Perahu Kertas karya Dee Lestari merupakan novel yang memadukan kisah cinta, persahabatan, impian, dan perjalanan menemukan jati diri. Cerita berpusat pada Kugy dan Keenan, dua anak muda dengan kepribadian serta jalan hidup yang berbeda, tetapi sama-sama memiliki dunia kreatif yang kuat. Pertemuan mereka kemudian membawa keduanya melewati hubungan yang penuh warna, termasuk rasa cinta yang tidak selalu mudah untuk diungkapkan.
Kugy digambarkan sebagai perempuan yang nyentrik, cenderung tomboi, dan memiliki daya imajinasi yang begitu besar. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Sastra di Bandung dan menyimpan keinginan untuk menjadi pengarang cerita anak. Salah satu kebiasaannya yang paling khas adalah membuat surat untuk Dewa Neptunus, kemudian melarungkannya melalui aliran air.
Sementara itu, Keenan merupakan pemuda dengan kemampuan melukis yang luar biasa. Setelah kembali dari Amsterdam, ia harus menjalani kuliah di Fakultas Ekonomi karena mengikuti harapan sang ayah, walaupun hatinya sebenarnya berada di dunia seni.
Jalan Kugy dan Keenan bersinggungan berkat Noni, teman lama Kugy, serta Eko, kekasih Noni sekaligus saudara sepupu Keenan. Persahabatan mereka berempat berkembang menjadi kelompok kecil bernama Pura-Pura Ninja. Dari sinilah kedekatan Kugy dan Keenan tumbuh. Keduanya perlahan memiliki perasaan khusus, tetapi keadaan membuat mereka tidak segera mengatakannya.
Situasi semakin rumit ketika Noni berusaha mendekatkan Keenan dengan Wanda, seorang kurator seni yang juga masih memiliki hubungan keluarga dengannya. Melihat kedekatan keduanya, Kugy memilih menjauh. Ia kemudian pindah ke Jakarta dan mengajar di Sekolah Alit, sebuah sekolah darurat bagi anak-anak jalanan. Bersama lingkungan barunya, termasuk Remi, Kugy kembali menemukan semangat untuk menulis.
Di sisi lain, Keenan menghadapi persoalan dengan keluarganya hingga memutuskan meninggalkan semuanya dan pergi ke Bali. Ia tinggal bersama Pak Wayan, sahabat mendiang ibunya sekaligus seorang pelukis. Di tempat tersebut, Keenan kembali menemukan dirinya melalui seni. Kehadiran Luhde, keponakan Pak Wayan, juga membuat kehidupannya perlahan berubah.
Menariknya, perjalanan Kugy dan Keenan tidak berhenti meskipun mereka kemudian mempunyai pasangan masing-masing. Kugy menjalin hubungan dengan Remi, sedangkan Keenan bersama Luhde. Namun, perasaan yang pernah tumbuh di antara mereka ternyata tidak benar-benar menghilang.
Berbagai rahasia dari masa lalu akhirnya terbuka, termasuk keberadaan buku dongeng karya Kugy yang pernah diberikan Keenan kepada Luhde. Peristiwa tersebut menjadi titik penting yang memperlihatkan bahwa hati keduanya masih saling terhubung.
Saya sendiri sangat menikmati novel ini meskipun jumlah halamannya cukup banyak, sekitar 556 halaman. Dee Lestari berhasil membuat setiap tokoh mempunyai karakter yang berbeda dan mudah diingat. Saya bahkan bisa menyukai hampir semua tokohnya, tetapi Kugy tetap menjadi favorit saya. Imajinasi liarnya, berbagai gagasan unik yang muncul begitu saja dalam pikirannya, serta tingkahnya membuat saya merasa dekat dengan karakter tersebut.
Interaksi Kugy dan Keenan juga menjadi bagian yang paling saya sukai. Hubungan mereka terkadang terasa seperti dua anak ABG yang baru mengenal perasaan cinta. Ada sisi polos dan manis yang mengingatkan saya pada masa-masa SMA. Saya terutama menyukai bagian ketika Keenan menggambar karakter-karakter dari dongeng ciptaan Kugy. Adegan ketika keduanya sempat bertengkar lalu kembali dipertemukan karena mulai memahami perasaan masing-masing juga menjadi salah satu bagian favorit saya. Dari sana, perkembangan karakter keduanya terasa semakin nyata.
Pada akhirnya, Kugy dan Keenan memilih untuk jujur terhadap perasaan masing-masing. Mereka mengakhiri hubungan dengan pasangan sebelumnya secara baik-baik dan kembali bertemu dengan kesiapan untuk menapaki masa depan bersama.
Bagi saya, Perahu Kertas bukan hanya cerita tentang dua orang yang akhirnya menemukan jalan menuju satu sama lain. Novel ini juga mengingatkan bahwa impian layak diperjuangkan, meskipun perjalanan menuju ke sana tidak selalu lurus. Keenan dan Kugy menunjukkan pentingnya mempertahankan passion, menjadi diri sendiri, serta tidak membiarkan tuntutan keluarga maupun lingkungan mengubur potensi yang dimiliki.
Selain itu, kisah mereka mengajarkan keberanian untuk mengakui perasaan agar tidak berakhir pada salah paham atau penyesalan. Hidup pun tidak selalu membawa seseorang langsung menuju tujuan, terkadang diperlukan jalan memutar sebelum menemukan tempat yang benar-benar dituju. Dari persahabatan Kugy dan orang-orang di sekitarnya, pembaca juga dapat melihat pentingnya menjaga komunikasi, saling memaafkan, dan menghargai hubungan yang telah dibangun.
Setelah menutup halaman terakhir, saya merasa novel ini meninggalkan pesan sederhana tetapi kuat, yaitu mimpi perlu diperjuangkan, perasaan perlu diakui, dan perjalanan hidup perlu dijalani dengan keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri.
Identitas Buku
Judul: Perahu Kertas
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786022910954
Baca Juga
-
Ulasan Until August: Ketika Usia Tak Menghentikan Pencarian Jati Diri
-
Ketika Kesempurnaan Menyimpan Rahasia Gelap dalam Novel Girls in the Dark
-
Ulasan Guru Aini: Ketika Ketekunan Menaklukkan Ketakutan pada Matematika
-
Ulasan Yang Dihantui: Horor Rumah Tua, Luka Keluarga, dan Warisan Masa Lalu
-
Jejak Luka di Tanah Pengasingan dalam Cerita dari Digul
Artikel Terkait
Ulasan
-
Batavia Awal Abad ke-20: Menyusuri Wajah Jakarta Era Kolonial
-
Menilik Makna Kepemimpinan di Captain America: Brave New World, Sudah Tayang di Disney+!
-
Bad Days Aren't Forever, Pelukan Kecil untuk Hari-hari yang Tidak Baik
-
Review Film Bad Apples: Apesnya Bocah Nakal Disandera Guru Sendiri
-
Ulasan Until August: Ketika Usia Tak Menghentikan Pencarian Jati Diri
Terkini
-
Usia 20-an Bukan Batasan: Kita Boleh Melangkah Lebih Pelan saat Dunia Sibuk Berlari
-
Sinopsis Politica Lupin, Drama Terbaru Ishihara Satomi dan Takahashi Issei
-
Fase Menganggur Bukan Berarti Tertinggal: Seni Menikmati Ruang Kosong Setelah Wisuda
-
Alarm dari Komdigi: Misteri di Balik Ketimpangan Pemblokiran Akun Anak TikTok vs Meta
-
Euforia Juara ASEAN Cup Selesai, Tantangan Berat Kualifikasi Piala Dunia Menanti Skuad Garuda