Kolom

Mengenal Herkansing dan Herexamen: Bukti Bahwa Pendidikan Butuh Ruang untuk Gagal

Mengenal Herkansing dan Herexamen: Bukti Bahwa Pendidikan Butuh Ruang untuk Gagal
Ilustrasi Pelajar SMA (Pexels/@airlangga)

Kalau gen Z kenalnya remedial. Gen Milenial ke atas mungkin lebih familiar mendengar herkansing atau herexamen. Apa sih itu?  Nah, dua istilah warisan bahasa Belanda ini menarik untuk direnungkan. Herkansing dan herexamen, keduanya mungkin terdengar asing bagi generasi sekarang, tetapi pernah hidup dalam dunia pendidikan Indonesia, terutama pada masa ketika sistem pendidikan masih kuat dipengaruhi tata kelola kolonial tentu terasa seperti rendezvous. 

Secara sederhana, herkansing berarti kesempatan untuk mengulang, sedangkan herexamen berarti ujian ulang. Kata her bermakna “ulang”, sementara examen berarti “ujian”. Adapun kansing berkaitan dengan gagasan kesempatan. Dari sana lahir sebuah konsep yang sebenarnya sangat manusiawi: seseorang boleh gagal, tetapi kegagalan itu tidak selalu menjadi vonis terakhir.

Di sinilah istilah tersebut menjadi lebih menarik daripada sekadar peninggalan kosakata Belanda. Sebab, pendidikan pada dasarnya bukan mesin penyaring yang hanya mengenali angka lulus dan gagal. Pendidikan seharusnya menjadi ruang bagi manusia untuk belajar, memperbaiki kesalahan, mencoba kembali, lalu menunjukkan bahwa dirinya mampu berkembang.

Herexamen mengandung filosofi sederhana: hasil buruk hari ini tidak otomatis menentukan kemampuan seseorang selamanya. Seorang siswa bisa gagal ujian karena berbagai alasan. Ia mungkin belum memahami materi, kurang mendapatkan pendampingan, mengalami persoalan keluarga, tidak mampu mengelola tekanan, atau sekadar belum menemukan metode belajar yang cocok. Bahkan siswa yang sebenarnya mampu pun dapat mengalami kegagalan karena kondisi tertentu. Karena itu, memberi kesempatan kedua bukan berarti memanjakan kegagalan.

Justru sebaliknya. Kesempatan kedua dapat menjadi bentuk tanggung jawab pendidikan. Seseorang yang memperoleh kesempatan mengulang tetap harus belajar, mempersiapkan diri, dan menghadapi evaluasi kembali. Yang diulang bukan sekadar kertas ujiannya, tetapi proses belajarnya.

Masalahnya, dalam budaya pendidikan modern, kata “gagal” sering kali terasa seperti cap permanen. Nilai rendah dianggap sebagai bukti bahwa seorang anak tidak pintar. Tidak lulus dianggap sebagai tanda bahwa seseorang tidak mampu. Padahal kemampuan manusia jauh lebih kompleks daripada angka yang tercetak di lembar hasil ujian.

Ironisnya, masyarakat sering mengagungkan kisah sukses setelah seseorang berhasil, tetapi lupa bahwa hampir setiap keberhasilan memiliki fase percobaan, kesalahan, dan kegagalan. Di sinilah gagasan herkansing menjadi relevan. Kesempatan ulang bukan sekadar prosedur administratif. Ia merupakan pengakuan bahwa manusia dapat berubah setelah mendapatkan pengalaman. Namun, kesempatan kedua juga tidak boleh berubah menjadi budaya “asal diberi kesempatan pasti lulus”. Jika evaluasi kehilangan standar, pendidikan justru kehilangan maknanya. Kesempatan ulang harus disertai ukuran yang jelas, pembelajaran tambahan, dan evaluasi yang objektif.

Dengan kata lain, kesempatan kedua bukan hadiah kelulusan. Ia adalah kesempatan untuk membuktikan kembali kemampuan. Menariknya, jejak bahasa Belanda ini juga memperlihatkan bahwa bahasa menyimpan sejarah cara suatu masyarakat berpikir. Kata-kata yang diwariskan tidak selalu sekadar benda tua dalam kamus. Di dalamnya dapat tersimpan konsep tentang sekolah, administrasi, hukum, pemerintahan, hingga cara manusia memperlakukan kegagalan.

Herkansing dan herexamen mungkin telah terdengar kuno. Tetapi gagasan yang dikandungnya justru tetap relevan. Sebab manusia bukan mesin yang sekali salah langsung dibuang. Dalam pendidikan, barangkali kita memang membutuhkan lebih banyak ruang untuk berkata: “Coba lagi.”

Bukan karena kegagalan tidak penting, melainkan karena kegagalan seharusnya menjadi bagian dari proses belajar. Jika pendidikan hanya mengajarkan bagaimana memperoleh nilai tinggi, tetapi tidak mengajarkan bagaimana bangkit setelah gagal, maka ada sesuatu yang hilang dari pendidikan itu sendiri. Pada akhirnya, warisan herkansing dan herexamen mengingatkan kita pada satu hal sederhana: ujian boleh memiliki batas waktu, tetapi kesempatan manusia untuk belajar tidak seharusnya berhenti hanya karena satu kegagalan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda