M. Reza Sulaiman | Nisrina Fadiya Ummah
Sampul Novel Ronggeng Dukuh Paruk (Dokumen Pribadi/Nisrina Fadiya Ummah)
Nisrina Fadiya Ummah

Pendidikan adalah hak seluruh anak bangsa. Tentu saja, ini telah menjadi pengetahuan bersama, tapi apakah seluruh masyarakat Indonesia sudah mendapatkan hak tersebut? Pertanyaan ini muncul setelah saya menyusuri 520 halaman karya Ahmad Tohari, novel Ronggeng Dukuh Paruk. Buku ini menawarkan kisah cinta Srintil dan Rasus, kegaduhan politik 1965 sampai kritik sosial yang tajam. Sebuah keistimewaan bagi saya bisa mendapatkan akses untuk membacanya. Novel ini adalah gabungan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala.

Bagian Pertama: Catatan Buat Emak

Bagian pertama pada novel ini mengisahkan bagaimana Rasus memandang dunia di sekitarnya, terutama Srintil. Rasus dan Srintil menjadi yatim piatu akibat malapetaka tempe bongkrek. Rasus mendapatkan cerita keracunan massal itu dari neneknya. Berdasarkan cerita nenek, ayah Rasus langsung meninggal pada hari pertama, tapi tidak dengan emaknya. Emak Rasus juga menjadi korban keracunan, tapi ia bertahan sampai hari ketiga dan dibawa ke poliklinik bersama pak mantri. Namun, setelah itu emak tidak kembali. Tidak ada yang tahu bagaimana nasib emak Rasus. Karena itu, ia meminjam raga Srintil sebagai tempat melihat emak.

“Bertahun-tahun lamanya aku menyusun gambaran sedikit demi sedikit, secara hampir lengkap pada diri Srintil. Maka Srintil mendapat tempat yang mulia dalam diriku” (Hal. 73)

Awalnya, keadaan berjalan baik bagi mereka. Srintil gemar menari di bawah pohon nangka bersama Rasus dan anak laki-laki Dukuh Paruk lainnya. Mereka menikmati tarian Srintil sambil berdendang sebisanya. Namun, semuanya berubah setelah Srintil diangkat menjadi ronggeng. Ronggeng adalah perempuan kepunyaan bersama. Banyak orang menonton Srintil berlenggak-lenggok di depan umum, bahkan sampai melakukan kontak fisik yang berlebihan. Rasus kecewa karena Srintil dianggap milik bersama. Kekecewaan Rasus memuncak ketika Srintil harus menjalani bukak klambu. Sayembara untuk meresmikan Srintil sebagai ronggeng. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Rasus resmi meninggalkan Dukuh Paruk semalam setelah sayembara itu dilakukan. Rasus meninggalkan Srintil. Bagi Rasus, dia telah memberikan pemukimannya hal paling berharga, seorang ronggeng.

Ia menjalani fase hidup selanjutnya di luar Dukuh Paruk. Rasus yang miskin dan bodoh itu perlahan-lahan tumbuh dewasa. Menjadi tentara yang terdidik.

Bagian Kedua: Lintang Kemukus Dini Hari

Kehidupan memisahkan Srintil dan Rasus. Laki-laki itu sibuk bekerja sebagai tentara, sementara Srintil tumbuh menjadi ronggeng yang cantik dan semakin terkenal. Pesona Srintil mendatangkan kesempatan yang tak pernah disangka. Tampil di perayaan Agustusan 1963. Sebelum Srintil tampil dibacakan orasi berapi-api tentang pembebasan dari penindas. Sebuah konsep yang tidak dimengerti rombongan ronggeng Dukuh Paruk. Setelah menghibur pada perayaan Agustusan itu, Srintil dan rombongannya jadi lebih sering diundang untuk tampil pada rapat-rapat. Mereka juga diberi nama baru yaitu, Ronggeng Rakyat. Bukan lagi, Ronggeng Dukuh Paruk. Segala perubahan ini mestilah sudah membawa rasa khawatir pada kita semua. Apalagi dengan sejarah Indonesia di tahun 1965.

Dukuh Paruk selama ini hidup miskin, cabul, dan lugu. Mereka tidak mengerti politik ataupun penindasan. Sakarya, kakek Srintil dan tetua Dukuh Paruk memegang prinsip bahwa hidup mereka telah diatur sedemikian rupa oleh Yang Maha Kuasa.

“Yang paling perkasa itu yang murbeng dumadi, Mas. Yang telah memastikan kami hidup di Dukuh Paruk ini, yang telah memastikan hidup kami seperti ini.” (Hal. 235)

Sikap pasrah ini ditambah kebodohan masyarakat Dukuh Paruk membuat mereka terseret dalam malapetaka politik 1965. Akibatnya, rombongan ronggeng Dukuh Paruk harus mendekam di penjara selama dua minggu, sementara Srintil seorang menghabiskan dua tahun di balik jeruji besi.

Bagian kedua dari buku ini mengantarkan kita pada penutup yang jauh lebih mengenaskan. Ahmad Tohari belum tuntas menceritakan kisah Srintil pada kita semua.

Bagian Ketiga: Jantera Bianglala

Penutup buku ini membawa kita semakin dekat dengan akhir kisah Srintil. Setelah keluar dari penjara, Srintil perlahan tapi pasti ingin membangun citra dirinya yang baru. Dia tidak lagi berminat menjadi seorang ronggeng, Srintil ingin jadi perempuan rumah tangga. Saat itulah, laki-laki lain datang dalam hidupnya, Bajus. Seorang pegawai dari ibu kota. Srintil yang masih dibayangi kenangan selama di rumah tahanan tidak berani menampakkan diri sebagai ronggeng. Saat bertemu Bajus, dia mengira laki-laki ini akan meminta jasanya sebagai ronggeng, tapi Srintil salah. Karena Bajus sama sekali tidak menyentuh Srintil, di saat itulah harapan Srintil untuk dinikahi dan menjadi ibu rumah tangga tumbuh subur.

“Nyai, aku melihat, aku merasa, Pak Bajus tidak ingin main-main. Nyai..” (Hal. 423)

Srintil yang telah kehilangan dua tahun hidupnya di dalam penjara senang sekali dengan kehadiran Bajus. Ia sampai membangun rumah dengan uang tabungannya sebagai persiapan menjadi istri Bajus. Saya sebagai pembaca tentu sangat bahagia melihat Srintil akhirnya benar-benar dicintai. Namun, Ahmad Tohari mengambil keputusan yang berbeda. Bajus menyakiti Srintil jauh lebih buruk dari begitu banyak laki-laki yang telah ditemuinya selama menjadi ronggeng. Perilakunya membuat Srintil kehilangan kontrol atas badan dan pikirannya sendiri. Novel ini ditutup dengan kepulangan Rasus ke Dukuh Paruk dan bertemu Srintil yang hampir tidak mampu dia kenali.

Pesan dari Novel Ronggeng Dukuh Paruk untuk Generasi Masa Kini

Sulit untuk memilih satu pesan dari novel ini. Karena banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil, tapi izinkan saya menyorot satu tema dalam novel ini yaitu, pentingnya pendidikan bagi anak bangsa. Dukuh Paruk, seperti yang dijelaskan dalam novel adalah pemukiman kecil yang bodoh, miskin, dan cabul. Mereka hidup tanpa bisa membaca atau menulis. Sikap pasrah yang mereka maknai sebagai ketaatan pada Yang mengatur alam raya memperparah kebodohan masyarakatnya. Satu-satunya tokoh yang mampu membaca adalah Rasus. Anak Dukuh Paruk yang kabur dan menjadi tentara. Rasus bisa saja mengajarkan Dukuh Paruk membaca dan menulis, tapi di sepanjang cerita ia membiarkan Dukuhnya tetap dalam kondisi apa adanya.

Ahmad Tohari lewat tokoh Rasus memberikan tamparan pada kita, warga negara Indonesia yang bisa membaca dan menulis. Sudahkah kita memberikan kontribusi pada saudara satu tanah air yang kondisi hidupnya seperti masyarakat Dukuh Paruk? Pada akhir novel, Rasus membuat janji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan membiarkan Dukuh Paruk hidup bodoh dan miskin.

“Ibuku (Dukuh Paruk) telah sekian lama terlena dalam krida batin yang naif, kenaifan mana yang telah melahirkan antara lain ronggeng-ronggeng Dukuh Paruk. Ronggeng sendiri mestinya tiada mengapa bila dia memungkinkan ditata dalam keselarasan agung. Namun ronggeng yang mengembangkan wawasan berahi yang primitif ternyata tidak mendatangkan rahmat kehidupan” (Hal. 518)

Narasi ini memberikan saya kesadaran bahwa, seluruh warga negara Indonesia memiliki kewajiban untuk membangun pendidikan di tanah air. Terutama dengan pemangkasan dana yang dilakukan pemerintah periode ini. Contoh nyata dapat dilihat pada kondisi perpustakaan nasional. Pada 2026 anggaran perpusnas dipangkas sekitar 300-an juta dari 721 miliar di tahun 2025 menjadi 377 miliar. Penurunan yang fantastis. Miris rasanya mendengar kabar ini padahal, berdasarkan hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) sebagian besar anak usia 15 tahun di Indonesia mengalami buta aksara fungsional. Yaitu, kemampuan membaca secara formal, tapi tidak mampu memahami, menganalisis, dan memanfaatkan informasi tersebut untuk kebutuhan praktis. Kondisi ini, jika dibiarkan semakin jauh membuat seseorang rentan terhadap informasi palsu dan mudah diperdaya.

Alangkah baiknya jika pemerintah Indonesia memberikan suntikan dana yang lebih besar bagi institusi pendidikan seperti, sekolah, universitas dan perpustakaan. Bersamaan dengan usaha pemerintah, kita sebagai warga negara juga mesti terlibat dalam membangun pendidikan di Indonesia. Sehingga generasi mendatang memiliki kemampuan membaca, menulis, dan menelaah informasi secara tepat. Jangan sampai kita terlambat seperti Rasus, yang membuatnya harus kehilangan Srintil. Perempuan yang menanggung beban paling berat dari kebodohan warga Dukuh Paruk.

Ulasan Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Membaca karya sastra tulisan Ahmad Tohari ini, mengantarkan saya menjadi pribadi yang lebih peduli terhadap pendidikan di Indonesia. Ronggeng Dukuh Paruk lebih dari sekadar karya fiksi. Ia adalah cermin yang menunjukkan pada kita bahwa, Indonesia masih membutuhkan dukungan bidang pendidikan. Lewat narasi panjang dan tokoh-tokohnya, penulis berhasil menyampaikan kritik sosial dengan cara yang halus. Di samping kritik sosialnya, novel Ronggeng Dukuh Paruk juga sangat menghibur. Ia tidak terus-terusan serius. Ada beberapa bagian yang lucu seperti, saat Srintil dan Rasus masih kecil dan bermain bersama. Ahmad Tohari menguasai seni menulis deskriptif. Sehingga semua yang ia jelaskan membuat kita terlena dalam kalimatnya. Meski begitu, novel ini tentu tidak sempurna.

Salah satu hal yang disayangkan dalam novel ini adalah, porsi suara Srintil yang sedikit. Novel ini menggunakan berbagai sudut pandang. Misal sudut pandang Rasus sebagai orang pertama atau sudut pandang orang ketiga serba tahu. Sayangnya, sulit bagi saya sebagai pembaca untuk menemukan sudut pandang Srintil. Bukan berarti penulis mengabaikan suara tokoh utama, hanya saja saya rasa porsi suara Srintil bisa ditambahkan.

 Secara keseluruhan saya sangat menikmati proses membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk dan akan terus merekomendasikan buku ini ke orang-orang di sekitar saya. Sangat disayangkan jika ada rakyat Indonesia yang tidak berkesempatan membaca karya sastra Ahmad Tohari satu ini.

Baca Juga