News

Dilema Window Shopping: Ketika Mal Cuma Jadi Katalog Fisik Buat Belanja Online

Dilema Window Shopping: Ketika Mal Cuma Jadi Katalog Fisik Buat Belanja Online
Ilustrasi Window Shopping (freepik/DC Studio)

Window shopping merupakan salah satu kegiatan orang-orang saat mengunjungi tempat perbelanjaan atau mal. Istilah ini menggambarkan perilaku pengunjung mal yang hanya datang untuk sekadar mencuci mata, bertanya, dan melihat-lihat tanpa melakukan pembelian.

Fenomena ROHANA dan ROJALI

Di Indonesia sendiri, window shopping dikenal dengan istilah ROJALI (Rombongan Jarang Beli) dan ROHANA (Rombongan Hanya Nanya). Istilah ini sempat viral di media sosial.

Fenomena ini semakin terlihat terutama menjelang Lebaran, ketika harga berbagai barang cenderung naik, mulai dari bahan pokok hingga barang-barang sekunder seperti makanan dan baju Lebaran.

Faktor Bertambahnya ROJALI dan ROHANA

Berdasarkan data dari Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), kunjungan ke mal naik sebanyak 10% selama periode Januari hingga Februari 2025. Namun, pertumbuhan ini tidak setara dengan nilai transaksi yang ada di toko-toko.

Kubah Masjid Dekorasi Lebaran di Mal Central Park (dokumentasi pribadi/Natasha Suhendra)
Kubah Masjid Dekorasi Lebaran di Mal Central Park (dokumentasi pribadi/Natasha Suhendra)

Adanya opsi lain, seperti online shopping, juga membuat orang-orang semakin malas berbelanja langsung di mal.

Salah satu karyawan toko kecantikan di mal Central Park, Jakarta Barat, Kuzen, mengatakan bahwa melalui belanja secara daring, kita bisa mendapatkan harga yang lebih murah dibandingkan berbelanja secara langsung.

Selain itu, aspek praktis dan fleksibel juga menjadi pendorong banyak orang lebih memilih untuk berbelanja secara daring dibandingkan secara luring (offline).

“Kalau menurut aku sendiri, sih, pastinya kalau online itu yang pertama lebih murah dan belanja online waktunya fleksibel. Karena kalau misalkan di mal, kan, ada waktu-waktunya. Kalau online itu mau kapan saja bisa,” ujar Kuzen.

Hal ini pun diperkuat dengan pernyataan seorang pengunjung mal bernama Resty. Ia mengatakan bahwa harga yang naik membuat orang-orang memilih untuk berbelanja di warung-warung atau tempat lain selain mal.

“Sangat, sih, sangat-sangat berpengaruh. Apalagi kalau harga barang lagi naik, terus kita jadi mikir dua kali buat belanja di mal. Terutama, ya, pasti ada beberapa orang yang lebih memilih ke agen dan tempat-tempat lain yang lebih kecil,” kata Resty.

Ia juga menambahkan bahwa pergi ke mal dan tidak membeli barang sama sekali merupakan hal yang wajar untuk dilakukan.

“Enggak beli barang, kalau menurut aku pribadi wajar saja, ya. Kadang, kan, fasilitas mal itu tidak tentang kita belanja yang harus beli barang gitu, kan. Mungkin bisa saja dia pengin datang, pengin ke tempat ramai,” ujar Resty.

Terkadang orang-orang ke mal hanya untuk membandingkan harga dan melihat kualitas baju secara langsung. Setelah itu, mereka akan cenderung membelinya melalui daring.

Fenomena ini juga disetujui oleh Kuzen. Ia mengatakan bahwa terkadang orang pergi ke mal hanya untuk membandingkan harganya.

Dampaknya bagi Karyawan dan Tenan

Hal ini tentunya cukup merugikan bagi para karyawan seperti Kuzen. Ia mengatakan bahwa pembelian secara daring dapat mengurangi omzet atau target harian para karyawan.

“Pastinya berdampak banget, sih, karena untuk pembelian secara offline ada omzet yang harus terpenuhi,” ujar Kuzen.

Polemik ini pun masih menjadi perdebatan. Di satu sisi, mal menjadi tempat rekreasi dan hiburan bagi masyarakat. Namun, di sisi lain, kebiasaan window shopping tanpa membeli barang juga berdampak pada penjualan para tenan.

Kalau kamu lebih memilih membeli persiapan Lebaran di mana?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda