Kolom
Real or Cake Versi Berita: Saat Artificial Intelligence Mengaburkan Batas Asli dan Palsu
Pernahkah kamu menonton konten “Real or Cake?” dan merasa kesulitan untuk membedakan mana objek asli dan mana yang sebenarnya kue? Si pembuat kue mampu menciptakan ilusi yang begitu realistis, sampai-sampai objek yang tampaknya nyata, realitanya adalah sebuah kue.
Seiring dengan perkembangan teknologi, kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang tampak begitu nyata tidak lagi hanya bergantung pada keterampilan dan kreativitas manusia.
Artificial Intelligence (AI) kini mampu menghasilkan foto serta video yang menyerupai rekaman asli, bahkan tanpa perlu merekam peristiwa yang benar-benar terjadi.
Bayangkan jika ada video singkat yang memperlihatkan bencana, kerusuhan, atau pernyataan seorang figur publik, lewat di beranda media sosial kamu dan beredar luas seolah-olah video tersebut memang berdasarkan kejadian nyata.
Ketika video tersebut ternyata hasil manipulasi AI, persoalannya bukan lagi sekedar apakah kita ditipu.
Melainkan ada informasi yang berpotensi untuk dipercaya, dibagikan, bahkan dijadikan alasan untuk ‘bereaksi’ sebelum kebenarannya betul-betul diverifikasi.
Kalau dalam konten hiburan kita hanya perlu menebak mana yang asli dan mana yang palsu, bagaimana jika hal yang sama muncul, tetapi dalam wujud berita?
Menurut Cools (2022) dalam Cools & Diakopoulos (2026), dalam jurnalisme, AI generatif bisa digunakan untuk melaksanakan berbagai tugas di setiap tahapan proses peliputan, seperti pengumpulan, produksi, verifikasi, dan distribusi berita.
Masalahnya, dalam dunia jurnalistik, kekeliruan membedakan sesuatu yang asli dan palsu bukan sekadar permainan tebak-tebakan. Foto, video, dan rekaman audio merupakan elemen penting untuk membantu masyarakat dalam memahami suatu peristiwa.
Ketika elemen-elemen tersebut dapat diproduksi atau dimanipulasi oleh AI, para jurnalis dihadapkan dengan situasi yang kompleks, mereka perlu memastikan bahwa apa yang diberikan kepada publik benar-benar sesuai dengan kenyataan.
Di era digitalisasi, kecepatan menjadi salah satu tuntutan utama para jurnalis. Informasi bisa dengan sangat mudah disebar dalam hitungan menit, didukung dengan adanya teknologi AI yang semakin mempermudah produksi konten.
Ketika konten mampu diproduksi dan disebarkan secara cepat, konten tersebut berpotensi untuk menarik perhatian audiens. Maka prinsip jurnalisme harus menjadi pegangan bahwa menjadi yang pertama bukan berarti menjadi yang paling benar.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari karakteristik media baru, terutama virtual, di mana terdapat kecenderungan untuk menyebarkan informasi dengan cepat dan persaingan untuk mendapatkan perhatian audiens.
Jika sebuah redaksi mulai mengutamakan kecepatan tanpa melakukan pemeriksaan yang cukup, media justru membantu penyebaran informasi yang belum terverifikasi dan berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat.
Cools & Diakopoulos (2026) mengakui bahwa perkembangan teknologi memunculkan potensi ketegangan dengan etika jurnalisme, bagaimana teknologi telah membentuk alur kerja, konten, serta relasi dalam organisasi berita.
Lantas, bagaimana cara jurnalis mempertahankan kepercayaan publik ketika teknologi semakin canggih dalam menghasilkan konten yang terlihat nyata?
Jawabannya tidak semudah dengan menentang penggunaan AI secara keseluruhan, melainkan memastikan bahwa penerapannya tidak mengabaikan prinsip dasar jurnalistik.
Sehingga terdapat beberapa tahapan yang bisa diterapkan oleh jurnalis untuk menjaga kredibilitas berita serta kepercayaan publik.
Pertama, verifikasi harus menjadi prioritas. Setiap foto dan video perlu diperiksa keaslian, waktu, lokasi, serta konteksnya sebelum dipublikasikan. Jurnalis juga berperan sebagai gatekeepers yang menyeleksi informasi sebelum sampai ke publik
Kedua, transparansi penggunaan AI. Audiens perlu mengetahui jika suatu gambar atau video merupakan hasil rekayasa AI dan bukan merupakan dokumentasi asli.
Ketiga, keputusan editorial tetap berada di tangan manusia. AI dapat membantu mengolah informasi serta data, namun jurnalis dan editor tetap bertanggung jawab atas akurasi dan kelayakan berita.
Terakhir, kredibilitas harus diutamakan dibanding kecepatan dan jumlah interaksi. Engagement dan views memang penting, namun kepercayaan publik dibangun lewat informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, seperti tren “Real or Cake?”, sesuatu yang tampak nyata belum tentu mencerminkan kenyataan. Dalam dunia jurnalisme multimedia, AI dapat membantu produksi berita, tetapi foto, video, dan audio yang dihasilkannya tetap harus diverifikasi agar tidak menyesatkan publik.
Karena, kepercayaan publik tidak dibangun dalam semalam, justru lewat konsistensi berita yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan informasi di dalamnya.