Sekar Anindyah Lamase | Maia Hertanti
Poster film A Separation (IMDb)
Maia Hertanti

Sebagai salah satu penggemar film, saya memutuskan untuk menonton film berjudul A Separation ini beberapa waktu silam, hingga akhirnya saya tidak menyangka jika film ini ternyata sukses membuat saya menangis dan merenung setelah selesai menontonnya. Namun, karya-karya seni yang berasal dari Iran, terutama film memang patut diacungi jempol.

A Separation dirilis pada tahun 2011 dan disutradarai oleh Asghar Farhadi, sutradara yang juga menggarap film berjudul Abou Elly (2009). Film A Separation populer sekali dan sukses menyabet Academy Award (Piala Oscar) untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik, catatan sejarah baru di dunia per-film-an Iran. Film ini berdurasi 123 menit, tetapi sukses membuat penontonnya (setidaknya saya) merasa kosong setelah menontonnya.

Sinopsis Film A Separation

A Separation (2011) (IMDb)

Film ini diawali dengan konflik keluarga, seorang laki-laki bernama Nader (diperankan oleh Payman Maadi) yang memutuskan untuk membatalkan rencana pindah ke luar negri yang sudah disusun bersama istrinya, Simin (diperankan oleh Leila Hatami).

Rencana tersebut sudah disusun sejak lama guna mendapat kehidupan yang lebih baik terutama untuk putri semata wayang mereka, Termeh (diperankan oleh Sarina Farhadi).

Penolakan tersebut bukan tanpa dasar, ayah Nader menderita Alzheimer, sehingga Nader tak sanggup meninggalkan ayahnya seorang diri dan memilih untuk merawatnya. Konflik ini membuat Simin memutuskan untuk berpisah dengan Nader dan inilah awal di mana konflik utama film A Separation dimulai.

Setelah Simin memutuskan kembali ke rumah orang tuanya, Nader mencari tenaga yang mampu meringankan beban pekerjaan rumah tangga dan sebenarnya juga untuk menjaga ayahnya disaat Nader pergi bekerja dan Termeh sekolah.

Razieh (Sareh Bayat), seorang perempuan religius yang sedang hamil dan berada di kelas sosial yang berbeda dengan Nader datang untuk menjemput kesempatan bekerja tersebut, tapi dia tidak menyangka bahwa pekerjaannya akan berhubungan dengan laki-laki (ayah Nader) dan hal inilah yang kemudian memicu banyak konflik lainnya bermunculan.

Puncak konfliknya muncul ketika Nader menuduh Razieh mencuri uang miliknya. Namun, hal tersebut justru menimbulkan perlawanan dari Razieh dan menuduh bahwa Nader telah mencelakainya dengan mendorong tubuhnya hingga jatuh dari tangga dan keguguran. Konflik ini tidak sesederhana itu untuk dilihat karena jawaban dari faktanya sungguh tidak mudah tertebak penonton.

Ulasan Film A Separation: Agama, Kelas, dan Kacamata Kehidupan

Adegan terakhir di film A Separation (2011) (IMDb)

Bagi saya, film seperti ini sungguh lebih menegangkan dan ciamik. Premis film ini menurut saya cukup mudah ditemukan, tetapi tidak semua orang kemudian merasa perlu melihat pada jarak pandang yang lebih jauh lagi. Film ini membawa saya untuk melihat dari berbagai kacamata, baik itu milik Razieh, Termeh, Nader, ataupun Simin. 

Isu sosial yang diangkat bisa dilihat dari bagaimana perbedaan kelas memengaruhi keputusan bekerja seseorang, Razieh rela mengambil pekerjaan demi membantu pemasukan untuk keluarganya di saat kondisi keluarganya sedang kacau.

Ia menyembunyikan kehamilannya dari sang suami agar dapat bekerja, padahal risiko sebagai ibu hamil sangatlah tinggi, apalagi pekerjaan Razieh yang membutuhkan tenaga ekstra, jarak rumah yang jauh dari tempat ia bekerja, serta ditambah Razieh selalu membawa anak pertamanya untuk ikut bekerja.

Dalam teorinya, Marx berkata bahwa posisi ekonomi seseorang itu menentukan kesadaran dan pilihan hidup mereka, bahkan terkadang pilihan belum tentu berarti seluas itu, beberapa orang tak memiliki pilihan apapun selain mengambil segala kesempatan yang ada. 

Ditambah bumbu-bumbu religius yang ada di dalam film, ditunjukkan bagaimana mereka menegakkan hukum, bagaimana perilaku Razieh yang takut-takut melakukan pekerjaannya, dan banyak hal lagi. Hal ini membuat saya sebagai penonton mampu merasakan sulitnya pilihan yang muncul di kehidupan sebagian orang di luar sana hingga harus bertentangan dengan beberapa prinsip yang ia pegang dalam hidup.

Terakhir, yang paling saya soroti adalah pada bagaimana dua orang kemudian bisa memiliki perbedaan prinsip hidup karena suatu kondisi yang bahkan bisa saja tidak pernah mereka duga sebelumnya.

Menjalin hubungan dengan orang lain, baik itu pasangan atau hubungan dalam bentuk yang lain memang tidaklah mudah, harus terus hidup kompromi-kompromi untuk banyak hal yang akan dihadapi ke depannya. Pilihan apapun yang akan dipilih memang sebaiknya dibicarakan lebih dulu.

Asghar Farhadi mampu membawa penonton masuk ke dalam film melalui sorotan setiap adegan yang intens, dipenuhi dialog, dan terasa sangat nyata. Film ini tidak menawarkan footage atau scene yang estetik dengan warna-warna cerah yang menghiasi, tetapi ia menawarkan topik diskusi dan perenungan hidup yang mendalam, bahwa di dunia ini tidak ada benar dan salah, hitam dan putih, yang mutlak adalah hukum Tuhan, bagi mereka yang memeluk agama.

Baca Juga