Kolom
Kursi Prioritas Bukan Hadiah, Stasiun Cikoko Bukti Integrasi Itu Mungkin
Ada satu pemandangan yang selalu bikin saya gemas tiap naik kereta di jam sibuk: bangku bertuliskan "prioritas" diduduki orang muda yang sehat wal'afiat, sementara ibu hamil atau lansia berdiri megangan tiang sambil sesekali oleng kena rem mendadak. Saya nggak lagi ngomongin sekali dua kali kejadian—ini pola yang keliatan hampir tiap hari, dan herannya, masih banyak yang pura-pura sibuk main HP begitu ada yang lebih butuh duduk di depan mereka.
Yang bikin saya makin gregetan, kursi prioritas itu bukan hadiah atau bonus buat siapa aja yang datang duluan. Fungsinya jelas: buat lansia, ibu hamil, orang dengan disabilitas, atau siapa pun yang kondisi fisiknya nggak memungkinkan buat berdiri lama di gerbong yang goyang dan penuh sesak. Herannya, kesadaran sesimpel ini masih sering ilang begitu masuk pintu kereta. Padahal, buat ngasih tempat duduk, nggak butuh biaya apa pun, cuma butuh kepekaan yang sayangnya sering kalah sama rasa capek atau gengsi.
Saya paham, naik transportasi umum di jam padat itu melelahkan buat semua orang, saya juga sering ngerasa pengen duduk aja seharian. Tapi justru di situ letak pentingnya empati: capek yang saya rasain berdiri lima belas menit itu nggak sebanding sama capeknya ibu hamil yang harus nahan badan sambil jaga kandungannya, atau lansia yang keseimbangannya udah nggak sekuat dulu. Kalau soal sesederhana ini aja masih sering diabaikan, gimana kita mau bilang transportasi umum kita udah ramah dan manusiawi?
Untungnya, di tengah kekesalan itu, saya juga nemuin hal yang bikin saya optimis lagi soal arah transportasi umum kita. Beberapa waktu lalu saya coba pindah moda dari LRT ke KRL lewat Stasiun Cikoko, dan jujur saya kagum. Integrasinya rapi banget—turun dari LRT, tinggal jalan kaki lewat jembatan penghubung, langsung nyambung ke peron KRL tanpa harus keluar stasiun, beli tiket ulang dari nol, atau muter jauh nyeberang jalan raya. Buat saya yang sering pindah-pindah moda transportasi, pengalaman ini kerasa banget bedanya dibanding stasiun-stasiun lain yang integrasinya masih setengah-setengah, di mana penumpang harus jalan kaki jauh, nyebrang jalan ramai, atau bahkan naik ojek dulu buat pindah moda.
Cikoko ngebuktiin kalau integrasi antar moda itu bukan cuma wacana, tapi bisa direalisasikan kalau memang jadi prioritas perencanaan. Dan ini penting banget, karena kenyamanan pindah moda itu salah satu faktor yang nentuin apakah orang mau beneran ninggalin kendaraan pribadi atau nggak. Percuma punya jaringan MRT, LRT, dan KRL yang luas kalau titik temunya bikin penumpang harus struggle sendiri buat nyambung dari satu moda ke moda lain.
Harapan saya sederhana: pengalaman kayak di Cikoko ini jangan cuma jadi pengecualian, tapi jadi standar di semua titik pertemuan antar moda transportasi umum di Jabodetabek, bahkan di kota-kota lain di Indonesia. Integrasi yang mulus bakal bikin transportasi umum makin gampang diakses, bukan cuma buat orang yang udah biasa naik kereta, tapi juga buat orang tua, penyandang disabilitas, atau siapa pun yang selama ini ragu beralih karena takut ribet pindah-pindah moda.
Karena pada akhirnya, transportasi umum yang benar-benar inklusif itu bukan cuma soal jaringan rel yang panjang, tapi juga soal dua hal yang sering keliatan sepele: kepekaan sesama penumpang buat berbagi kursi prioritas, dan kemudahan berpindah moda tanpa harus jadi perjuangan tersendiri. Kalau dua hal ini bisa dibenahi bareng-bareng, saya percaya makin banyak orang bakal betah dan bangga naik transportasi umum, bukan sekadar terpaksa karena nggak ada pilihan lain.