Tidak semua perjalanan membawa kita menuju tempat yang lebih baik. Ada kalanya, perjalanan justru membawa kita berhadapan dengan hal-hal yang selama ini berusaha kita hindari seperti kehilangan, kesedihan, ketakutan, bahkan kenyataan bahwa tidak semua hal bisa diperbaiki.
Itulah salah satu hal yang terasa kuat dalam The Boy and the Heron (2023), film animasi karya Hayao Miyazaki yang mengajak penontonnya memikirkan kembali arti kehidupan melalui petualangan seorang anak laki-laki di dunia yang penuh keajaiban.
Cerita berpusat pada Mahito Maki, seorang anak berusia 12 tahun yang kehilangan ibunya dalam kebakaran saat Perang Dunia II. Setelah kejadian tersebut, Mahito harus pindah ke sebuah rumah di pedesaan bersama ayahnya dan ibu tirinya, Natsuko, yang merupakan adik kandung mendiang ibunya.
Namun, perubahan besar dalam hidupnya tidak serta-merta membuat Mahito mampu menerima keadaan. Ia menjadi pendiam, sulit beradaptasi, dan menyimpan banyak kemarahan yang tidak tahu harus disalurkan ke mana.
Kehidupan Mahito mulai berubah ketika seekor bangau abu-abu misterius terus mengikutinya. Burung tersebut kemudian membawanya menuju sebuah menara tua yang menyimpan dunia penuh keanehan. Di sanalah Mahito memulai perjalanan yang jauh melampaui batas kenyataan, bertemu dengan berbagai makhluk aneh, menghadapi bahaya, dan menemukan sejumlah rahasia tentang keluarganya.
Dari segi cerita, The Boy and the Heron bukanlah film yang mudah dipahami dalam sekali menonton. Berbeda dengan beberapa karya Studio Ghibli yang memiliki alur petualangan lebih jelas, film ini terasa lebih abstrak dan penuh simbol.
Ada banyak kejadian yang mungkin membuat penonton bertanya-tanya mengenai maksud di baliknya. Bahkan, beberapa bagian terasa seperti mimpi yang berpindah-pindah tanpa memberikan penjelasan secara langsung.
Namun, menurut saya, justru di situlah daya tariknya. Miyazaki tidak berusaha memberikan seluruh jawaban kepada penonton. Ia membiarkan kita menafsirkan sendiri berbagai peristiwa yang dialami Mahito. Dunia fantasi dalam film ini seolah menjadi gambaran dari pikiran seorang anak yang sedang berusaha memahami kehilangan dan menerima kenyataan yang tidak bisa ia ubah.
Hal yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana film ini menggambarkan kesedihan. Mahito bukan anak yang selalu menunjukkan sisi baik dan menyenangkan. Ia bisa bersikap dingin, keras kepala, bahkan menyakiti dirinya sendiri karena tidak mampu memahami perasaan yang sedang dialaminya.
Penggambaran tersebut membuat karakternya terasa manusiawi. Sebab, kehilangan seseorang yang dicintai tidak selalu membuat seseorang menjadi lebih bijaksana. Terkadang, kesedihan justru membuat kita marah kepada dunia dan orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah.
Selain itu, hubungan Mahito dengan Natsuko juga menjadi bagian penting dalam cerita. Kehadiran ibu tiri bukan sesuatu yang mudah diterima, terlebih ketika sosok tersebut memiliki hubungan darah dengan ibunya sendiri.
Film ini memperlihatkan bahwa menerima anggota keluarga baru bukan berarti harus melupakan orang yang telah pergi. Ada ruang bagi kenangan dan kesempatan untuk membangun hubungan baru meski keduanya membutuhkan waktu.
Dari sisi visual, film ini benar-benar memperlihatkan kekuatan Studio Ghibli. Detail latar pedesaan, suasana alam, hingga dunia fantasi di dalam menara terasa begitu hidup. Setiap tempat memiliki karakter visual yang kuat.
Musik karya Joe Hisaishi juga melengkapi suasana dengan indah, terutama ketika film memasuki bagian-bagian yang lebih emosional. Meski begitu, saya merasa film ini bukan tontonan yang cocok untuk semua orang. Alurnya cukup lambat, beberapa simbol terasa sulit diterjemahkan, dan ceritanya tidak selalu memberikan kepuasan melalui penjelasan yang gamblang.
Penonton yang mengharapkan petualangan fantasi dengan konflik sederhana mungkin akan merasa sedikit kebingungan. Pada akhirnya, The Boy and the Heron bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang memasuki dunia ajaib.
Film ini berbicara tentang pilihan untuk tetap hidup di tengah dunia yang tidak sempurna. Kita tidak bisa mengembalikan orang-orang yang telah pergi, menghapus pengalaman buruk, atau membangun kehidupan tanpa kesedihan. Namun, kita tetap bisa memilih untuk melanjutkan perjalanan.
Bagi saya, pesan paling berkesan dari film ini adalah bahwa menerima kenyataan bukan berarti menyerah pada kehidupan. Justru, ada keberanian tersendiri ketika seseorang memilih untuk kembali menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian.
Sebab, meskipun dunia tidak selalu baik kepada kita, bukan berarti dunia kehilangan alasan untuk dicintai. Jadi tetap hiduplah dengan penuh cinta meskipun ada satu alasan yang hilang untuk mencintai dunia ini.
Baca Juga
-
Drawing Closer: Apa yang Ingin Kita Tinggalkan Jika Waktu Kita Terbatas?
-
The Last 10 Years: Ketika Kita Hanya Punya Sedikit Waktu untuk Bisa Bahagia
-
Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?
-
Siap Debut Jepang, Baby DONT Cry Akan Rilis Single "Replay" di 2 Negara!
-
Review Burning: Tentang Misteri yang Mungkin Hanya Ada di Kepala Kita
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bijak Memilah Hal Penting dalam Buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat
-
Review Buku Little Women: Perjalanan Empat Saudari Menemukan Arti Kedewasaan
-
Drawing Closer: Apa yang Ingin Kita Tinggalkan Jika Waktu Kita Terbatas?
-
Ulasan Buku The Comfort Book: Menemukan Ketenangan di Tengah Sulitnya Hidup
-
Review Lingsir Wengi: Motel Malioboro, Teror Mistis di Balik Konten Viral
Terkini
-
Kemarau Salah, Hujan Salah: Menguji Tata Kelola Lingkungan di Indonesia
-
Ketimpangan Relasi: Rakyat Berjuang Tanpa Bantuan, Negara Menarik Pungutan
-
Sinopsis Akka, Angkat Kisah Gangster Perempuan di India Era 1980-an
-
Anti-Kusam! Ini 5 Rekomendasi Skin Tint Lokal yang Bebas Oksidasi
-
EXO Luncurkan Unit Terbaru, Kai dan Sehun Siap Debut Desember Mendatang