Lintang Siltya Utami | Fathorrozi 🖊️
Novel Cinta Lama Karya Puthut EA (Goodreads)
Fathorrozi 🖊️

Pernahkah kita merasa belum benar-benar selesai dengan cerita masa lalu? Seseorang yang sudah lama pergi, tetapi kenangannya sesekali muncul tanpa permisi. Kita mungkin sudah menjalani kehidupan baru, memiliki kesibukan, bahkan menemukan kebahagiaan bersama orang lain. Namun, jauh di dalam hati, masih tersimpan pertanyaan yang belum memperoleh jawaban.

Perasaan semacam itulah yang diangkat Puthut EA dalam novel pendek berjudul Cinta Lama. Buku terbitan DIVA Press tahun 2020 ini mengajak pembaca menyelami pertemuan kembali sepasang mantan kekasih setelah dua puluh tahun berpisah. Ceritanya sederhana, tetapi menyimpan pergulatan batin yang terasa dekat dengan pengalaman manusia.

Setelah menuntaskan buku ini, saya merasa bahwa Cinta Lama bukan sekadar kisah nostalgia tentang dua orang yang pernah saling mencintai. Lebih dari itu, novel ini berbicara tentang keberanian menghadapi masa lalu, menerima perubahan perasaan, dan memahami bahwa tidak semua kenangan harus dihidupkan kembali.

Dua Puluh Tahun Menghindari Pertemuan

Tokoh lelaki dalam novel ini sengaja menghindari pertemuan dengan mantan kekasihnya selama dua puluh tahun. Entah karena masih menyimpan luka, belum menemukan jawaban, atau sekadar takut menghadapi perasaan yang pernah begitu kuat, ia memilih untuk menjaga jarak.

Namun, waktu ternyata tidak selalu mampu menyelesaikan segala sesuatu. Kenangan tentang perempuan tersebut sesekali kembali, menyisakan rasa penasaran yang sulit diabaikan. Akhirnya, ia memutuskan untuk menemui mantan kekasihnya dan menuntaskan sesuatu yang selama ini mengganjal di hati.

Pertemuan itu berlangsung di rooftop sebuah restoran hotel. Suasananya terasa canggung. Keduanya bertukar kabar tentang kehidupan masing-masing, keluarga, dan berbagai hal yang telah berubah selama bertahun-tahun. Percakapan kemudian bergerak menuju masa lalu, ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih pada masa kuliah.

Dari obrolan sederhana itulah, perasaan yang selama ini tersimpan perlahan muncul ke permukaan. Terdapat kemarahan, kekecewaan, penyesalan, dan pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang meninggalkan dan ditinggalkan.

“Mungkin aku agak berlebihan tadi.”

“Aku pikir enggak sih. Kamu layak marah dan kecewa karena kutinggalkan. Walaupun sampai sekarang, aku tidak tahu siapa di antara kita yang meninggalkan. Kamu atau aku.” (Halaman 45).

Dalam sebuah hubungan, perpisahan tidak selalu meninggalkan cerita dengan batas yang jelas. Kadang-kadang, dua orang sama-sama merasa terluka. Keduanya juga bisa memiliki versi masing-masing tentang siapa yang bersalah.

Menurut saya, bagian ini menjadi salah satu kekuatan novel. Puthut EA tidak berusaha menjelaskan seluruh persoalan melalui narasi panjang. Ia membiarkan percakapan kedua tokohnya mengungkapkan kerumitan perasaan secara perlahan.

Mengenang Tidak Selalu Berarti Masih Mencintai

Pertanyaan terbesar dalam Cinta Lama bukan sekadar apakah kedua tokohnya masih saling mencintai. Pertanyaan yang lebih menarik justru berkaitan dengan perbedaan antara mencintai seseorang dan mencintai kenangan tentang seseorang.

Dua puluh tahun merupakan waktu yang panjang. Selama itu, manusia bertumbuh, berubah, dan menjalani pengalaman yang membentuk dirinya menjadi pribadi berbeda. Orang yang dahulu terasa begitu istimewa mungkin tetap memiliki tempat dalam ingatan, tetapi belum tentu masih mempunyai tempat yang sama dalam kehidupan sekarang.

Tokoh lelaki dalam novel ini telah menjalani kehidupan baru bersama istri dan anaknya. Oleh karena itu, pertemuannya dengan mantan kekasih bukan hanya soal menghidupkan kembali kisah lama, melainkan juga kesempatan untuk memahami perasaannya sendiri.

Terdapat bagian yang menurut saya terasa begitu dekat dengan kehidupan nyata, seseorang mungkin masih mengingat mantannya dengan hangat, tetapi ketika bertemu kembali, ia menyadari bahwa perasaannya tidak lagi sama. Yang tersisa hanyalah kenangan tentang masa ketika mereka pernah saling mencintai.

Di sinilah novel ini terasa menyentuh. Kita sering menganggap kenangan yang terus muncul sebagai bukti bahwa cinta belum selesai. Padahal, bisa jadi kita hanya belum berdamai dengan sebuah pengalaman yang pernah begitu berarti.

Masa lalu memang tidak harus dibenci agar kita bisa melanjutkan hidup. Kita boleh mengenangnya tanpa perlu kembali ke dalamnya.

Kesedihan sebagai Bagian dari Perjalanan Hidup

Di antara bagian paling reflektif dalam novel ini membicarakan kesedihan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Puthut EA menuliskannya melalui perenungan tokohnya tentang burung-burung yang tetap terbang meskipun hujan.

“Beberapa burung terlihat masih terbang. Seakan mereka mau bilang, tak peduli hujan, akan tetap terbang. Seperti hidup ini pula. Kita akan melewati kesedihan demi kesedihan, tapi terus melakoninya.”

Kutipan ini mengingatkan saya bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Kita bisa mengalami kehilangan, patah hati, kekecewaan, dan berbagai peristiwa yang membuat langkah terasa berat. Namun, kehidupan tetap harus dijalani.

Tokoh dalam novel ini bahkan memandang bahwa kesedihan, kekhawatiran, rasa penasaran, dan rasa takjub ikut membuat manusia bertahan menjalani hidup. Sementara itu, kebahagiaan dianggap sebagai sesuatu yang sulit didefinisikan.

Saya menyukai cara penulis menghadirkan perenungan tersebut tanpa membuat cerita terasa seperti ceramah motivasi. Pembaca diajak berpikir melalui percakapan dan suasana, bukan dijejali nasihat panjang.

Bagi saya, kesedihan tidak harus selalu dimaknai sebagai sesuatu yang sia-sia. Pengalaman pahit terkadang membantu kita memahami diri sendiri, melihat hubungan secara lebih dewasa, dan belajar menghargai kehidupan yang sedang dijalani.

Kita mungkin tidak bisa mengubah apa yang pernah terjadi, tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana menyikapinya hari ini.

Novel Pendek dengan Ilustrasi yang Menghidupkan Cerita

Bentuk penyajian novel Cinta Lama menjadi salah satu hal yang menarik. Novel ini tergolong tipis, sekitar 142 halaman, dengan cerita yang berpusat pada satu pertemuan. Dialog menjadi penggerak utama, sementara ilustrasi karya Rean Aqila menghiasi halaman-halamannya.

Bagi saya, ilustrasi tersebut bukan sekadar pemanis. Kehadirannya membantu membangun suasana dan memberi kesempatan kepada pembaca untuk menikmati cerita dengan tempo yang lebih tenang. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak, memperhatikan gambar, lalu merenungkan percakapan yang baru saja dibaca.

Gaya bahasa Puthut EA juga relatif sederhana dan mudah dipahami. Percakapan kedua tokohnya terasa alami, seperti obrolan dua orang yang berusaha bersikap biasa di tengah kecanggungan yang belum sepenuhnya hilang.

Meski demikian, kesederhanaan tersebut tidak membuat ceritanya kehilangan kedalaman. Justru karena tidak terlalu banyak penjelasan, pembaca memiliki ruang untuk menafsirkan perasaan para tokohnya sendiri.

Saya bisa memahami mengapa buku ini cocok dibaca dalam sekali duduk. Ceritanya tidak bertele-tele dan jumlah tokohnya terbatas. Namun, selesai membaca bukan berarti selesai pula memikirkan isinya. Ada beberapa pertanyaan yang justru terasa semakin kuat setelah halaman terakhir ditutup.

Relevan bagi Generasi Muda Masa Kini

Meskipun berkisah tentang mantan kekasih yang bertemu kembali setelah dua puluh tahun, Cinta Lama tetap relevan bagi generasi muda masa kini.

Di tengah budaya komunikasi digital, hubungan yang telah berakhir terkadang masih terasa dekat. Foto lama, percakapan yang tersimpan, unggahan media sosial, atau kebiasaan memeriksa kabar mantan bisa membuat seseorang terus terhubung dengan masa lalu, bahkan ketika hubungan itu sudah tidak lagi memiliki tempat dalam kehidupannya.

Tidak sedikit orang yang merasa perlu mendapatkan penjelasan dari mantan pasangan agar bisa melanjutkan hidup. Keinginan tersebut dapat dimengerti, terutama jika hubungan berakhir tanpa percakapan yang tuntas.

Menurut saya, generasi muda bisa mengambil pelajaran bahwa memutuskan sebuah hubungan tidak selalu bergantung pada jawaban dari orang lain. Terkadang, kita perlu berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua pertanyaan akan mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Selain itu, mengenang mantan bukan berarti harus kembali menjalin hubungan. Perasaan yang muncul ketika mengingat seseorang perlu dipahami dengan jujur, bukan langsung ditafsirkan sebagai tanda bahwa hubungan tersebut harus diulang.

Terlebih bagi mereka yang sudah memiliki pasangan, kisah ini mengingatkan bahwa kenangan masa lalu perlu ditempatkan secara bijaksana. Menghargai pengalaman terdahulu tidak harus mengorbankan komitmen yang sedang dijalani.

Identitas Buku

  • Judul: Cinta Lama
  • Penulis: Puthut EA
  • Penerbit: Diva Press
  • Cetakan: I, Februari 2020
  • Tebal: 142 Halaman
  • ISBN: 978-602-391-894-2
  • Genre: Fiksi/Novel