Puisi tidak selalu harus menggunakan bahasa yang rumit agar mampu menyentuh perasaan pembacanya. Terkadang, rangkaian kata sederhana justru dapat menyampaikan kegelisahan, kerinduan, dan pengalaman emosional yang sulit diungkapkan secara langsung. Hal itulah yang terasa dalam buku Kidung Para Pencari karya Nugroho Putu Warsito.
Diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo pada November 2020, buku ini menghadirkan kumpulan puisi dengan tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cinta, penantian, kesepian, percakapan, hingga kegelisahan terhadap keadaan sosial menjadi bagian dari pengalaman yang dituangkan penulis melalui larik-larik puitis.
Isi Buku
Pemilihan kata yang relatif sederhana, tetapi padat makna. Pembaca tidak perlu berhadapan dengan metafora yang terlalu rumit untuk memahami emosi yang ingin disampaikan. Sebaliknya, puisi-puisinya terasa seperti percakapan batin seseorang yang sedang mencoba memahami perasaan dan kehidupannya sendiri.
Salah satu tema yang menonjol dalam Kidung Para Pencari adalah perjalanan emosional dalam mencintai seseorang. Penulis menggambarkan cinta bukan hanya sebagai perasaan bahagia, melainkan juga pengalaman yang menghadirkan kebingungan, kegugupan, penantian, bahkan ketakutan akan penolakan.
Dalam salah satu puisinya, penulis mengungkapkan kegelisahan seseorang yang terus menyatakan cinta meskipun khawatir perasaannya justru membuat orang yang dicintai merasa bosan. Ada keinginan untuk mengajak seseorang terbang menikmati senja, tetapi kenyataan membuat keduanya tidak selalu bisa menikmati kebersamaan seperti yang diharapkan.
Penggalan tersebut memperlihatkan bagaimana cinta terkadang membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk bersikap biasa. Perasaan yang terlalu penuh harus disampaikan, tetapi keberanian untuk mengungkapkannya juga dibayangi kemungkinan tidak mendapatkan balasan.
Puisi lainnya menggambarkan percakapan melalui telepon yang berakhir, lalu menyisakan jeda tanpa kepastian. Penulis menyebut menyimpan kemurungan sebagai seni menikmati penantian. Ungkapan ini menarik karena menunjukkan bahwa menunggu bukan sekadar persoalan waktu, melainkan juga proses mengelola perasaan yang belum menemukan tempat untuk pulang.
Kelebihan dan Kekurangan
Salah satu keunggulan puisi-puisi Nugroho Putu adalah kemampuannya memilih kata yang tidak berlebihan, tetapi tetap meninggalkan kesan. Larik-lariknya terasa ringan dibaca, bahkan menyerupai percakapan sehari-hari. Namun, di balik kesederhanaan tersebut terdapat permainan kata dan gagasan yang mengundang pembaca untuk berhenti sejenak dan merenung.
Misalnya, ungkapan tentang kedekatan huruf C dan D yang dapat membuat cerita berubah menjadi derita. Permainan kata tersebut memperlihatkan kecerdikan penulis dalam mengolah bahasa. Ia tidak hanya menyampaikan perasaan secara langsung, tetapi juga menghadirkan kejutan melalui hubungan antarkata.
Gaya semacam ini membuat puisi terasa akrab bagi pembaca yang belum terbiasa menikmati karya sastra. Tidak ada kesan bahwa puisi harus selalu dibaca dengan pemahaman teori yang rumit. Pembaca cukup mengikuti alur perasaan dan menemukan pengalaman pribadi yang mungkin pernah dialami.
Meski cinta dan kerinduan menjadi warna yang kuat, Kidung Para Pencari tidak sepenuhnya berkutat pada persoalan hubungan romantis. Beberapa puisinya juga menyinggung keadaan sosial dan kehidupan manusia yang penuh kontradiksi.
Dalam puisi bertanggal 25 September 2019 yang mengambil latar Halte Pancoran Tugu, penulis menghadirkan suasana pagi bersama seseorang yang dicintai. Di tengah momen intim tersebut, muncul gambaran berita tentang kehidupan manusia yang begitu dekat dengan kematian. Ada pula kritik terhadap kepura-puraan, kebodohan, dan kejujuran yang terlambat hadir.
Perpaduan antara suasana romantis dan kegelisahan sosial ini memperlihatkan bahwa pengalaman pribadi tidak pernah sepenuhnya terpisah dari keadaan sekitar. Seseorang bisa menikmati kebersamaan, tetapi pada saat yang sama tetap menyadari berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Rekomendasi Pembaca
Kidung Para Pencari cocok bagi pembaca yang menyukai puisi dengan bahasa sederhana dan tema emosional. Buku ini dapat dinikmati oleh penggemar sastra maupun mereka yang baru mulai membaca kumpulan puisi. Setiap puisinya menawarkan pengalaman yang berbeda. Ada bagian yang terasa menusuk karena mengingatkan pembaca pada pengalaman cinta, ada pula yang memberikan ruang untuk merenungkan kehidupan dan hubungan antarmanusia.
Pada akhirnya, buku Nugroho Putu Warsito ini mengingatkan bahwa puisi dapat menjadi tempat seseorang menyimpan sekaligus mengungkapkan perasaan. Melalui kata-kata yang sederhana, pembaca diajak mengenali kembali kerinduan, kesedihan, harapan, dan kegelisahan yang mungkin selama ini sulit diucapkan. Sebab, setiap manusia pada dasarnya adalah pencari: mencari cinta, menemukan makna, dan memahami dirinya sendiri.
Baca Juga
-
Potret Diskriminasi Perempuan Korea Selatan di Novel Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982
-
MBG untuk Cegah Stunting: Dapur Menumpuk di Jawa, Papua Tetap Tertinggal?
-
MBG dan Argumen yang Terus Bergeser: Sebenarnya Apa yang Mau Diselesaikan?
-
Dari Koperasi Petani hingga Klinik, Ke Mana Arah Kopdes Merah Putih?
-
Indonesia Negara Maritim, tetapi Makan Lobster Harus Menunggu Kaya
Artikel Terkait
-
Bijak Memilah Hal Penting dalam Buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat
-
Review Buku Little Women: Perjalanan Empat Saudari Menemukan Arti Kedewasaan
-
Buku untuk Belajar Kok Masih Kena Pajak? Ini yang Perlu Dikritik
-
Ulasan Novel Bulan di Atas Istana: Kisah Cinta di Balik Riuh Istana Negara
-
Ulasan Buku The Comfort Book: Menemukan Ketenangan di Tengah Sulitnya Hidup
Ulasan
-
Mary and The Witch's Flower: Kita Tak Butuh Sihir untuk Menjadi Istimewa
-
Potret Diskriminasi Perempuan Korea Selatan di Novel Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982
-
Ulasan Stock Struck: Saat Pemula Nekat Main Saham dan Berujung Kena Mental
-
Review The Longest Wait: Melihat Perjuangan Timnas Garuda dari Balik Layar
-
Novel The Newcomer, saat Kebohongan Kecil Menyembunyikan Sebuah Kebenaran
Terkini
-
Proteksi Double! 4 Sunscreen Lokal PDRN Ini Bikin Wajah Awet Muda dan Sehat
-
Sukses Gelar Konser Solo di Seoul, Onew SHINee Umumkan Comeback Album Baru
-
Ramai saat Demo, Sunyi setelahnya: Mengapa Gerakan Rakyat Terjebak Musiman?
-
Aksi Boikot Raffi Ahmad: Menyoal Efektivitas Cancel Culture di Media Sosial
-
Awas Bahaya Logistik Gratisan: Kasus Teh Berbusa Demo HI Jadi Pelajaran