Ulasan
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
If Wishes Could Kill (judul asli Korea: Girigo) merupakan serial horor supernatural young adult asal Korea Selatan yang dirilis pada 24 April 2026 secara eksklusif di Netflix. Serial terbatas ini terdiri dari 8 episode dengan durasi sekitar 36–52 menit per episode. Dibuat oleh sutradara Park Youn-seo dan penulis Park Joong-seop, serial ini menampilkan pemeran utama seperti Jeon So-young sebagai Yoo Se-ah, Kang Mi-na sebagai Lim Na-ri, Baek Sun-ho sebagai Kim Geon-woo, Hyun Woo-seok sebagai Kang Ha-joon, serta Lee Hyo-je sebagai Choi Hyeong-wook.
Horor Teknologi dan Ritual Kuno yang Unik

Serial ini mengikuti sekelompok siswa SMA di Seorin High School yang menemukan aplikasi misterius bernama Girigo. Aplikasi tersebut menjanjikan pemenuhan keinginan terdalam pengguna. Akan tetapi, setiap keinginan yang terkabul diikuti oleh hitungan mundur 24 jam menuju kematian yang mengerikan. Cerita dimulai dengan kematian tragis seorang siswa bernama Do Hye-ryung yang menggunakan aplikasi tersebut, yang kemudian memicu rantai peristiwa mematikan di antara lima sahabat. Mereka harus mengungkap asal-usul kutukan yang terkait dengan tradisi shaman Korea kuno, trauma masa lalu, dan elemen supranatural untuk memutus siklus kematian.
Yoo Se-ah, seorang atlet lari yang tangguh, bersama teman-temannya—Lim Na-ri yang populer, Kim Geon-woo yang dekat dengannya secara rahasia, Kang Ha-joon yang cerdas dalam pemrograman, dan Choi Hyeong-wook yang pemalu—terjebak dalam horor ini. Hyeong-wook pertama kali menggunakan aplikasi untuk meraih nilai sempurna dalam ujian, yang segera diikuti hitungan mundur. Kematian pertamanya menjadi titik balik yang mengguncang kelompok tersebut. Serial ini dengan cerdas menggabungkan drama remaja sehari-hari, seperti persahabatan toksik, tekanan akademik, dan hubungan romantis, dengan elemen horor okultisme dan teknologi.
Review Serial Serial If Wishes Could Kill

Tema utama mencakup konsekuensi dari keinginan egois, kekuatan kata-kata dan niat, serta pentingnya menghadapi trauma masa lalu. Serial ini terinspirasi dari konsep monkey's paw klasik, tapi diadaptasinya dengan sentuhan modern melalui aplikasi ponsel dan elemen shamanisme Korea. Kutukan Girigo tidak hanya membunuh secara fisik, melainkan juga merusak mental korban dengan memanipulasi persepsi dan memicu tindakan self-harm yang mengerikan. Elemen ini memberikan kedalaman psikologis yang kuat di balik genre horor YA.
Akting para pemeran mudanya patut diacungi jempol. Jeon So-young menyampaikan kekuatan dan kerapuhan Se-ah dengan meyakinkan, sementara Kang Mi-na menghadirkan kompleksitas pada Na-ri yang awalnya denial terhadap bahaya. Visual horornya efektif, dengan penggunaan pencahayaan redup, jump scare yang terukur, dan adegan supranatural yang menggabungkan ritual shaman dengan teknologi. Skor musik synth yang menegangkan mendukung atmosfer ketegangan sepanjang serial. Meski ditujukan untuk audiens muda, serial ini berhasil menjaga keseimbangan antara elemen hiburan remaja dan horor yang cukup intens untuk rating TV-MA.
Salah satu adegan paling menegangkan terjadi pada episode awal ketika Choi Hyeong-wook, setelah keinginannya terkabul, mulai berperilaku erratic selama sesi belajar malam di sekolah. Ia menerima panggilan telepon misterius yang memutar suara teman-temannya membicarakan dirinya secara kejam—padahal pemilik suara tersebut sedang berada di tempat lain. Ketegangan memuncak saat Hyeong-wook tiba-tiba mengeluarkan pisau dan menggorok lehernya sendiri di hadapan Se-ah, tepat ketika hitungan mundur mencapai nol.
Adegan ini disutradarai dengan detail grafis yang mengganggu, disertai suara latar yang membangun kepanikan, menciptakan sensasi horor visceral sekaligus emosional yang sulit dilupakan. Selain itu, adegan ritual shaman di dimensi supranatural pada episode-episode berikutnya juga sangat intens, di mana karakter utama berhadapan dengan roh jahat yang menyamar sebagai orang terkasih, memaksa mereka menghadapi trauma terdalam.
Kelebihan utama serial ini terletak pada premis yang segar dalam konteks K-drama horor, serta eksplorasi dinamika persahabatan remaja yang realistis. Durasi singkat delapan episode membuatnya padat dan tidak bertele-tele. Akan tetapi, elemen drama remajanya terkadang mendominasi, sehingga horornya terasa lebih ringan dibandingkan produksi horor Korea dewasa seperti The Wailing. Pada paruh kedua, plotnya sedikit kehilangan momentum sebelum klimaks yang memuaskan.
Kesimpulan: Tontonan Wajib bagi Penggemar Horor YA
If Wishes Could Kill adalah tontonan yang menghibur dan mencekam bagi penggemar horor YA yang menyukai perpaduan teknologi modern dengan folklore Korea. Serial ini mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan keinginan yang diucapkan, karena konsekuensinya bisa fatal. Dengan produksi berkualitas dan cerita yang engaging, serial ini berhasil menjadi horor remaja pertama Netflix Korea yang menonjol. Untuk yang mencari ketegangan dengan sentuhan emosional, serial ini sangat direkomendasikan. Rating pribadi 8/10.
Saat ini, If Wishes Could Kill sudah tersedia untuk streaming di Netflix sejak tanggal rilisnya pada 24 April 2026. Kamu bisa menikmatinya kapan saja dengan subtitle dan dubbing dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia. So, selamat menonton ya Sobat Yoursay!