Kolom

Dekonstruksi Loyalitas: Mengapa Gen Z Tak Takut Resign Demi Work-Life Balance

Dekonstruksi Loyalitas: Mengapa Gen Z Tak Takut Resign Demi Work-Life Balance
ilustrasi resign kerja (Pexels/Anna Shvets)

Gen Z tidak takut resign dan berani pindah kerja demi work-life balance. Bagi mereka, karier bukan hanya soal gaji, tapi juga kesehatan, waktu pribadi, lingkungan kerja, dan kualitas hidup.

Dulu, dunia kerja selalu dipenuhi dengan anggapan yang cukup sering dinormalisasi: “Namanya juga kerja, pasti capek.” Meski ada benarnya, tapi bekerja tentu membutuhkan tanggung jawab, komitmen, dan kemampuan menghadapi tekanan.

Namun, bagi Gen Z, sekarang bekerja keras tidak selalu berarti harus mengorbankan seluruh kehidupan pribadi. Tumbuh bersama teknologi, kini muncul perubahan pandangan berbeda tentang karier.

Gaji tetap penting, tapi bukan satu-satunya pertimbangan ketika memilih pekerjaan. Lingkungan kerja, fleksibilitas, kesempatan berkembang, waktu bersama keluarga, hingga kesehatan dan kehidupan pribadi juga mulai diperhitungkan.

Karena itu, tidak mengherankan jika sebagian Gen Z dewasa ini menjadi lebih berani mempertimbangkan pindah kerja saat merasa pekerjaannya sudah tidak lagi sejalan dengan kehidupan yang ingin mereka jalani.

Bekerja untuk Hidup, Bukan Hidup untuk Bekerja

Menurut saya, salah satu perubahan terbesar dalam cara Gen Z melihat pekerjaan adalah munculnya kesadaran bahwa pekerjaan merupakan bagian dari kehidupan, bukan keseluruhan kehidupan.

Ada kehidupan setelah jam kantor. Ada keluarga yang ingin ditemui. Teman yang ingin diajak bertemu. Hobi yang ingin dilakukan. Bahkan waktu istirahat yang juga dibutuhkan demi me-refresh pikiran dan energi.

Saat pekerjaan mengambil hampir seluruh waktu dan energi, banyak yang mulai mempertanyakan apakah penghasilan yang diterima benar-benar sebanding dengan kehidupan yang dikorbankan. Di sinilah konsep work-life balance menjadi semakin relevan.

Gaji Penting, tapi Bukan Segalanya

Bukan berarti Gen Z tidak peduli terhadap gaji. Justru, penghasilan tetap menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan pekerjaan. Hanya saja, kini semakin banyak anak muda yang mulai menghitung “biaya” lain dari sebuah pekerjaan.

Gaji tinggi tapi harus bekerja tanpa batas waktu, belum tentu dianggap menarik saat kehidupan pribadi berantakan. Sebaliknya, pekerjaan dengan kompensasi sesuai, memiliki lingkungan sehat, waktu kerja jelas, dan kesempatan berkembang bisa terasa lebih berharga.

Menurut saya, ini bukan tanda bahwa Gen Z malas bekerja. Fenomena ini menjadi bukti nyata kalau sudah mulai tumbuh perubahan cara mendefinisikan pekerjaan yang layak di kalangan generasi muda, terutama Gen Z.

Berani Resign karena Informasi Lebih Mudah Didapat

Ada faktor lain yang membuat Gen Z lebih berani berpindah kerja: akses informasi. Melalui media sosial dan berbagai komunitas profesional, kita bisa mengetahui pengalaman orang lain tentang dunia kerja.

Kita bisa melihat bagaimana budaya perusahaan berbeda-beda, mencari informasi mengenai peluang karier, hingga menemukan pekerjaan baru tanpa harus bergantung sepenuhnya pada jaringan pribadi.

Akibatnya, pekerjaan tidak lagi terasa seperti satu-satunya kesempatan yang harus dipertahankan apa pun kondisinya. Jika sebuah lingkungan kerja tidak sesuai, ada kemungkinan lain yang bisa dicari.

Tentu saja, berpindah kerja tetap membutuhkan pertimbangan matang. Jangan sampai keputusan dibuat hanya karena mengikuti tren resign atau karena sedang kesal dengan satu masalah.

Gen Z Ingin Pekerjaan yang Punya Makna

Selain keseimbangan hidup, sebagian Gen Z juga mulai mempertanyakan makna pekerjaan. “Apakah pekerjaan ini sesuai dengan nilai yang saya percaya?”, “Apakah saya bisa berkembang di sini?”, “Apakah pekerjaan ini memberikan ruang untuk belajar?”

Pertanyaan semacam itu semakin penting ketika seseorang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Sebab, sekarang ini bekerja bukan sekadar mendapatkan gaji setiap akhir bulan.

Ada kebutuhan untuk merasa dihargai, berkembang, dan mengetahui kalau waktu serta kemampuan yang diberikan memiliki tujuan. Sederhananya, Gen Z ingin memiliki pekerjaan yang punya makna.

Jangan Sampai Work-Life Balance Disalahpahami

Menurut saya, memperjuangkan keseimbangan hidup bukan berarti mencari pekerjaan tanpa tekanan sama sekali. Setiap pekerjaan memiliki tanggung jawab dan tantangannya masing-masing.

Ada masa ketika pekerjaan memang membutuhkan usaha lebih. Ada proyek yang harus diselesaikan. Ada target yang harus dicapai. Di sinilah konsep work-life balance jangan sampai disalahpahami sebagai bekerja sesedikit mungkin.

Keseimbangan berarti memiliki batas yang sehat antara tuntutan pekerjaan dan kebutuhan hidup pribadi. Karena itu, sebelum memutuskan pindah kerja, penting untuk mengevaluasi alasan secara objektif.

Apakah masalahnya memang berasal dari sistem kerja? Apakah komunikasi dengan atasan sudah dicoba? Apakah ada peluang perubahan? Bagaimana kondisi pekerjaan baru yang ingin dituju?

Dengan memikirkan pertanyaan tadi, kita akan lebih dewasa dalam mempertimbangkan keputusan karier. Ingat, sebuah keberanian untuk berpindah pekerjaan tetap harus berjalan bersama perencanaan yang matang.

Karier Bukan Perlombaan untuk Bertahan Paling Lama

Mungkin, sekarang sudah waktunya kita berhenti mengukur loyalitas pekerja hanya dari berapa lama seseorang bertahan di satu perusahaan. Pindah kerja bukan berarti gagal, dan bertahan juga merupakan pilihan yang valid.

Gen Z yang berani pindah kerja demi keseimbangan hidup bukan berarti generasi yang tidak tahan bekerja keras. Mereka hanya mulai menyadari bahwa karier adalah bagian dari hidup, bukan seluruh hidup.

Dan mungkin, pertanyaan yang lebih relevan bukan lagi “Berapa lama kamu bisa bertahan di pekerjaan ini?” Melainkan: “Apakah pekerjaan ini masih sejalan dengan kehidupan yang ingin kamu bangun?”

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda