Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film The Doll Ghawiah (IMDb)
Ryan Farizzal

The Doll Ghawiah tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026, termasuk di 18 layar IMAX di seluruh negeri. Film berdurasi 110 menit ini digolongkan untuk penonton usia 17 tahun ke atas. Karya Hitmaker Studios ini disutradarai Guntur Soeharjanto berdasarkan naskah Riheam Junianti, dengan Rocky Soraya sebagai produser. Film ini merupakan prekuel dalam semesta The Doll yang sebelumnya lebih banyak digarap Rocky Soraya sendiri.

Awal Mulai Teror Mencekam di Kota Bandung Tahun 1988

Salah satu adegan di film The Doll Ghawiah (IMDb)

Latar cerita ditetapkan pada tahun 1988. Arya (Darius Sinathrya) dan Evi (Titi Kamal) memutuskan meninggalkan Jakarta menuju kawasan Babakan Siliwangi di Bandung bersama dua putri mereka, Gita (Aisyah Aqilah) dan Nala (Laura Moane). Keputusan tersebut diambil setelah usaha keluarga mengalami kebangkrutan. Mereka membuka restoran di kota baru dengan harapan memulai kehidupan yang lebih baik.

Namun, kedatangan mereka segera diikuti suasana yang tidak wajar. Nala bertemu sosok anak perempuan misterius di hutan Babakan Siliwangi yang menyerahkan boneka bernama Ghawiah. Sejak saat itu, serangkaian kejadian janggal mulai menimpa keluarga tersebut. Boneka tersebut berpindah tempat tanpa sentuhan manusia, sementara gangguan supernatural semakin intens.

Melalui Laras (Sara Wijayanto), seorang pelayan restoran sekaligus warga setempat yang memiliki kepekaan terhadap hal gaib, keluarga itu mengetahui legenda tentang Uci (Fara Shakila). Uci adalah anak perempuan yang tewas bersama kedua orang tuanya akibat tabrak lari di Jalan Siliwangi beberapa tahun sebelumnya. Arwah Uci dan boneka kesayangannya, Ghawiah, kembali mengganggu.

‎Film ini diangkat dari urban legend lokal Bandung mengenai boneka Uci di kawasan Siliwangi. Pendekatan tersebut memberikan bobot atmosfer yang khas. Produksi film ini cukup ambisius. Boneka Ghawiah dirancang dengan teknologi animatronik dan fitur gerak nirkabel yang relatif canggih untuk standar film horor Indonesia pada masanya. Set adegan klimaks bahkan melibatkan pembangunan rumah kaca berukuran setara lapangan tenis yang kemudian dihancurkan demi kebutuhan visual.

Review Film The Doll Ghawiah

Salah satu adegan di film The Doll Ghawiah (IMDb)

Dari segi penampilan, Titi Kamal memberikan performa yang menonjol sebagai Evi. Ia berhasil menampilkan rentang emosi yang luas—ketakutan, penyesalan, kemarahan, dan terutama kasih sayang seorang ibu yang berusaha melindungi anak-anaknya.

Darius Sinathrya berperan solid sebagai kepala keluarga yang berusaha mempertahankan kewarasan di tengah teror. Aisyah Aqilah dan Laura Moane, yang memerankan kakak-beradik dengan karakter yang berlawanan (Gita lebih ekspresif, Nala lebih introvert dan tertarik pada boneka), menunjukkan kemampuan yang meyakinkan, termasuk dalam adegan fisik dan kesurupan yang melibatkan koreografi laga.

Sara Wijayanto kembali memerankan Laras dengan penekanan pada sisi rentan dan manusiawi karakter tersebut, berbeda dari penampilannya di film-film sebelumnya dalam semesta yang sama.

‎Adegan yang paling bikin merinding berasal dari kombinasi kehadiran boneka Ghawiah yang tampak manis namun mematikan, pergerakan boneka yang tidak wajar, serta sekuens kesurupan yang panjang dan melibatkan aksi fisik. Salah satu momen yang sering disorot adalah interaksi antara anggota keluarga dengan kehadiran arwah Uci yang terasa personal dan menyakitkan, bukan sekadar kejutan visual.

Unsur gore dan gambaran luka juga digarap secara langsung sehingga mampu menimbulkan empati kinestetik pada penonton—rasa tidak nyaman yang menjalar secara fisik. Klimaks di set rumah kaca besar menambah intensitas visual dan audio, terutama ketika ditonton di format IMAX.

‎Sementara itu, adegan paling emosional terletak pada dinamika keluarga inti. Penggambaran Evi yang dipenuhi rasa takut sekaligus kasih sayang mendalam terhadap Gita dan Nala terasa tulus. Latar belakang tragedi Uci dan keluarganya juga memberikan lapisan kesedihan yang memperkuat motivasi dendam arwah tersebut. Hubungan antar anggota keluarga yang berusaha bertahan bersama di tengah kehancuran usaha dan teror supernatural menjadi inti emosional film ini. Nah, spek ini yang berhasil mengangkat cerita melampaui sekadar teror boneka.

‎Secara keseluruhan, The Doll Ghawiah menawarkan horor yang tidak hanya mengandalkan kejutan mendadak. Film ini memadukan atmosfer urban legend lokal, penampilan akting yang kuat terutama dari Titi Kamal, serta produksi visual yang ambisius.

Buat kamu penggemar semesta The Doll maupun horor Indonesia berlatar legenda setempat, film ini layak ditonton di bioskop, khususnya dalam format IMAX untuk merasakan sepenuhnya intensitas visual dan suara pada bagian akhir. Film ini berhasil menyajikan teror yang berakar pada kesedihan dan hubungan keluarga, sehingga meninggalkan kesan yang bertahan setelah kredit penutup. Rating pribadi: 8/10.