Lintang Siltya Utami | Athar Farha
Poster Film Laut Bercerita (Cinema21)
Athar Farha

Lampu bioskop boleh menyala dan kredit penutup boleh habis. Namun, ada cerita yang justru mulai bekerja setelah penonton meninggalkan kursinya. Laut Bercerita termasuk di antaranya: drama yang membawa pulang kegelisahan tentang orang-orang yang pernah diperjuangkan, lalu direnggut tanpa kepastian.

Film produksi Pal 8 Pictures bersama VMS Studio, Jagartha, Lynx Films, Gambar Gerak, dan Brandlink ini disutradarai Yosep Anggi Noen. Skenarionya ditulis Anggi Noen bersama Leila S. Chudori, penulis novel yang menjadi sumber adaptasi. Gita Fara, Budi Setyarso, dan Leila S. Chudori tercatat sebagai produser. 

Berdurasi sekitar 135 menit, film ini dibintangi Reza Rahadian sebagai Biru Laut, Yunita Siregar sebagai Asmara Jati, Christine Hakim dan Arswendy Bening Swara sebagai orang tua Laut, Dian Sastrowardoyo sebagai Kasih Kinanti, Eva Celia sebagai Ratih Anjani, Kevin Julio sebagai Daniel Tumbuan, Ben Nugroho sebagai Alex Perazon, serta Dewa Dayana sebagai Sunu Dyantoro. Yoga Pratama, Nagra Kautsar, Natalius Chendana, dan Afrian Arisandy turut mengisi jajaran pemain.

Cerita bergerak di Yogyakarta pada akhir 1990-an. Biru Laut adalah mahasiswa yang dekat dengan buku, gagasan, dan diskusi. Pertemuannya dengan kelompok studi Winatra, yang dipimpin Bram dan Kasih Kinanti, membawanya berkenalan dengan kawan-kawan seperjuangan: Daniel, Alex, dan Sunu. Mereka membaca, bertukar pikiran, membangun gerakan, serta turun membela masyarakat yang dipinggirkan. 

Di tengah situasi politik yang menekan, aktivitas semacam itu dianggap ancaman. Penangkapan mahasiswa dan peredaran buku terlarang membuat ruang gerak mereka makin sempit. Pengkhianatan kemudian menyeret Winatra ke pusaran tuduhan dan pengejaran. Laut beserta sejumlah rekannya bersembunyi, sebelum akhirnya ditangkap orang-orang nggak dikenal dan menghilang. 

Keluarga yang ditinggalkan—Bapak, Ibu, dan Asmara—terjebak dalam penantian panjang. Ratih dan para penyintas juga harus hidup bersama kehilangan, rasa bersalah, serta ingatan tentang mereka yang belum ditemukan.

Luka yang Nggak Berhenti Setelah Seseorang Menghilang

Salut banget buat keberaniannya menempatkan penghilangan paksa sebagai luka manusia, bukan sekadar catatan politik. Laut bukan poster aktivisme yang berjalan; dia punya keluarga, cinta, kebiasaan membaca, dan masa depan yang semestinya bisa dipilih sendiri. Karena itu, kehilangan dirinya terasa dekat. Pilihan untuk memperlihatkan keluarga yang menunggu juga penting. Kekerasan terus berlangsung saat seseorang dibawa pergi. Sampai menjalar ke meja makan, percakapan sehari-hari, dan tahun-tahun yang dilewati tanpa jawaban.

Reza Rahadian jadi pusat emosional cerita. Tantangannya bukan hanya menampilkan keberanian, melainkan menjaga sisi manusiawi Laut agar idealismenya terasa tumbuh dari pribadi yang utuh. Para pemeran lain punya beban yang sama, terutama Christine Hakim dan Arswendy Bening Swara, yang mewakili orang tua dengan cara berduka berbeda. Yunita Siregar sebagai Asmara membawa sudut pandang keluarga yang terus mencari kepastian. Relasi antar tokoh inilah yang membuat isu besar punya wajah dan denyut.

Ketika Novel Harus Berbagi Ruang dengan Durasi Film

Meski begitu, adaptasi novel setebal pengalaman sejarah tentu menghadapi persoalan pemadatan. Banyak tokoh, peristiwa, dan lapisan emosi harus masuk ke durasi 135 menit. Akibatnya, beberapa hubungan atau perubahan sikap terasa lebih cepat daripada proses yang seharusnya. Ya, filmnya memang perlu menjaga keseimbangan antara ketegangan perburuan dan ruang hening untuk memahami para tokohnya. 

Terlalu mengandalkan tragedi, penonton bisa merasa diarahkan untuk sedih; jika terlalu menahan emosi, kekejaman peristiwanya jadi kehilangan bobot. Di titik inilah penyutradaraan Anggi Noen diuji. Latar zaman, pilihan ruang, dan bunyi juga semestinya membangun rasa diawasi, bukan sekadar menjadi dekorasi periode sejarah.

Ingatan yang Nggak Boleh Ikut Hilang

Yup, Laut Bercerita penting bukan karena menawarkan jawaban yang rapi, melainkan karena menolak membiarkan kehilangan berubah menjadi angka. Film ini jelas adalah bagian dari perjuangan, sementara keluarga korban berhak atas kebenaran dan kepastian. Laut mungkin nggak bisa pulang dalam cerita; namanya, juga nama mereka yang hilang, layak terus disebut. Itulah gema yang membuat film ini bertahan setelah layar gelap.

Sobat Yoursay sudah nonton Laut Bercerita belum, nih? Film ini layak masuk daftar tontonan, terutama bagi kalian yang menyukai drama dengan cerita kuat dan dekat dengan sejarah bangsa. Menariknya, pengalaman nontonnya mungkin nggak berhenti ketika lampu bioskop kembali menyala. Ada banyak hal yang bisa direnungkan, mulai dari keberanian memperjuangkan kebenaran hingga keluarga yang harus hidup bersama kehilangan. Kalau sudah menonton, jangan lupa bagikan pendapat kalian. Bagian mana yang paling membekas?