Hayuning Ratri Hapsari | Dian Haerani
Mary and The Witch's Flower (Instagram/@instaghibli)
Dian Haerani

Pernahkah kita merasa menjadi orang biasa di tengah lingkungan yang dipenuhi orang-orang luar biasa? Melihat orang lain memiliki kemampuan yang tidak kita punya terkadang membuat kita mempertanyakan nilai diri sendiri.

Kita ingin menjadi lebih hebat, lebih berbakat, dan lebih mudah dikagumi. Perasaan semacam inilah yang menjadi salah satu inti cerita Mary and the Witch's Flower (2017), film animasi Jepang yang mengajak penontonnya menikmati petualangan fantasi sekaligus memahami arti keberanian dan penerimaan diri.

Film garapan Hiromasa Yonebayashi ini mengikuti kehidupan Mary Smith, seorang gadis berambut merah yang sedang menghabiskan waktu di pedesaan bersama bibi buyutnya, Charlotte. Mary sebenarnya anak yang baik dan penuh rasa ingin tahu, tetapi ia sering merasa dirinya tidak memiliki kemampuan istimewa. Ia juga dikenal ceroboh sehingga berbagai hal sederhana kerap berakhir berantakan.

Suatu hari, Mary mengikuti dua ekor kucing misterius ke dalam hutan. Di sana, ia menemukan bunga berwarna biru yang dikenal sebagai Fly-by-Night, tanaman langka yang hanya mekar sekali dalam tujuh tahun. Tanpa disadari, bunga tersebut memberikan kekuatan sihir luar biasa kepadanya.

Bersama sebuah sapu terbang tua, Mary kemudian dibawa menuju Endor College, sebuah sekolah sihir megah yang berada di atas awan. Di tempat itu, Mary disambut sebagai penyihir berbakat oleh kepala sekolah Madam Mumblechook dan Doctor Dee.

Untuk pertama kalinya, ia merasakan bagaimana rasanya dipuji dan dianggap istimewa. Namun, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Mary mulai menemukan rahasia gelap di balik kemegahan sekolah itu dan menyadari bahwa kemampuan sihir yang dimilikinya ternyata menyimpan bahaya besar.

Salah satu hal yang paling menarik dari film ini adalah karakter Mary yang tidak digambarkan sebagai tokoh utama sempurna. Ia ceroboh, mudah panik, terkadang gegabah, dan sering meragukan kemampuannya sendiri. Justru karena itulah Mary terasa dekat dengan penonton.

Ia bukan sosok yang sejak awal sudah tahu apa yang harus dilakukan. Keberaniannya tumbuh melalui kesalahan, ketakutan, dan berbagai pengalaman yang harus dihadapinya. Menurut saya, pesan tersebut menjadi kekuatan utama Mary and the Witch's Flower.

Film ini memperlihatkan bagaimana seseorang bisa terjebak dalam keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Mary menikmati perhatian yang diterimanya di Endor College karena selama ini ia merasa tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. Namun, ia kemudian belajar bahwa menjadi istimewa tidak harus berarti memiliki kemampuan luar biasa.

Menariknya, film ini juga menyelipkan kritik terhadap ambisi yang tidak disertai tanggung jawab. Madam Mumblechook dan Doctor Dee digambarkan sebagai orang-orang yang begitu terobsesi dengan kekuatan sihir hingga mengabaikan keselamatan makhluk lain.

Mereka ingin menciptakan sesuatu yang sempurna menurut standar mereka sendiri, tetapi justru menghasilkan penderitaan. Dari sini, film mengingatkan bahwa pengetahuan dan kemampuan seharusnya digunakan untuk kebaikan, bukan sekadar memenuhi ambisi pribadi.

Dari segi visual, film ini sangat memanjakan mata. Pemandangan pedesaan Inggris, hutan yang dipenuhi tanaman ajaib, hingga bangunan Endor College dirancang dengan detail yang indah. Adegan ketika Mary terbang menggunakan sapu juga menjadi salah satu bagian paling menyenangkan.

Ada nuansa petualangan yang mengingatkan pada karya-karya Studio Ghibli, terutama melalui penggunaan warna, suasana, dan karakter perempuan muda yang menjadi pusat cerita. Namun, bukan berarti film ini juga memiliki kekurangan.

Beberapa perkembangan konfliknya terasa cukup terburu-buru, sementara karakter pendukung tidak semuanya mendapatkan ruang pengembangan yang memadai. Ceritanya juga cenderung mengikuti pola petualangan fantasi yang sudah familier sehingga tidak banyak memberikan kejutan bagi penonton.

Meski begitu, Mary and the Witch's Flower tetap menjadi tontonan yang menyenangkan. Film ini mungkin tidak menawarkan cerita paling kompleks, tetapi memiliki pesan sederhana yang mudah diterima. Pada akhirnya, kita tidak harus memiliki kekuatan luar biasa untuk membuktikan bahwa diri kita berharga.

Tidak perlu menjadi orang paling pintar, paling berbakat, atau paling menonjol agar pantas mendapatkan pengakuan. Seperti Mary, terkadang hal yang paling kita butuhkan bukanlah kekuatan ajaib, melainkan keberanian untuk percaya pada diri sendiri dan melakukan hal yang benar, bahkan ketika kita merasa tidak cukup hebat.