M. Reza Sulaiman | Ferika Sandra
Novel Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya. (Foto. Dok. Pribadi/Ferika Sandra)
Ferika Sandra

Barangkali perang tidak selalu dimulai dari suara tembakan. Kadang ia bermula dari sesuatu yang lebih sederhana: pilihan. Memilih berdiri di satu sisi, sementara orang yang kita cintai berdiri di sisi seberangnya. Dari pilihan semacam itulah Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya bergerak, membawa pembaca menyusuri cinta, nasionalisme, dan pencarian tempat untuk pulang.

Novel setebal 408 halaman terbitan Penerbit Buku Kompas ini berpusat pada Setadewa atau Teto dan Larasati alias Atik. Keduanya tumbuh bersama sejak kecil, tetapi Revolusi Kemerdekaan membuat mereka berjalan ke arah berbeda. Teto, yang mengalami kehancuran keluarga akibat pendudukan Jepang, memilih bergabung dengan KNIL. Sementara Atik berdiri di pihak Republik dan bekerja sebagai sekretaris Sutan Sjahrir.

Dari sini, Mangunwijaya tidak sekadar mempertemukan dua kekasih dalam keadaan yang mustahil. Ia mempertemukan dua cara melihat Indonesia. Teto membawa luka, dendam, sekaligus kebingungan tentang identitasnya sebagai keturunan Indo. Atik membawa keyakinan bahwa Indonesia adalah rumah yang patut diperjuangkan. Keduanya sama-sama mencintai, tetapi berdiri di tanah yang berbeda.

Mencari Sarang, Mencari Rumah

Burung manyar dalam novel bukan sekadar nama yang terdengar puitis. Burung penganyam itu dikenal karena kemampuannya membuat sarang dengan rumit. Simbol tersebut terasa dekat dengan perjalanan Teto yang sepanjang hidup seperti sedang merajut tempat untuk dirinya sendiri.

Ia membangun hidup dari serpihan masa lalu: menjadi tentara, meninggalkan Indonesia, lalu menapaki kehidupan sebagai akademisi. Namun semakin banyak yang ia bangun, semakin terasa bahwa ada satu rumah yang tidak pernah benar-benar ia temukan.

Di sinilah novel terasa lebih luas daripada roman. Sarang bukan hanya tentang rumah secara fisik, melainkan identitas. Teto dan Atik seperti dua manusia yang saling mengenal, tetapi tidak pernah benar-benar bisa tinggal dalam sarang yang sama.

Menariknya, cinta Teto kepada Atik akhirnya tidak diwujudkan melalui kepemilikan. Setelah Atik dan suaminya meninggal dalam kecelakaan pesawat, Teto justru merawat anak-anak Atik. Cinta yang sejak awal gagal menjadi pernikahan berubah menjadi bentuk kesetiaan yang jauh lebih sunyi.

Ketika Sejarah Menjadi Luka Pribadi

Kekuatan terbesar Burung-Burung Manyar ada pada kemampuannya melihat sejarah dari sisi manusia. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya mudah dimasukkan ke kotak pahlawan atau pengkhianat. Teto memang memilih pihak yang berseberangan dengan Republik, tetapi Mangunwijaya menunjukkan luka dan pengalaman yang membentuk pilihannya.

Namun, novel ini bukan bacaan yang selalu mudah. Bagian awal terasa cukup lambat dengan detail keluarga, lingkungan sosial, dan latar sejarah yang padat. Bahasa khas sastra era 1980-an juga menuntut kesabaran pembaca modern.

Meski begitu, perlahan terlihat bahwa Burung-Burung Manyar bukan tentang siapa yang paling benar dalam sebuah perang. Ia tentang manusia yang berusaha menemukan sarangnya ketika sejarah terus mengguncang pohon tempat mereka berpijak.

Pada akhirnya, mungkin itulah yang membuat kisah Teto dan Atik tetap terasa manusiawi. Mereka gagal memiliki satu sama lain, tetapi tidak gagal mencintai. Sebab dalam hidup, ada cinta yang tidak berakhir di pelaminan, melainkan tinggal dalam bentuk paling sunyi: menjaga sesuatu yang pernah sangat berarti.

Dan seperti burung manyar yang terus menganyam sarangnya, manusia pun barangkali akan selalu menghabiskan hidup untuk mencari tempat pulang. Kadang kita menemukannya dalam sebuah rumah. Kadang dalam seseorang. Dan kadang, baru setelah semuanya pergi, kita sadar bahwa sarang itu sejak awal adalah perjalanan mencari diri sendiri.