Tidak semua luka datang dari orang asing. Ada kalanya, justru mereka yang paling dekat dengan kita menjadi sumber kekecewaan terdalam. Keluarga, sahabat, rekan kerja, bahkan pasangan yang dicintai dapat menghadirkan perasaan terluka melalui perkataan maupun perlakuan mereka. Persoalan inilah yang diangkat Yoo Eun-Jung dalam bukunya yang berjudul Hargai Diri Sendiri dan Berhentilah Tersakiti.
Ditulis berdasarkan perspektif seorang psikiater, buku ini mengajak pembaca memahami hubungan antara kesehatan mental dan cara seseorang memperlakukan dirinya sendiri dalam lingkungan sosial. Yoo Eun-Jung memperlihatkan bahwa tidak sedikit orang yang tanpa sadar mengorbankan ketenangan batinnya demi mempertahankan hubungan dengan orang lain.
Salah satu persoalan yang disoroti adalah kebiasaan berusaha menjadi pribadi yang selalu menyenangkan semua orang. Seseorang mungkin rela mengesampingkan kepentingannya, memenuhi berbagai permintaan, atau terus menyesuaikan diri dengan keinginan orang lain.
Di balik tindakan tersebut, sering tersimpan harapan bahwa kebaikan yang diberikan akan memperoleh balasan serupa. Sayangnya, kenyataan tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Ketika penghargaan yang diharapkan tidak kunjung datang, kekecewaan pun perlahan menumpuk dan menguras energi emosional.
Melalui berbagai pengalaman profesionalnya dalam mendampingi pasien, Yoo Eun-Jung menguraikan beragam persoalan psikologis yang muncul akibat hubungan interpersonal. Perasaan marah, kesepian, tidak dianggap keberadaannya, hingga pengkhianatan menjadi beberapa pengalaman emosional yang dibahas. Pembaca diajak melihat bahwa perasaan-perasaan tersebut bukan sesuatu yang harus terus disembunyikan atau disangkal.
Buku ini menawarkan pendekatan untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri. Pembaca didorong agar mampu mengenali emosi, menerima perasaan tanpa menghakimi diri sendiri, serta tidak menjadikan pengakuan orang lain sebagai tolok ukur harga diri. Selain itu, keberanian mengungkapkan kebutuhan pribadi dan menetapkan batasan dalam hubungan juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Dengan demikian, menghargai diri sendiri bukan berarti berubah menjadi pribadi yang egois, tidak peduli, atau enggan menjalin kedekatan dengan siapa pun. Sebaliknya, seseorang perlu memahami sejauh mana dirinya mampu memberikan sesuatu tanpa harus kehilangan kesejahteraan emosional.
Dengan ketebalan 240 halaman, saya cukup menikmati buku pengembangan diri ini, meskipun genre tersebut bukan bacaan yang biasanya saya pilih. Ada sejumlah gagasan yang membuat saya berhenti sejenak untuk memikirkan kembali bagaimana selama ini saya memandang diri sendiri dan memperlakukan orang lain.
Salah satu pelajaran yang paling berkesan adalah pentingnya berhenti menjadikan penilaian orang lain sebagai pusat kehidupan. Kita tidak harus terus-menerus memenuhi ekspektasi lingkungan agar dianggap cukup baik. Ada kalanya, keputusan terbaik justru muncul ketika kita berani mengatakan tidak terhadap sesuatu yang bertentangan dengan kebutuhan pribadi.
Saya juga mendapatkan pemahaman baru mengenai batasan diri atau boundaries. Menghargai diri sendiri berarti bersedia mengakui kekurangan, memahami kapasitas pribadi, dan tidak berpura-pura baik-baik saja ketika sebenarnya sedang terluka. Kita berhak memperoleh perlakuan yang layak tanpa harus membuktikan diri melalui pengorbanan berlebihan atau terus-menerus mengalah.
Hal lain yang terasa penting adalah keberanian untuk berhenti mencari pembenaran atas hubungan yang menyakitkan. Ketika sebuah relasi terus-menerus menguras kebahagiaan, memaksakan diri untuk bertahan bukan selalu menjadi pilihan yang bijaksana. Mengabaikan kenyataan hanya akan memperpanjang penderitaan.
Pada akhirnya, Hargai Diri Sendiri dan Berhentilah Tersakiti mengingatkan bahwa pemulihan emosional perlu dimulai dari dalam diri. Kebahagiaan tidak semestinya sepenuhnya bergantung pada pengakuan maupun perlakuan orang lain.
Kita perlu belajar menjadi tempat pulang yang aman bagi diri sendiri, sebab orang yang paling bertanggung jawab menjaga kesejahteraan kita adalah diri kita sendiri. Buku ini menjadi bacaan reflektif bagi siapa pun yang sedang belajar melepaskan tuntutan untuk selalu menyenangkan orang lain dan mulai memperlakukan dirinya dengan lebih baik.
Identitas Buku
Judul: Hargai Diri Sendiri dan Berhentilah Tersakiti
Penulis: Yoo Eun Jung
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786020661322
Baca Juga
-
You Do You: Belajar Mengenali Diri dan Menentukan Arah Hidup
-
Ulasan Buku The Comfort Book: Menemukan Ketenangan di Tengah Sulitnya Hidup
-
A Suspicious Secondhand Shop: Ketika Barang Bekas Menyimpan Kisah Manusia
-
Belajar Menjalani Hidup dengan Lebih Tenang melalui Hal-Hal yang Boleh dan Tak Boleh Kulakukan
-
Ulasan Dua Belas Pasang Mata: Kehangatan Guru di Tengah Kelamnya Perang
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Dead-End Job: Horor Korea yang Menyindir Kejamnya Dunia Kerja
-
Smartphone Photography: Rahasia Foto Profesional Tanpa Peralatan Mahal
-
Ulasan Buku The Alpha Girls Guide: Menjadi Perempuan Cerdas dan Mandiri
-
Review Shoplifters: Bahwa Keluarga Tak Selalu Dibentuk oleh Hubungan Darah
-
The Devotion of Suspect X: Bukti Pengorbanan Ekstrem demi Wanita Pujaan
Terkini
-
Dune 3 hingga Avengers: Doomsday, Ini 5 Tontonan yang Rilis di Akhir Tahun 2026
-
Full Count Tayang 2027, Kim Rae Won dan Park Hoon Bersaing Jadi Manajer
-
Anti Ngembang! Ini 5 Rekomendasi Protein Cream Penjinak Rambut
-
Tren Stop the Wedding: Bukti Remaja Takut Menikah atau Sikap Realistis?
-
Sekadar Hidup Layak Kok Mahal? Menggugat Komersialisasi Kebutuhan Dasar