Health

Stres di Masa Pandemi, Begini Cara Mengatasinya

Stres di Masa Pandemi, Begini Cara Mengatasinya

Pandemi Covid-19 belum juga terlihat akan mereda. Setelah menyerang China, belahan Eropa dan sebagian besar dunia, Covid-19 pun menginfeksi Indonesia mulai awal tahun ini.

Sejak kemunculannya di Indonesia, tepatnya awal Maret 2020, virus yang menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan ini menyebar dengan sangat cepat. Berbagai kota di Indonesia mengalami lonjakan kasus dari hari ke hari.

Hal ini kemudian membuat pemerintah memutuskan untuk melakukan pembatasan kegiatan masyarakat. Di DKI Jakarta, pembatasan itu diwujudkan dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB.

Kebijakan ini membuat kita melakukan aktivitas di luar rumah dengan terbatas. Keterbatasan ini seringkali membuat kita jadi mudah bosan, dan akhirnya mudah mengalami stres.

Jika stres terjadi secara berkelanjutan, maka hal ini bisa menimbulkan berbagai dampak negatif. Misalnya, kurangnya produktivitas penderita atau bahkan tidak mampu melakukan kegiatan sama sekali, merugikan orang di sekitarnya karena harus memberi perhatian lebih kepadanya, hingga pada risiko yang tertinggi, sakit dalam jangka watu lama.

Jadi mengapa stres ini perlu diatasi secara dini?

Channel Youtube Clarin Hayes menyebutkan, stres perlu diatasi, karena bisa menjadi akar sumber dari berbagai penyakit, seperti, tekanan darah yang meningkat dapat menyebabkan hipertensi, stroke, jantung, dan obesitas.

Stres juga mampu menurunkan imunitas tubuh kita, sehingga menjadi lebih rentan terhadap berbagai macam infeksi dan memberikan rasa yang tidak nyaman.

Kalau menurut badan kesehatan dunia Perserikatan Bangsa-bangsa (WHO), stres adalah epidemi kesehatan paling parah di abad ke-21, yang harus segera ditangani, karena dapat memberikan rasa tidak nyaman.   

Stres merupakan respons fisiologi tubuh terhadap situasi fisik dan emosional yang tidak diinginkan. Dalam jurnal yang berjudul “Teori Stres: Stimulus, Respons dan Transaksional”, yang ditulis Nasib Tua Lumban Gaol, disebutkan, stres merupakan masalah umum yang terjadi dalam kehidupan umat manusia.

Pada kesempatan lain, Kupriyanov dan Zhdanov (2014) menyatakan, saat ini, stres merupakan atribut kehidupan modern, karena sudah menjadi bagian hidup yang tidak bisa dielakkan, baik di lingkungan sekolah, kerja, keluarga, atau dimanapun.

Stres Bisa Menimpa Siapa Saja

Stres dapat menimpa siapa saja, anak-anak, remaja, dewasa, maupun yang sudah lanjut usia. Tubuh merespons stres dengan 2 jalur, yaitu Hipotalamus pituitary adrenal axis (HPA), yang nantinya tubuh akan merespons dengan mengeluarkan kortisol hormon stres dan aktivasi sistem saraf simpatetik, yang akan menghasilkan hormon adrenalin dan non adrenalin.

Kita akan merasakan efek stres melalui detak jantung yang menjadi lebih cepat dan peningkatan tekanan darah, sehingga dapat membahayakan kondisi fisik dan mental.

Walaupun lebih banyak berkonotasi negatif, stres juga memiliki konotasi positif.

Stres yang normal dapat memberikan dampak yang baik. Misalnya, membantu kita mengerjakan tugas lebih cepat saat sedang mengejar masa deadline.

Namun apabila stres sering terjadi dan berkepanjangan, hati-hati! Maka untuk melakukan pertolongan pertama pada stres, terutama di saat pandemi, bisa dilakukan beberapa tips ini;

1.  Latihan pernapasan

Latihan pernapasan ditandai dengan adanya kontraksi diafragma yang lebih kuat, pembesaran perut, dan kita akan mengambil serta membuang napas lebih dalam daripada biasanya.

Ketika kita melakukan latihan pernapasan, maka kita akan merasa lebih rileks, frekuensi pernapasan akan menurun, dan memaksimalkan jumlah oksigen yang masuk ke dalam paru-paru, serta dapat menurunkan aktivitas saraf simpatetik dan meningkatkan saraf parasimpatik. Kondisi ini akan membuat kita rileks.

2.  Mendengarkan musik

Menurut beberapa penelitian, musik terbukti dapat menurunkan kortisol sebagai respons tubuh terhadap stres. Ketika seseorang mendengarkan musik, maka berbagai bagian otak akan teraktivasi secara bersamaan, yang mana hal ini akan membuat kita merasa bahagia. Musik juga dapat mengurangi kecemasan. 

3.  Aromaterapi Lavender

Penggunaan lavender oil sebagai aromaterapi telah terbukti mampu menurunkan tingkat stres, kecemasan, memperbaiki mood, dapat memperlancar aliran darah, memperlancar masuknya oksigen ke otak, sehingga kita pun akan lebih rileks.

4.  Olahraga

Banyak manfaat olahraga, misalnya mencegah berbagai penyakit kronis, melancarkan peredaran darah, meningkatkan metabolisme dan meningkatkan daya ingat.

5.  Menghindarkan diri dalam kesendirian

Jika individu mengalami stres, sebaiknya ia lebih banyak bergaul dengan orang lain agar tidak kesepian. Dalam kesendirian, seseorang akan lebih menikmati stresnya. Dengan semakin menikmati stresnya, maka kondisi semakin buruk dan membahayakan. Sangat disarankan untuk mencari teman yang dapat diajak mencurahkan isi hati, sehingga beban psikologis penyebab stres dapat dikurangi

Stres tidak dapat dihindari oleh setiap individu selama kehidupannya, sehingga mereka harus mampu mengenali penyebab dan cara mengatasinya. Dengan demikian, seseorang dapat menikmati kehidupan yang layak, nyaman, dan bahagia.

Penulis:  Uray Kania Desita

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Komentar

Rekomendasi

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda