Kolom

Simalakama Plastik: Antara Lonjakan Harga dan Napas UMKM yang Sesak

Simalakama Plastik: Antara Lonjakan Harga dan Napas UMKM yang Sesak
Ilustrasi pedagang UMKM yang menggunakan plastik (Freepik)

Naiknya harga "es cekek" dari Rp1.000 menjadi Rp1.500 mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Namun, bagi anak sekolah, ini adalah guncangan ekonomi yang nyata. Keluhan ini tak hanya datang dari pembeli, tapi juga pedagang yang kini terjepit harga plastik yang sudah tidak manusiawi. Saya membuktikannya sendiri: satu pak cup agar-agar kecil yang beberapa hari lalu masih seharga Rp5.000, kini melonjak drastis menjadi Rp10.000.

Pemandangan menarik sekaligus miris pun mulai terlihat di warung-warung kecil. Belanja di bawah Rp5.000 kini dilarang menggunakan kantong kresek. Bahkan, membeli es batu pun harus siap membawanya dengan tangan kosong jika tidak sedia wadah sendiri. Fenomena ini bukan sekadar urusan bungkus-membungkus; ini adalah sinyal darurat dari ekonomi yang sedang sesak napas.

Efek Domino Global ke Gerobak Siomay

Kenaikan harga plastik yang mencapai 45% dalam sebulan terakhir ini bukan tanpa alasan. Secara global, ketegangan geopolitik (seperti konflik di Timur Tengah) berdampak langsung pada harga minyak mentah sebagai bahan baku utama polimer plastik. Ditambah lagi, kebutuhan plastik domestik meningkat tajam, salah satunya dipicu oleh masifnya program makan bergizi yang di beberapa tempat masih menggunakan kemasan plastik sekali pakai alih-alih menggunakan ompreng yang bisa dicuci ulang.

Sejak kemunculan plastik secara massal pada tahun 1950-an, material ini telah menjadi "napas" bagi pedagang kecil karena murah dan praktis. Namun, ketika harga bahan baku naik imbas kenaikan BBM, biaya operasional UMKM pun meledak. Jika porsi dikurangi, pembeli kabur; jika harga tetap, penjual bangkrut. Ini adalah simalakama yang menyesakkan di tengah gaji masyarakat yang tidak kunjung naik.

Kabar Baik yang Terasa Pahit

Ada ironi di sini. Di satu sisi, mahalnya harga plastik secara alami "memaksa" rakyat mengurangi konsumsi sampah anorganik. Namun, di sisi lain, alternatifnya belum siap. Plastik berbasis ketela (biodegradable) harganya masih terlalu mahal bagi penjual siomay keliling. Ingin beralih ke daun pisang atau daun jati? Jelas tidak praktis untuk makanan berkuah dan suplainya pun tidak menentu. Menggunakan kertas bekas pun berisiko bagi kesehatan karena residu tinta yang menempel pada gorengan panas.

Lantas, pedagang kecil harus bagaimana? Mereka menjadi korban pertama dari ketergantungan kita pada plastik. Pemerintah sering kali hanya memberikan imbauan yang terasa seperti "lelucon" bagi rakyat kecil—seperti saran menghemat gas saat memasak. Tanpa perlu sekolah tinggi pun, masyarakat sudah tahu cara berhemat. Yang dibutuhkan rakyat saat ini adalah solusi konkret, bukan sekadar imbauan teknis yang meremehkan kecerdasan warga.

Dukungan, Bukan Administrasi Berlapis

Mengatasi ketergantungan plastik adalah PR bersama, namun beban terbesar jangan diletakkan di bahu rakyat kecil. Pemerintah seharusnya menyediakan atau mensubsidi plastik ramah lingkungan yang mudah terurai (bioplastik) agar harganya terjangkau. Hal ini jauh lebih efektif daripada membiarkan kelompok seperti Pandawara bersusah payah membersihkan tumpukan sampah di sungai sendirian.

Selain itu, pemerintah perlu memberikan dukungan moral dan finansial bagi inovator lokal yang berhasil menciptakan alternatif plastik. Jangan justru mematahkan semangat mereka dengan birokrasi administrasi yang berlapis-lapis dan alasan produk "ilegal" karena belum terdaftar SNI. Bukannya dibantu agar memenuhi standar, inovasi rakyat sering kali justru mati di tangan regulasi.

Sudah saatnya kebijakan berpihak pada keberlangsungan UMKM sekaligus kelestarian lingkungan. Jika harga plastik terus meroket tanpa ada alternatif yang murah, bukan hanya kantong plastik yang hilang, tapi juga periuk nasi para pedagang kecil di negeri ini.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda