Bayangkan Batavia pada awal abad ke-20, ketika trem dan kereta uap menjadi bagian penting kehidupan kota, kawasan Weltevreden mulai dikenal sebagai pusat permukiman modern, sementara Glodok ramai dengan aktivitas perdagangan. Di tengah suasana kota kolonial yang perlahan berkembang menjadi metropolitan, seorang mantan serdadu Hindia Belanda merekam berbagai pengalamannya tentang Batavia. Catatan tersebut kemudian sampai ke tangan H.C.C. Clockener Brousson dan diterbitkan dalam bentuk buku Batavia Awal Abad 20: Gedenkschriften Van Een Oud Koloniaal.
Buku karya Henri Constant Claude Clockener Brousson ini diterbitkan oleh Masup Jakarta bekerja sama dengan Komunitas Bambu. Edisi cetakan ketiganya terbit pada 2017, dengan tebal sekitar 180 halaman. Edisi awalnya telah diterbitkan pada sekitar 2004. Buku ini pada dasarnya merupakan memoar dan catatan sejarah sosial yang menggambarkan kehidupan Batavia pada awal abad ke-20 dari sudut pandang seorang mantan serdadu kolonial.
Isi Buku
Menariknya, tulisan ini bermula dari sepucuk surat yang dikirim seorang mantan prajurit kepada Clockener Brousson, seorang jurnalis terkemuka pada masa Hindia Belanda. Sang penulis berharap catatannya dapat diterbitkan sebagai roman atau dimuat dalam majalah di Belanda. Namun, ia memilih merahasiakan identitasnya. Setelah melalui penyuntingan dan perbaikan oleh Clockener Brousson, catatan tersebut kemudian hadir sebagai buku yang dapat dibaca hingga sekarang.
Salah satu daya tarik buku ini adalah cara penulis menggambarkan Batavia secara detail dan hidup. Pembaca seolah diajak berjalan menyusuri Weltevreden, Kota Lama, Glodok, kawasan Pecinan, tempat ibadah, tangsi militer, hingga tepian Ciliwung.
Batavia tidak hanya digambarkan sebagai kota kolonial yang indah, tetapi juga sebagai ruang hidup yang penuh kontradiksi. Di balik citra Mooi Indie yang eksotis dan molek, terdapat persoalan kemiskinan, kekumuhan, ketimpangan sosial, serta hubungan antarkelompok yang dibentuk oleh struktur kolonial.
Hal menarik lainnya adalah sikap penulis terhadap pandangan rasial yang berkembang di kalangan kolonial. Ia menolak anggapan bahwa masyarakat pribumi merupakan manusia yang baru mengenal peradaban setelah mendapat pengaruh Eropa. Pengalaman mengunjungi Museum Gajah justru membuatnya melihat bukti bahwa masyarakat di Nusantara telah memiliki peradaban maju jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Peninggalan Hindu-Buddha dan berbagai artefak kuno menjadi bukti bahwa perkembangan kebudayaan di wilayah ini memiliki sejarah panjang.
Namun, pembacaan terhadap buku ini tetap perlu dilakukan secara kritis. Meskipun terdapat pandangan yang relatif berbeda dari stereotip kolonial, cara penulis memandang masyarakat pribumi masih dipengaruhi perspektif kolonial. Deskripsi mengenai penduduk yang dianggap kurus, kotor, atau tidak mengenakan alas kaki menunjukkan bahwa prasangka dan hierarki sosial pada masa itu tetap hadir dalam narasinya. Karena itu, buku ini bukan hanya sumber untuk mengetahui Batavia, tetapi juga dokumen yang memperlihatkan bagaimana masyarakat kolonial melihat dirinya dan kelompok lain.
Kelebihan dan Kekurangan
Yang membuat catatan ini terasa dekat bagi pembaca masa kini adalah sejumlah persoalan kota yang ternyata memiliki kemiripan dengan Jakarta modern. Kepadatan transportasi, persoalan kebersihan kota, banjir dan kondisi sungai, keberadaan pengemis, hingga berbagai persoalan tata kota telah menjadi bagian dari kehidupan Batavia sejak lama. Ciliwung, misalnya, telah menjadi bagian penting dari lanskap kota sekaligus menyimpan persoalan lingkungan yang terus berulang dalam sejarah Jakarta.
Dengan gaya yang imajinatif, jenaka, dan terkadang naif, buku ini menghadirkan Batavia bukan sebagai kota yang sempurna, melainkan sebagai ruang yang penuh warna dan kontradiksi. Pembaca dapat merasakan kehidupan di tangsi militer, hiruk-pikuk perdagangan Glodok, keramaian Pecinan, keindahan Weltevreden, hingga kehidupan masyarakat kota yang semakin kosmopolitan.
Batavia Awal Abad 20 menawarkan lebih dari sekadar nostalgia terhadap Jakarta tempo dulu. Buku ini menjadi jendela untuk melihat bagaimana sebuah kota berkembang sekaligus mewarisi berbagai persoalan dari masa ke masa. Dengan meminjam sudut pandang seorang mantan serdadu kolonial, pembaca dapat melihat Batavia melalui perspektif yang unik. Namun tetap perlu menyadari bahwa setiap kesaksian sejarah memiliki keterbatasan. Justru dengan membandingkannya dengan sumber lain, gambaran mengenai Batavia dapat dipahami secara lebih utuh dan kritis.
Identitas Buku
- Judul: Batavia Awal Abad 20: Gedenkschriften Van Een Oud Koloniaal
- Penulis: Henri Constant Claude Clockener Brousson (H.C.C. Clockener Brousson)
- Penerbit: Masup Jakarta + Komunitas Bambu
- Tahun Terbit: 2017
- Tebal: 180 halaman
- ISBN: 978-979-3731-14-8
- Kategori: Memoar dan sejarah sosial
Baca Juga
-
Membaca Wajah Pra-Reformasi Tanah Air di Buku Hari-Hari Indonesia Gus Dur
-
Efisiensi atau Pindah Beban? APBN Hemat di Kertas, Rakyat Mahal di Lapangan
-
Televisi Canggih Jadi Pajangan, ke Mana Prioritas Anggaran Pendidikan?
-
Paradoks Negara Tropis: Mengapa Buah Mahal tetapi Makanan Tepung Melimpah?
-
Mengenal Herkansing dan Herexamen: Bukti Bahwa Pendidikan Butuh Ruang untuk Gagal
Artikel Terkait
Ulasan
-
Menilik Makna Kepemimpinan di Captain America: Brave New World, Sudah Tayang di Disney+!
-
Bad Days Aren't Forever, Pelukan Kecil untuk Hari-hari yang Tidak Baik
-
Review Film Bad Apples: Apesnya Bocah Nakal Disandera Guru Sendiri
-
Ulasan Until August: Ketika Usia Tak Menghentikan Pencarian Jati Diri
-
Review Minotaur: Perselingkuhan, Kekuasaan, dan Monster dalam Diri Manusia
Terkini
-
Alarm dari Komdigi: Misteri di Balik Ketimpangan Pemblokiran Akun Anak TikTok vs Meta
-
Euforia Juara ASEAN Cup Selesai, Tantangan Berat Kualifikasi Piala Dunia Menanti Skuad Garuda
-
Asus ProArt P16 dan P14 Rilis dengan RTX Spark, Seganas Apa Performanya?
-
Butuh Bahan Bacaan? Ini 5 Rekomendasi Novel tentang Kehidupan
-
Melihat Langsung Dapur 'Stunt Fighting': Saat 1 Detik Bertarung Butuh Keringat Panjang