yang sederhana di permukaan, tetapi menyimpan lapisan psikologis yang cukup dalam.

Tokoh utama novel ini adalah Ana Magdalena Bach, perempuan berusia 46 tahun yang dari luar tampak memiliki kehidupan sempurna. Ia sudah menjalani pernikahan selama 27 tahun dengan seorang musisi dan membesarkan anak-anak dalam keluarga yang relatif bahagia. Tidak ada persoalan besar yang secara kasatmata membuatnya harus meninggalkan kehidupan tersebut. Namun, setiap bulan Agustus, Ana memiliki kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan.

Ia menaiki feri seorang diri menuju sebuah pulau di Karibia tempat ibunya dimakamkan. Setibanya di sana, ia melakukan ziarah dengan membawa bunga gladiol. Akan tetapi, perjalanan yang awalnya tampak seperti penghormatan kepada sang ibu perlahan berubah menjadi ritual pribadi.

Setiap tahun, Ana memilih seorang laki-laki yang baru dikenalnya untuk menjadi pasangan selama satu malam. Keesokan harinya, ia meninggalkan pulau dan kembali ke kehidupannya seperti biasa. Pola tersebut berlangsung berulang, tetapi pengalaman yang diperolehnya justru membuat Ana semakin mengenali sisi dirinya yang selama ini tersembunyi.

Menurut saya, daya tarik utama Until August bukan terletak pada perselingkuhan yang dilakukan Ana, melainkan pada pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya sedang ia cari. Ana tidak digambarkan sebagai perempuan yang membenci suami atau keluarganya. Justru di situlah konfliknya terasa menarik. Ia memiliki kehidupan yang mungkin dianggap ideal oleh banyak orang, tetapi tetap menyimpan kebutuhan emosional yang tidak mudah dijelaskan.

Perjalanan Ana menunjukkan bahwa manusia dapat merasa kehilangan dirinya sendiri meskipun berada di tengah keluarga yang dicintai. Kehidupan yang stabil, peran sebagai istri dan ibu, serta rutinitas sehari-hari ternyata tidak selalu mampu mengisi seluruh kebutuhan batin seseorang. Dalam konteks tersebut, perjalanan bulan Agustus menjadi semacam ruang pelarian sekaligus kesempatan bagi Ana untuk mengenali kembali keinginannya.

Saya sendiri dapat menyelesaikan novel ini dalam waktu cukup singkat karena edisi terjemahannya relatif tipis. Meski pendek, ceritanya berhasil membuat saya terus ingin mengetahui ke mana perjalanan Ana akan berakhir. Statusnya sebagai karya anumerta juga menjadi salah satu alasan saya tertarik membacanya. Ada rasa penasaran tersendiri ketika membaca sebuah karya yang menjadi bagian dari peninggalan terakhir seorang pengarang besar.

Setelah selesai membaca, saya justru merasa bahwa novel ini menawarkan gambaran yang cukup kompleks mengenai psikologi manusia. Ceritanya memang singkat dan sensual, tetapi pengalaman Ana menyimpan banyak pertanyaan tentang kebebasan, kesepian, hasrat, perubahan, serta pencarian identitas. Penerbit sendiri menggambarkan novel ini sebagai perenungan mengenai kebebasan, penyesalan, transformasi diri, dan misteri cinta.

Salah satu hal yang paling saya dapatkan adalah pemahaman bahwa pencarian jati diri tidak mengenal batas usia. Ana sudah berusia 46 tahun dan menjalani pernikahan selama puluhan tahun, tetapi ia tetap memiliki sisi dirinya yang belum sepenuhnya dipahami. Kehidupan seseorang tidak otomatis menjadi selesai hanya karena telah mencapai usia tertentu atau memiliki keluarga yang mapan.

Novel ini juga memperlihatkan bahwa kesepian tidak selalu terlihat dari keadaan seseorang. Ana memiliki suami dan anak-anak, tetapi tetap menghadapi ruang kosong dalam dirinya. Dari sini, saya merasa bahwa kebahagiaan keluarga dan pemenuhan kebutuhan emosional merupakan dua hal yang tidak selalu berjalan bersamaan.

Selain itu, kisah Ana membuka pembahasan mengenai kebebasan perempuan dalam mengenali tubuh, hasrat, dan pilihan hidupnya sendiri. Garcia Marquez menempatkan pengalaman seorang perempuan sebagai pusat cerita, sehingga pembaca diajak melihat keinginannya bukan hanya dari sudut pandang moral, tetapi juga dari sisi kemanusiaan dan pergulatan batin.

Hal menarik lainnya adalah perubahan makna ritual yang dilakukan Ana. Ziarah kepada ibunya tidak hanya menjadi kegiatan mengenang masa lalu, tetapi berkembang menjadi perjalanan untuk memahami dirinya sendiri. Pada akhirnya, Ana juga berhadapan dengan rahasia mengenai keputusan ibunya untuk dimakamkan di pulau tersebut. Bagian ini memperlihatkan bahwa masa lalu keluarga dapat meninggalkan jejak panjang dalam kehidupan seseorang.

Bagi saya, Until August membuktikan bahwa novel yang tipis tidak selalu berarti memiliki persoalan yang sederhana. Di balik perjalanan tahunan Ana, Garcia Marquez menghadirkan refleksi tentang manusia yang terus berubah, bahkan ketika kehidupan mereka terlihat sudah mapan. Novel ini meninggalkan kesan bahwa memahami diri sendiri adalah perjalanan yang tidak memiliki batas usia dan tidak selalu selesai hanya karena kita merasa sudah mengenal kehidupan kita sendiri.

Identitas Buku

Judul: Sampai Agustus (Until August)
Penulis: Gabriel Garcia Marquez
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786020688619