Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?

M. Reza Sulaiman | Wahyu Astungkara
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato saat World Economic Forum (WEF) 2026 di Congress Hall, Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026). [ANTARA FOTO/Aria Cindyara/bay/tom]

Banyak orang bilang bangsa ini sedang bahagia. Jujur saja, saya sempat tersenyum sendiri saat pertama kali mendengar kabar itu. Bahagia, kata mereka. Bahkan, paling bahagia dan paling optimistis di dunia. Saya tidak langsung membantah kabar tersebut. Saya hanya heran. Sebab, rasa-rasanya hidup sehari-hari tidak sesederhana itu.

Beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan keterkejutannya atas hasil survei yang dilakukan Universitas Harvard bersama Gallup. Indonesia, menurut riset itu, menempati peringkat pertama negara dengan tingkat kesejahteraan menyeluruh tertinggi di dunia. Skornya 8,3, di atas Israel, Filipina, Meksiko, bahkan jauh meninggalkan Amerika Serikat dan Inggris.

Saya membacanya dengan penuh kehati-hatian sekaligus terheran-heran. Riset itu tidak cuma bicara soal uang, tetapi mengukur banyak hal: kesehatan, kebahagiaan, makna hidup, relasi sosial, karakter, ketahanan finansial, sampai spiritualitas. Di situlah Indonesia unggul. Kata para peneliti, bangsa ini kuat dalam hubungan sosial dan karakter prososial, meski bukan negara terkaya.

Di atas kertas laporan itu, kabar ini terasa membuat melayang, bahkan membanggakan. Seolah-olah, di tengah segala kekacauan dunia, kita ini bangsa yang mampu bertahan dari segala gempuran, saling menguatkan, dan memiliki makna hidup. Namun, entah kenapa, kepala saya justru mulai dipenuhi pertanyaan.

Saya mencoba mengingat kehidupan sehari-hari di sekitar saya: tentang tetangga yang masih bingung membayar uang sekolah anaknya, tentang kawan yang bekerja tanpa kontrak jelas, tentang warga yang berbulan-bulan mengurus layanan publik tanpa kepastian. Tentang berita kekerasan, penggusuran, dan ketimpangan yang nyaris tiap hari berseliweran. Di titik itu, kata “bahagia” terasa agak jauh dari pengalaman konkret.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri. Apakah mungkin kita memang bahagia, tetapi terbiasa menanggungnya sendiri-sendiri? Apakah mungkin kita telah belajar berdamai dengan keadaan yang sebenarnya tidak adil? Atau jangan-jangan, kebahagiaan yang diukur itu lebih mirip daya tahan, bukan kesejahteraan?

Saya tidak sedang meragukan metodologi Harvard. Saya yakin para peneliti tahu apa yang mereka kerjakan. Namun, saya juga tahu, angka tidak selalu mampu menangkap kegelisahan yang sunyi. Survei bisa mengukur rasa syukur, optimisme, dan makna hidup, tetapi ia tidak selalu bisa membaca rasa lelah yang dipendam.

Mungkin benar, kita ini bangsa yang kuat secara sosial. Kita terbiasa saling bantu, terbiasa tertawa di tengah keterbatasan, terbiasa mencari makna bahkan ketika hidup terasa sempit. Dalam banyak hal, itu adalah kekayaan budaya yang luar biasa. Namun, di titik tertentu, saya khawatir kekuatan itu justru dijadikan alasan untuk membiarkan ketidakadilan terus berjalan. Sebab, kebahagiaan sosial tidak selalu berbanding lurus dengan keadilan struktural. Orang bisa merasa bahagia karena terbiasa, bukan karena hidupnya benar-benar layak. Orang bisa optimistis karena tidak punya pilihan lain selain berharap.

Di situlah saya mulai merasa gelisah. Jangan-jangan, kita sedang merayakan kebahagiaan di atas kertas, sementara di lapangan, banyak hal yang masih timpang. Jangan-jangan, narasi tentang bangsa paling bahagia ini terlalu cepat dijadikan pembenaran bahwa semuanya baik-baik saja.

Padahal, bahagia tidak seharusnya menutup mata terhadap ketidakberesan. Justru kebahagiaan yang sehat semestinya berjalan seiring dengan keberanian mengoreksi sistem yang tidak adil. Jika tidak, bahagia hanya akan menjadi "kosmetik" sosial belaka. Terlihat tampak glowing, tetapi rapuh di dalam.

Saya tidak ingin menjadi orang yang sinis terhadap kabar baik. Saya hanya ingin kita lebih jujur dalam memaknainya. Jika benar masyarakat Indonesia kuat dalam relasi dan makna hidup, maka negara seharusnya bekerja lebih keras untuk memastikan kekuatan itu tidak dieksploitasi dan tidak ada relasi penuh ketimpangan.

Sebab, kebahagiaan bukan soal perasaan semata. Di dalamnya juga terdapat rasa aman, nyaman, adil, dan rasa percaya pada sistem. Bahagia bukan hanya mampu bertahan dan tetap tersenyum di tengah kesulitan, melainkan juga mengerti bahwa hidup tidak dipersulit oleh kebijakan-kebijakan negara yang tidak berpihak pada rakyat.

Pada akhirnya, saya tidak menolak kesimpulan survei itu. Saya hanya ingin menaruhnya di tempat yang tepat: sebagai cermin, bukan sebagai panggung; sebagai pengingat bahwa bangsa ini punya modal sosial yang kuat, sekaligus peringatan bahwa modal itu bisa habis jika terus diuji tanpa keadilan.

Kalaupun tidak, mungkin kita memang bahagia, tetapi hanya di atas kertas. Ya, begitulah.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak