Kolom

Segelas Es Kopi dan Stigma Boros yang Melekat pada Anak Muda

Segelas Es Kopi dan Stigma Boros yang Melekat pada Anak Muda
Ilustrasi es kopi (magnific)

Setiap kali muncul pembahasan tentang kondisi keuangan anak muda, ada satu "tersangka" yang hampir selalu disebut, yaitu segelas es kopi kekinian.

Entah berapa kali saya membaca narasi bahwa anak muda susah beli rumah karena terlalu sering menghabiskan uang untuk membeli es kopi. Seolah-olah, kebiasaan membeli es kopi menjadi penyebab utama mengapa banyak anak muda kesulitan menyisihkan uang di akhir bulan.

Menurut saya, cara pandang seperti itu terlalu menyederhanakan masalah. Memang benar, kebiasaan konsumtif perlu dikendalikan. Membeli es kopi setiap hari tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan tentu bukan keputusan yang bijak.

Namun, menyimpulkan bahwa anak muda sulit menabung hanya karena sesekali membeli es kopi rasanya tidak adil, padahal ada masalah yang lebih kompleks.

Gaji Jalan di Tempat, Menabung Kian Berat

Sejak kecil, kita tidak asing dengan pepatah "hemat pangkal kaya". Kita diajarkan untuk menyisihkan sebagian uang demi kebutuhan di masa depan. Namun, nasihat tersebut sering kali terdengar jauh dari realita yang dihadapi anak muda di zaman sekarang.

Biaya hidup terus meningkat, mulai dari harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, uang sewa tempat tinggal, tagihan listrik, hingga berbagai kebutuhan lain yang harus ditanggun setiap bulan.

Di sisi lain, tidak semua orang menikmati kenaikan pendapatan yang sebanding dengan kenaikan biaya hidup. Akibatnya, ruang untuk menabung menjadi semakin sempit.

Oleh karena itu, tidak salah kalau saya bilang bahwa menabung in this economy perlahan menjadi sebuah privilege. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menyisihkan uang setiap bulan, karena bisa hidup dari gaji ke gaji tanpa utang saja sudah syukur.

Es Kopi Tak Layak Dijadikan Kambing Hitam

Saya juga kurang setuju jika semua anak muda yang membeli es kopi langsung dibilang boros. Membeli kopi setiap hari tanpa perhitungan dengan membeli satu atau dua gelas dalam seminggu sebagai bentuk self reward itu jelas berbeda.

Bagi pekerja yang setiap hari bergelut dengan target, tekanan pekerjaan, dan perjalanan pulang yang melelahkan, segelas es kopi bisa menjadi bentuk penghargaan kecil untuk diri sendiri.

Apakah itu berarti semua orang bebas membeli kopi sesuka hati? Tentu tidak. Kalau membeli es kopi setiap hari sampai menghabiskan sebagian besar penghasilan, saya juga menganggap itu bukan kebiasaan yang sehat.

Namun, menurut saya, sesekali membeli es kopi dari hasil menyisihkan uang sendiri tidak seharusnya menjadi alasan untuk melabeli seseorang sebagai orang yang gagal secara finansial. Apalagi jika pengeluaran tersebut masih berada dalam batas yang wajar dan tidak mengganggu kebutuhan utama.

Berhenti Menyederhanakan Masalah Keuangan Anak Muda

Di Indonesia, banyak pekerja menghadapi situasi di mana kenaikan gaji tidak selalu mampu mengejar laju kenaikan biaya hidup. Harga kebutuhan pokok naik, sementara penghasilan cenderung jalan di tempat. Kalau begini, apa yang mau ditabung?

Persoalan ini juga tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab negara. Pemerintah seharusnya tidak hanya mendorong masyarakat agar rajin menabung, tetapi juga memastikan adanya ekosistem ekonomi yang memungkinkan hal itu terjadi.

Upah yang mampu mengikuti kenaikan biaya hidup, lapangan kerja yang berkualitas, harga kebutuhan pokok yang terkendali, hingga akses terhadap hunian yang terjangkau merupakan fondasi agar masyarakat memiliki ruang untuk membangun keamanan finansial.

Segelas es kopi memang bisa dihemat. Namun, penghematan sekecil itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa banyak anak muda hidup di tengah ekonomi yang membuat upah sulit mengejar biaya hidup.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda