Quarter-Life Crisis di Kota Besar: Masalah Personal atau Sistemik?

Hayuning Ratri Hapsari | Yayang Nanda Budiman
Quarter-Life Crisis di Kota Besar: Masalah Personal atau Sistemik?
Ilustrasi perempuan muda bermasalah menggunakan laptop di rumah. (Pexels.com/Andrea Piacquadio)

Di kota besar, usia dua puluhan hingga awal tiga puluhan sering digambarkan sebagai fase paling produktif dalam hidup. Ini adalah periode ketika seseorang diharapkan telah menemukan arah karier, memiliki kestabilan finansial awal, dan mulai “menata masa depan”. Namun, realitas yang dialami banyak anak muda justru bertolak belakang. Alih alih merasa mantap, tidak sedikit yang terjebak dalam kecemasan, kebingungan identitas, dan rasa tertinggal. Fenomena ini dikenal sebagai quarter-life crisis.

Pertanyaannya kemudian muncul: apakah quarter-life crisis sekadar persoalan pribadi, akibat ketidakmampuan individu mengelola ekspektasi hidupnya, atau justru gejala dari sistem sosial ekonomi kota besar yang semakin tidak ramah bagi generasi muda?

Kota Besar dan Beban Ekspektasi yang Menumpuk

Kota besar adalah ruang dengan tempo cepat dan standar tinggi. Kesuksesan diukur melalui pencapaian yang kasat mata: jabatan, gaji, kepemilikan aset, dan gaya hidup. Media sosial memperparah tekanan ini dengan menghadirkan etalase kesuksesan yang tampak instan dan seragam. Di linimasa, usia 25 sudah tampak mapan, usia 30 harus stabil, dan kegagalan jarang mendapat ruang untuk tampil apa adanya.

Bagi banyak anak muda, ekspektasi ini menimbulkan rasa cemas yang konstan. Mereka merasa selalu tertinggal, meski telah bekerja keras. Pekerjaan pertama sering kali tidak sesuai harapan, gaji habis untuk biaya hidup, dan waktu untuk refleksi diri nyaris tidak tersedia. Kota besar, dengan segala peluangnya, juga menjadi ruang perbandingan yang tidak ada habisnya.

Dalam kondisi ini, quarter-life crisis kerap dipersepsikan sebagai kegagalan personal. Individu menyalahkan dirinya sendiri karena belum mencapai standar yang ditetapkan, tanpa sempat mempertanyakan apakah standar tersebut realistis dan adil.

Struktur Ekonomi yang Tidak Bersahabat

Jika ditelisik lebih jauh, kegelisahan generasi muda di kota besar tidak lahir di ruang hampa. Ia berkaitan erat dengan struktur ekonomi yang semakin menekan. Biaya hidup meningkat jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan upah. Harga sewa tempat tinggal di pusat kota menguras sebagian besar pendapatan, sementara keamanan kerja semakin rapuh akibat kontrak jangka pendek dan sistem kerja fleksibel yang minim perlindungan.

Di sisi lain, jalur mobilitas sosial semakin menyempit. Pendidikan tinggi yang dulu dianggap tiket menuju kestabilan kini tidak lagi menjamin pekerjaan layak. Banyak lulusan perguruan tinggi bekerja di sektor yang tidak sesuai bidangnya, atau berpindah-pindah pekerjaan tanpa kepastian karier jangka panjang. Kondisi ini membuat perencanaan hidup menjadi sulit, bahkan untuk kebutuhan dasar seperti menabung atau membangun keluarga.

Dalam konteks ini, quarter-life crisis tidak bisa dilepaskan dari persoalan sistemik. Kebingungan dan kecemasan bukan semata hasil dari kurangnya ketangguhan mental, tetapi respons wajar terhadap ketidakpastian struktural yang dialami secara kolektif.

Antara Tanggung Jawab Individu dan Perubahan Sistem

Mengakui dimensi sistemik dari quarter-life crisis bukan berarti meniadakan peran individu. Setiap orang tetap perlu mengelola kesehatan mental, mengenali batas dirinya, dan mendefinisikan ulang makna sukses secara personal. Namun, narasi yang terlalu menekankan self-improvement sering kali problematik karena mengabaikan konteks sosial yang lebih luas.

Kota besar membutuhkan lebih dari sekadar motivasi individu. Ia memerlukan kebijakan publik yang berpihak pada generasi muda: perumahan terjangkau, upah layak, jaminan kerja, serta akses layanan kesehatan mental yang mudah dan tidak distigmatisasi. Tanpa itu, anjuran untuk “lebih sabar” atau “lebih giat berusaha” hanya akan terdengar kosong.

Di sisi lain, anak muda juga mulai menunjukkan upaya perlawanan kultural. Banyak yang memilih jalur karier non-konvensional, menunda milestone hidup yang dianggap wajib, atau bahkan meninggalkan kota besar demi kualitas hidup yang lebih seimbang. Pilihan-pilihan ini sering disalahpahami sebagai kemunduran, padahal bisa jadi merupakan bentuk adaptasi rasional terhadap sistem yang tidak lagi menjanjikan stabilitas.

Menyikapi Quarter-Life Crisis Secara Kolektif

Quarter-life crisis di kota besar seharusnya tidak dipandang sebagai aib personal. Ia adalah sinyal sosial bahwa ada yang tidak beres dalam cara kita mengelola harapan, pekerjaan, dan kehidupan urban. Dengan melihatnya sebagai persoalan kolektif, ruang diskusi menjadi lebih luas dan empatik.

Alih alih bertanya “mengapa aku belum sampai”, mungkin pertanyaan yang lebih relevan adalah “sampai ke mana sistem ini memungkinkan kita melangkah”. Dari sana, diskusi tentang kesehatan mental, kebijakan ekonomi, dan masa depan kota bisa bergerak ke arah yang lebih jujur dan solutif. Pada akhirnya, quarter-life crisis bukan hanya tentang krisis usia, tetapi tentang krisis arah. Dan di kota besar, krisis ini mencerminkan ketegangan antara mimpi individual dan realitas struktural yang semakin sulit dijembatani.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak