Hayuning Ratri Hapsari | Chairun Nisa
Gerpolek (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Indonesia sudah 81 tahun merdeka. Setiap Agustus kita kembali mengingat Proklamasi, para pejuang, dan cerita tentang bagaimana Indonesia mempertahankan kemerdekaannya. Namun, membaca Gerpolek: Gerilya, Politik, Ekonomi karya Tan Malaka membuat pertanyaan tentang kemerdekaan terlihat dari sisi yang berbeda. Buku ini ditulis pada 1948, ketika Indonesia masih menghadapi usaha Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.

Sinopsis

Tan Malaka menulis Gerpolek ketika berada di penjara Madiun. Ia tidak setuju dengan keputusan pemerintah Republik yang memilih jalan perundingan dengan Belanda. Baginya, kemerdekaan yang sudah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 harus dipertahankan sepenuhnya, bukan justru dipertaruhkan melalui perundingan yang menurutnya merugikan Indonesia.

Isi Gerpolek berangkat dari tiga hal: gerilya, politik, dan ekonomi. Dari ketiganya, pembahasan mengenai gerilya dan strategi perang menjadi bagian yang paling banyak. Tan Malaka menjelaskan bagaimana rakyat dapat ikut mempertahankan kemerdekaan, bagaimana perang gerilya dijalankan, bagaimana kekuatan rakyat dibandingkan dengan kekuatan musuh, serta bagaimana wilayah dan kondisi Indonesia dapat dimanfaatkan dalam perjuangan.

Tan Malaka juga tidak menempatkan perang sebagai urusan tentara saja. Rakyat memiliki peran dalam menyediakan kebutuhan, menjaga wilayah, membantu perjuangan, dan mempertahankan semangat perlawanan. Ia menyebut sosok yang menjalankan perjuangan tersebut sebagai “Sang Gerilya”, yaitu rakyat Indonesia yang tetap berpegang pada cita-cita kemerdekaan.

Politik dan ekonomi menjadi dua bagian lain yang melengkapi gagasannya. Kemerdekaan menurut Tan Malaka tidak cukup hanya dengan terbebas dari kekuasaan asing. Negara juga perlu memiliki pemerintahan yang berpihak kepada rakyat dan perekonomian yang tidak membuat Indonesia bergantung kepada pihak lain.Bagian paling sulit dari buku ini terdapat pada pembahasan strategi militernya. Banyak uraian mengenai gerilya, pergerakan pasukan, pertahanan, dan berbagai strategi perang yang cukup teknis. Bagi pembaca yang tidak terbiasa membaca pembahasan militer, bagian tersebut membutuhkan konsentrasi lebih. Beberapa bagian bahkan cukup sulit untuk dibayangkan karena penjelasannya sangat rinci.

Setelah melewati pembahasan tersebut, ada satu gagasan yang tetap mudah ditangkap. Tan Malaka ingin menunjukkan bahwa mempertahankan kemerdekaan membutuhkan keterlibatan rakyat. Perjuangan tidak hanya dilakukan oleh mereka yang membawa senjata. Masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga kehidupan negara selama perang berlangsung.

Hal itu membuat Gerpolek tidak hanya berbicara tentang perang. Tan Malaka menghubungkan perang dengan politik dan ekonomi. Sebuah negara bisa saja memiliki pemerintahan sendiri, tetapi jika keputusan politiknya mudah dipengaruhi pihak lain atau ekonominya terlalu bergantung kepada kekuatan asing, kemerdekaan yang dimiliki belum tentu memberikan kemandirian yang sebenarnya.

Gagasan tersebut masih bisa dibicarakan ketika melihat Indonesia pada 2026. Tentu keadaan Indonesia sekarang jauh berbeda dengan 1948. Tidak ada lagi Belanda yang datang membawa pasukan untuk merebut kembali Indonesia. Ancaman yang dihadapi juga berubah. Persaingan ekonomi, penguasaan sumber daya, ketergantungan industri, kepentingan modal, dan posisi Indonesia dalam hubungan internasional menjadi persoalan yang bentuknya jauh lebih rumit.

Karena itu, Gerpolek lebih menarik jika dibaca sebagai pertanyaan tentang kemandirian. Seberapa jauh Indonesia mampu menentukan arah politiknya sendiri? Seberapa besar rakyat menikmati hasil kekayaan negaranya? Dan apakah pembangunan ekonomi benar-benar membuat masyarakat semakin mandiri?

Tan Malaka menulis buku ini dalam keadaan yang sangat berbeda dari kehidupan Indonesia sekarang. Ia menulis dari penjara dan menyusun gagasan tentang perang, politik, ekonomi, serta masa depan republik dalam situasi ketika keberadaan Indonesia sebagai negara masih dipertaruhkan.

Buku ini memang tidak mudah dibaca. Pembahasan militernya cukup panjang dan beberapa bagian terasa berat. Namun, Gerpolek tetap layak dibaca karena memperlihatkan cara seorang pejuang melihat kemerdekaan secara lebih luas. Kemerdekaan bukan hanya soal mengibarkan bendera sendiri. Ada persoalan tentang siapa yang mengendalikan politik, siapa yang menikmati hasil ekonomi, dan seberapa kuat rakyat berdiri di atas kemampuan sendiri. Indonesia memang sudah lama terbebas dari penjajahan dalam bentuk yang dikenal Tan Malaka. Tetapi pertanyaan mengenai kemandirian politik dan ekonomi masih menjadi pekerjaan yang harus dijawab oleh generasi sekarang.