Entertainment
Pemeran Utama Perfect Crown Minta Maaf soal Kontroversi Distorsi Sejarah
Drama Korea Perfect Crown tengah menjadi perbincangan hangat setelah menuai kontroversi terkait penggambaran sejarah dan simbol kerajaan dalam ceritanya. Serial yang dibintangi IU dan Byeon Woo Seok ini bahkan membuat kedua pemeran utamanya menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada publik melalui media sosial pribadi mereka.
Kontroversi muncul setelah penayangan episode 11 pada 15 Mei lalu. Drama tersebut mengambil latar dunia alternatif di mana Korea Selatan masih berbentuk monarki konstitusional modern. Ceritanya berfokus pada Seong Hui Ju, pewaris keluarga chaebol yang diperankan IU, serta Grand Prince Ian yang dimainkan Byeon Woo Seok.
Dalam episode tersebut, Grand Prince Ian resmi dinobatkan sebagai raja baru. Namun, sejumlah penonton Korea menilai adegan penobatan itu menampilkan simbol yang dianggap menggambarkan Korea sebagai negara bawahan China.
Salah satu yang paling disorot adalah penggunaan seruan "Cheonse" atau "seribu tahun," yang dalam sejarah identik dengan negara vasal (negara yang berada di bawah kekuasaan atau pengaruh negara lain yang lebih kuat), bukan "Manse" atau "sepuluh ribu tahun" yang melambangkan kedaulatan negara independen.
Tak hanya itu, mahkota yang dikenakan karakter Grand Prince Ian juga menjadi sorotan. Penonton menilai mahkota tersebut menyerupai guryumyeonryugwan, yaitu mahkota yang secara historis digunakan pejabat atau bawahan kekaisaran China, bukan shipimyeonryugwan yang biasa dipakai penguasa negara merdeka.
Seiring kontroversi yang semakin membesar, tim produksi merilis permintaan maaf resmi pada 16 Mei dengan menyatakan, "Kami menanggapi dengan sangat serius kritik yang menyebut bahwa kami telah merusak status kedaulatan negara kami." Permintaan maaf itu menjadi langkah awal sebelum akhirnya para pemeran utama turut memberikan tanggapan pribadi.
Melalui akun Instagram pribadinya, IU mengaku telah membaca seluruh kritik dan komentar dari penonton selama beberapa hari terakhir. Ia mengatakan merasa gagal menunjukkan sikap yang bertanggung jawab sebagai pemeran utama drama tersebut.
IU menyampaikan bahwa dirinya menyesal karena tidak mempelajari naskah dan konteks sejarah dengan lebih mendalam sebelum proses syuting berlangsung. Menurutnya, drama yang menggabungkan unsur imajinasi dengan sejarah dan budaya Korea seharusnya ditangani dengan lebih hati-hati.
"Aku seharusnya membaca naskah lebih teliti dan belajar lebih banyak sebagai seorang aktris," tulis IU dalam pernyataannya. Ia juga berjanji akan lebih berhati-hati dalam memilih dan memahami proyek di masa depan.
Sementara itu, Byeon Woo Seok juga mengunggah surat tulisan tangan untuk menyampaikan permintaan maafnya. Aktor yang belakangan semakin populer berkat berbagai drama romantis ini mengaku membutuhkan waktu sebelum akhirnya berbicara kepada publik karena khawatir perkataannya justru memperburuk keadaan.
Dalam suratnya, Byeon Woo Seok mengatakan bahwa selama proses syuting dirinya tidak cukup memikirkan konteks sejarah dan bagaimana pesan dalam drama dapat diterima penonton. Ia mengaku mendapat pelajaran penting mengenai tanggung jawab seorang aktor, bukan hanya dalam akting tetapi juga dalam memahami pesan yang dibawa sebuah produksi.
"Ke depannya, saya akan menjadi aktor yang lebih berhati-hati dan penuh pertimbangan dalam memilih proyek. Saya minta maaf," tulis Byeon Woo Seok.
Kontroversi ini muncul di tengah pencapaian rating yang sebenarnya cukup mengesankan untuk drama tersebut. Menurut data Nielsen Korea yang dikutip Soompi, episode terakhir Perfect Crown berhasil mencatat rating nasional rata-rata sebesar 13,8 persen. Angka itu menjadi rekor tertinggi sepanjang penayangan drama sekaligus menjadikannya program paling banyak ditonton pada slot waktunya.
Meski menuai kritik, drama ini tetap berhasil mempertahankan perhatian publik hingga akhir penayangan. Banyak penonton memuji chemistry antara IU dan Byeon Woo Seok, serta visual dan produksi dramanya yang mewah. Namun, kontroversi tersebut juga menjadi pengingat bahwa penggunaan elemen sejarah dan simbol budaya dalam karya fiksi tetap perlu diperhatikan secara mendalam.