Cerita Fiksi

Lonceng Terakhir di Ruang Kelas

Lonceng Terakhir di Ruang Kelas
Ilustrasi guru mengajar (Gemini AI/Nano Banana)

"S.Pd. itu singkatan dari Sarjana Penuh Doa ya, Mbak?"

Pertanyaan ceplas-ceplos dari salah satu murid kelas XI itu seketika memecah konsentrasi saya yang sedang menjelaskan struktur teks argumentasi. Saya tertegun. Di depan kelas, dengan almamater kampus yang masih kaku dan sepatu pantofel yang sesekali bikin lecet, saya hanya bisa tersenyum getir. Saya, Cahaya—seorang mahasiswi tingkat akhir yang sedang menghitung hari menuju yudisium, merasa pertanyaan itu adalah sindiran halus dari alam semesta.

Di pojok kelas, Pak Bakri, guru pamong saya yang sudah mengabdi sebagai honorer selama lima belas tahun, hanya meringkuk pelan sambil merapikan tumpukan buku. Pak Bakri adalah sosok yang saya kagumi. Beliau tahu segalanya, mulai dari cara menjinakkan murid paling nakal hingga cara memperbaiki proyektor yang rewel. Namun, di balik ketenangannya, saya tahu ada badai yang sedang berkecamuk di dalam tas kusamnya: sebuah surat pemberitahuan tentang "Penataan Tenaga Non-ASN 2026".

"Bukan doa saja, De," jawab Pak Bakri tenang, "Tapi juga Sarjana Penuh Dedikasi."

Sakitnya, setelah bel pulang berbunyi, ruang guru terasa lebih dingin dari biasanya. Padahal AC sedang mati. Pak Bakri duduk di hadapan laptop tua yang mirip mesin traktor. Beliau sedang mencoba mengakses portal pendaftaran PPPK untuk kesekian waktu itu.

"Statusnya 'Data Tidak Ditemukan' lagi, Mbak," bisiknya tanpa menoleh. Suaranya tidak marah, hanya kosong. "Padahal saya sudah di sini sejak sekolah ini atapnya masih bocor. Sejak murid-muridnya sekarang sudah jadi polisi dan dokter."

Saya duduk di sana, merasa sangat kerdil. Apa gunanya teori-teori naratologi yang saya pelajari di kampus kalau saya tidak bisa membantu menuliskan akhir yang bahagia untuk kisah nyata di depan saya ini? Di berita, para penguasa berbicara tentang 'efisiensi', 'penataan', dan 'digitalisasi birokrasi'. Mereka berbicara angka, tapi mereka lupa bahwa di balik angka itu ada manusia yang punya cicilan piring, biaya sekolah anak, dan harga diri yang dipertaruhkan.

“Pak, apa tidak sebaiknya kita protes? Atau setidaknya kirim surat ke Dinas?” tanya saya, idealisme mahasiswa saya bergejolak.

Pak Bakri menatapku dengan mata yang lelah namun teduh. "Mbak Cahaya, dalam sistem yang digerakkan oleh algoritma dan database, suara manusia sering kali dianggap sebagai noise. Kalau data kita tidak masuk ke kotak yang mereka sediakan, kita dianggap tidak ada. Sesederhana itu."

Malamnya, saya tidak bisa tidur. Saya memuat draf skripsi saya tentang media salindia interaktif. Tiba-tiba semuanya terasa tidak masuk akal. Untuk apa saya mengembangkan media pembelajaran paling canggih jika sosok yang seharusnya mengoperasikannya justru diusir pelan-pelan dari ruang kelas? Isu pemberhentian honorer ini bukan cuma soal kehilangan pekerjaan, tapi soal hilangnya 'ruh' dari pendidikan itu sendiri.

Tiga hari kemudian.

Gubernur dijadwalkan melakukan kunjungan mendadak ke sekolah kami untuk meresmikan "Laboratorium Digital Masa Depan". Semua guru sibuk bersolek. Spanduk-spanduk besar dipasang. Pak Bakri diminta menjadi koordinator lapangan seperti biasa, karena hanya beliau yang mengetahui seluk-beluk teknis sekolah ini.

Saat acara inti, Gubernur berbicara dengan berapi-api tentang "Indonesia Emas 2045". Beliau menyebutkan bahwa mulai tahun depan, sistem pendidikan kita akan sepenuhnya tertata, bersih dari tenaga non-prosedural, dan berbasis kompetensi tinggi. Saya berdiri di barisan belakang, menggenggam tangan di saku almamater.

Tiba-tiba, listrik padam. Total.

Genset sekolah yang sudah tua tidak mau menyala. Ruang aula yang tertutup rapat menjadi gelap dan pengap. Mikrofon mati. Presentasi digital yang megah itu lenyap. Para pejabat mulai panik. Ajudan sibuk menyalakan senter HP. Di tengah kegelapan itu, saya melihat sebuah bayangan bergerak dengan tenang menuju ruang panel listrik di belakang aula.

Itu Pak Bakri.

Hanya dalam dua menit, lampu kembali menyala. Bukan karena gensetnya berhasil diperbaiki, tapi karena Pak Bakri secara jenius melakukan jumper arus yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah "berkawan" dengan gedung ini selama belasan tahun. Beliau keluar dari panel ruang dengan tangan hitam terkena oli, tersenyum kecil, lalu kembali berdiri di pojok ruangan, di luar jangkauan kamera wartawan.

Gubernur melanjutkan pidatonya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Beliau kembali bicara tentang "menghapus yang tidak kompeten". Beliau tidak tahu bahwa sedetik yang lalu, acaranya diselamatkan oleh orang yang dalam catatannya akan "diberhentikan" bulan depan.

Saya tidak tahan lagi. Saat sesi tanya jawab, saya mengangkat tangan tinggi-tinggi. Sebagai mahasiswa magang, saya seharusnya diam. Tapi gelar S.Pd. yang akan saya sandang terasa membakar punggung saya.

“Izin bertanya, Pak Gubernur,” suara saya bergetar tapi kencang. "Tadi Bapak bicara tentang penghapusan tenaga honorer demi profesionalisme. Tapi baru saja, saat sistem digital Bapak mati total, yang menyelamatkan martabat acara ini adalah seorang guru honorer yang sudah mengabdi 15 tahun. Pertanyaan saya: Di kolom database mana Bapak akan memasukkan nilai 'Dedikasi' dan 'Ketulusan' yang tidak bisa dibaca oleh algoritma BKN? Dan jika tahun depan beliau diberhentikan, siapa yang akan membantu murid-murid yang mengalami masalah keluarga—tugas yang sering diemban guru honorer di luar beban administrasi Bapak?"

Hening. Satu aula tiba-tiba seperti kuburan.

Pak Bakri menatapku dengan wajah pucat, antara takut dan haru. Gubernur tertegun, senyum politiknya sedikit luntur. Beliau berdehem, lalu menjawab dengan jawaban normatif tentang "regulasi tetap harus dijalankan".

Sore hari, saya dan Pak Bakri berdiri di gerbang sekolah.

“Mbak Cahaya tidak seharusnya melakukan hal itu,” kata beliau.

"Saya tidak bisa diam, Pak. Kalau saya diam sekarang, ijazah saya nanti cuma akan jadi kertas saksi bisu atas ketidakadilan."

Pak Bakri menyerahkan sebuah kunci pada saya. Kunci ruang perpustakaan. "Mbak, besok saya mungkin sudah tidak di sini. Suratnya sudah keluar tadi siang. Saya tidak lolos verifikasi karena ijazah awal saya hilang saat banjir sepuluh tahun lalu. Database tidak mau tahu."

Duniaku serasa runtuh. Inikah akhir dari dedikasi? Inikah hadiah untuk pahlawan yang menyelamatkan muka pemerintah tadi siang?

“Tapi Mbak harus lanjut,” sambungnya sambil menepuk bahu saya. "Jadilah guru yang bukan hanya pintar di data, tapi juga hadir di hati. Penguasa boleh menghapus status kita, tapi mereka tidak bisa menghapus jejak kita dalam ingatan murid-murid."

Saya melihat Pak Bakri berjalan menjauh, sosoknya mengecil ditelan senja. Beliau pergi tanpa upacara perpisahan, tanpa pesangon, tanpa gelar pahlawan. Hanya membawa tas kusam berisi sisa kapur tulis.

Kini, setiap kali saya mengetik skripsi, saya selalu teringat kejadian itu. Cerita ini adalah pesan untuk kalian yang duduk di kursi empuk kekuasaan: Pendidikan itu tentang manusia, bukan tentang merapikan baris-baris di Microsoft Excel. Jika kalian terus memangkas akar demi mempercantik pucuk daun, jangan kaget jika suatu hari pohon ini akan tumbang saat badai datang.

Dan untuk ijazah S.Pd. saya nanti? Saya sudah memutuskan. Ijazah itu tidak akan jadi pajangan. Ia akan jadi senjata. Untuk terus bersuara bagi mereka yang dianggap sebagai kebisingan dalam batasan database kalian yang dingin.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda